Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 60 Perpisahan Ayana


__ADS_3

Dua minggu terakhir dijalani Ayana dengan baik. Dia membantu Robi untuk menjadi sekretaris hebat penggantinya dan mampu mambantu Farraz dengan baik. Ayana merasa puas dengan hasil kerja kerasnya membimbing Robi, begitu juga dengan Robi yang merasa senang karena bisa mendapat pujian demi pujian dari Farraz atas ketekunannya mempelajari setiap detail tugasnya dari Ayana.


Hari ini, merupakan kali terakhir Ayana berada di perusahaan. Farraz menyiapkan pesta perpisahan untuk Ayana di kantor. Acara itu sangat meriah, banyak karyawan yang ikut merayakan dengan membuat beberapa lomba, seperti lomba menyanyi karoke, lomba menebak kata, lomba makan cepat dan banyak lagi lomba lainnya. Acaranya sangat seru hingga mereka lupa inti dari acara ini adalah untuk mengucapkan salam perpisahan pada Ayana Yunita yang sudah sembilan tahun bekerja sama dengan mereka membangun perusahaan.


Ayana juga menyampaikan salam perpisahannya dan juga mengucapkan kata kata bijak yang bisa dijadikan oleh rekan rekannya sebagai acuan untuk terus semangat dalam bekerja. Kemudian, Ayana juga memberikan penghargaan berupa hadiah kepada karyawan rekan kerjanya yang dianggapnya pantas mendapatkan itu.


Kemudian, diakhir acara Ayana memberikan undangan pesta pernikahannya kepada satu persatu karyawan yang hadir di acara perpisahan itu. Saat mereka mendapat undangan itu, mata mereka membola, lalu menatap tajam pada Ayana yang kini berdiri berdampingan dengan Farraz. Untuk menjawab keterkejutan semua karyawan, Farraz menggandeng Ayana.


"Wah, sungguh tidak bisa ditebak." Ucap mereka.


"Jadi, selama ini mbak Ayana sudah menjadi istri pak Farraz?" Tanya Arumi yang masih belum percaya.


Ayana dan Farraz mengangguk bersamaan.

__ADS_1


"Omg. Saya hampir saja menjadi pelakor." Teriak Nurul yang berhasil membuat dirinya menjadi pusat perhatian.


"Saya menyukai pak Farraz diam diam, karena saya kira pak Farraz masih sendiri."


"Maafkan saya mbak Ayana."


"Kalian pasangan serasi. Saya mundur jadi pelakor." Nurul mengatakan itu dengan nada suara datar namun terdengar lucu ditelinga Farraz dan Ayana.


Sungguh Ayana merasa lega. Kini dia benar benar merasa menjadi wanita paling bahagia. Menjadi istri dari Farraz Ehsan membuatnya merasa menjadi wanita istimewa. Begitu juga sebaliknya. Farraz pun merasakan hal yang sama. Memiliki Ayana adalah hal paling indah dan istimewa dalam hidupnya.


"Terimakasih telah hadir dalam kehidupanku, Mas."


"Terimakasih sudah menerimaku dalam kehidupanmu, sayangku." Farraz memeluk mesra tubuh Ayana saat mereka hanya tingga berdua saja.

__ADS_1


Acara perpisahan itu telah usai. Semua karyawan kembali ke pekerjaan mereka masing masing. Sehingga Farraz bisa berduaan dengan Ayana di lantai paling atas gedung perusahaan. Sementara semua pekerjaan Farraz yang tidak terlalu banyak hari ini diambil alih oleh Robi sekretaris barunya.


"Mas, bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan anak untuk, mas." Pertanyaan itu tiba tiba saja keluar dari mulut Ayana.


"Anak itu adalah titipan, amanah untuk setiap pasangan suami istri. Jadi, jika memang kita tidak di amanahi anak, tidak apa. Yang terpenting ada kamu yang akan selalu menemaniku hingga menua bersama." Farraz mengatakan itu sambil memberikan kecupan dikening Ayana.


"Tapi anak itu penting, mas. Orang orang akan memojokkan aku kalau saja aku tidak bisa memberikan seorang Farraz Ehsan keturunan."


"Apa pentingnya mendengarkan kata orang orang. Kebahagiaan kita itu berasal dari diri kita sendiri, sayang. Jangan dengarkan kata orang orang. Kesempurnaan itu milik Allah. Manusia itu hanya bisa menjalani dan menerima semua ketetapannya. Jangan terlalu memusingkan perkataan orang lain. Ok."


Ayana mengangguk dan tersenyum bahagia. Dipeluknya erat pinggang suaminya dan menyenderkan wajahnya didada bidang suaminya. Sungguh nyaman rasanya dengan posisi itu.


"Semoga kita selalu bersama selamanya, Mas." Batin Ayana.

__ADS_1


__ADS_2