Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 61 Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Nih undangan dari Farraz." Via memberikan selembar kertas undangan pada Handi. Beberapa hari terakhir Handi selalu datang ke resto untuk sekedar makan dan curhat pada Via.


"Haruskah aku datang?" Menatap asal kertas undangan itu.


"Harus dong. Memberikan ucapan selamat pada orang yang kita dicintai dihari bahagianya, akan menjadi pengobat luka dihati."


"Menurut aku sih begitu. Tapi, kalau kamu merasa tidak sanggup untuk datang ke pesta mereka ya tidak usah dipaksakan." Lanjut Via.


"Aku ingin datang. Setidaknya untuk melihat wajah Ayana sekali lagi sebelum aku benar benar menghapus dia dalam hati dan pikiranku." Ucapnya serius.


"Nah gitu dong. Jadi laki itu mesti kuat."


"Patah hati terkadang mengajarkan untuk menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa dari sebelumnya."


"Lihat aku. Kisahmu tidak seperih kisahku, Han. Mudah untuk move on dari cinta sepihakmu itu. Asalkan kamu mau dan bertekad."


"Kamu mau membantuku?" Tanya Handi.


"Tentu jika aku bisa."


"Temani aku untuk datang ke pesta itu. Bukan sebagai kakak dari mempelai, tapi sebagai partnerku."


"Deal!" Handi mengulurkan tangan. Sebentar Via tersenyum, kemudian dia menyambut uluran tangan Handi.


"Deal!" Via merasa senang bisa membantu Handi. Begitu pun sebaliknya, Handi mulai merasa nyaman bersama Via yang selalu memberinya solusi saat menghadapi masalah percintaannya.


.


.


.


Dekorasi Aula hotel tampak sangat indah, elegan dan menyejukkan. Pelaminan tampak begitu indah saat kedua mempelai mulai melangkah menuju kursi pelaminan tersebut. Banyak pasang mata menatap kagum pada pasangan yang serasi itu.


"Mbak Ayana terlihat sangat cantik dan anggun." Imbuh Arumi yang baru tiba.

__ADS_1


"Mbak Ayana membuatku cemburu. Dia benar benar wanita yang paling beruntung." Lanjut Nurul.


"Menurutku pak Farraz yang beruntung memiliki istri secantik, sebaik dan seanggun mbak Ayana." Kali ini Robi yang memuji.


"Benar, mereka sama sama beruntung."


Tepukan yang meriah dihadiahkan untuk pasangan pengantin yang sudah tiba di kursi pelaminan mereka. Mc pun mulai memimpin acara.


"Pengantin pria dan wanita sudah hadir ditengah tengah kita."


"Sungguh pemandangan yang menyilaukan mata, memadang mereka membuatku cemburu. Betapa bahagianya mereka." Celoteh Mc sebelum mulai acara.


Tamu pun mulai berdatangan semakin banyak. Mereka kebanyakan Karyawan dan juga klien. Tentunya juga banyak dari para sahabat Papa dan Mama. Fikri bahkan hadir untuk sekedar menatap Ayana dari kejauhan, kemudian dia pergi lagi. Bahkan Ada Elsa dan suaminya yang juga sudah hadir untuk menjadi saksi kebahagiaan Farraz dan Ayana.


Maurin dan Amir suaminya pun datang untuk menghadiri acara bahagia adik mereka.


"Ayana tampak sangat bahagia ya, bang"


"Farraz lelaki hebat yang akan selalu membuat Ayana bahagia." Sambung Amir merasa percaya melepas Ayana ditangan yang tepat.


Rangkaian acara pun dimulai. Ada begitu banyak rangkaian acara yang disiapkan. Mulai dari datangnya penyanyi Rosa dan Bunga Citra Lestari. Kemudian, Papa dan Mama yang ikut berdansa bersama beberapa sahabatnya. Lalu dilanjut dengan Farraz yang menyanyikan lagu untuk Ayana.


"Yuhu, ayo mbak Ayana nggak usah malu malu. Anggap saja hanya kalian berdua yang ada di dunia ini." Ucap Mc.


Ayana tidak mau melakukan itu, karena terlalu memalukan menurutnya, tapi, Farraz tidak menerima penolakanan, sehingga dia sendiri yang akhirnya memasukkan potongan kecil kue itu kedalam mulut Ayana menggunakan mulutnya.


"Wuahahh... omg., so sweettt." Kehebohanpun terjadi. Ayana hanya memejamkan matanya saat merasakan bibir Farraz benar benar telah menyentuh bibirnya.


"Anak anak zaman sekarang, sangat berlebihan." Celoteh Papa dengan wajahnya yang tampak merona. Dia malu melihat Farraz yang menurutnya terlalu berani mencium bibir Ayana ditengah banyak orang.


Farraz selesai melakukan tugasnya. Ayana membuka kembali matanya dan hanya menunduk sambil tersenyum malu malu. Dia benar benar tidak menyangka Farraz akan berbuat seperti itu ditengah banyak pasang mata yang melihat.


Beruntungnya Mc sangat pintar mengalihkan suasana canggung nan membuat pengantin merona itu. Dia pun mulai meminta tembang lagu romantis dari salah satu penyanyi orkestra untuk dipersembahkan pada pengantin.


Kini Ayana dan Farraz sudah kembali ke kursi pelaminan mereka. Dan ada teman teman yang mengucapkan selamat, befoto bersama lalu mereka pamit pulang.

__ADS_1


"Selamat mbak Ayana." Elsa memeluk Ayana.


"Terimakasih sudah hadir El." Ayana pun memeluk Elsa. Lalu Elsa mengucapkan selamat pada Farraz diikuti oleh suaminya. Elsa dan suaminya baru menikah tiga hari yang lalu. Mereka menikah mendadak, atas desakan orangtua. Sehingga tidak sempat mengundang Farraz dan Ayana untuk datang kepernikahan mereka.


Setelah Elsa dan suaminya pergi. Handi datang bersama Via.


"Sayangku, selamat ya. Semoga bahagia dan menjadi keluarga yang harmonis selamanya." Ucap Via yang langsung memeluk adik iparnya itu.


"Terimakasih, kak."


"Kak Via datang bersama Handi?" Bisik Ayana penasaran. Via mengangguk dan tersenyum malu malu.


"Semoga kalian berjodoh." Lanjut Ayana berbisik. Alhasil, Via malah memukul pelan punggung adik iparnya itu. Bukan marah, tapi karena malu malu mau.


Via pun beranjak untuk memeluk Farraz. Sengaja mengalihkan perhatian Farraz pada Handi yang meminta tolong, karena dia ingin mengatakan sesuatu yang serius pada Ayana.


"Ayana. Selamat ya, aku akan berusaha ikut bahagia saat melihat kamu bahagia."


"Kamu pasti akan bahagia, Han. Maafkan aku." Ayana tertunduk merasa bersalah.


"Tidak apa, Yana. Jangan merasa bersalah padaku. Kita masih bisa menjadi sahabat, kan?" Tanya Handi dengan mata yang berkaca kaca.


"Tentu." Senyum tulus Ayana berikan untuk Handi. Berharap pria itu akan segera menemukan wanita yang terbaik untuk mendampinginya.


Handi pun selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya pada Ayana, kemudian dia beralih pada Farraz dan Via sudah berada di dekat Maurin dan Amir.


"Selamat ya Raz. Jangan pernah membuat Ayana terluka. Dia memilihmu untuk menjadi pelabuhan terakhirnya."


"Thank Han. Maaf karena aku lebih membutuhkan Ayana. Dan aku rasa, aku juga butuh kamu untuk menjadi kakak iparku." Bisik Farraz sambil tersenyum menggoda Handi.


"Semoga saja." Jawab Handi merasa malu.


Handi mulai merasa lega dan seperti rasa sakit hatinya telah pergi bersamaan dengan senyum hangat dari Farraz dan Ayana untuknya. Sebelum meninggalkan pesta, Handi pun menyempatkan menyapa Maurin dan suaminya.


"Apa sayang menyesal karena melepaskan Handi?" Bisik Farraz yang membuatnya mendapat cubitan manja dari Ayana.

__ADS_1


"Aku istrimu Farraz Ehsan. I love you, just you." Ucap Ayana dengan nada bicara manja. Farraz gemas hingga dia memeluk Ayana tanpa peduli orang orang yang merasa cemburu dan iri pada kemesraan mereka.


"Aku akan berusaha untuk selalu mesra pada istriku ini selamanya." Bisiknya yang membuat Ayana merona.


__ADS_2