Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 72 Tes kehamilan.


__ADS_3

Yana masih saja galau karena sudah sembilan hari telat. Akhirnya sepulang dari mengantar Irma, dia memutuskan untuk membeli satu tespeck dengan harga paling murah. Ayana pun pulang dengan hati yang berdebar debar.


"Hatiku, jangan terlalu berharap banyak ya." Gumamnya.


Setibanya dirumah, Ayana sholat asar terlebih dahulu, barulah kemudian dia mencoba alat tes kehamilan itu.


"Apapun hasilnya aku ikhlas ya Allah." Perlahan Ayana membuka matanya untuk melihat hasil pada alat tes kehamilan itu. Hasilnya sungguh mengejutkan Ayana.


"Garis dua!" Mata Ayana membola, ada air yang siap menetes dari pelupuk mata, tapi ditahannya karena takut alat itu salah.


"Hasilnya pasti salah karena harganya kan murah."


"Apa aku beli saja yang baru yang mahal?" Ayana bicara sendiri.


"Aku harus membuktikan kebenarannya."


Ayana melangkah menuruni anak tangga dengan keadaan raut wajahnya yang tampak bingung. Hadijah dan Mamat hanya bisa melihat dari dapur. Mereka tidak berani bertanya, karena mereka kira Ayana dan Farraz mungkin sedang bertengkar.

__ADS_1


Dia membeli di apotik obat yang lain dari sebelumnya. Dipesannya semua jenis tespeck mulai dari harga termurah hingga yang paling mahal dan paling bagus menurut rekomendasi petugas apotik. Semuanya berjumlah lima jenis alat tes kehamilan.


Begitu tiba di rumah, Ayana kembali menggunakan semua tespek itu dan kemudian melihat semuanya secara bersamaan. Hasilnya sama, semua tespeck itu garis dua.


"Ya Allah, benarkah ini?" Air matanya mulai menetes. Ayana pun sujud syukur. Betapa dia bahagia saat ini.


Azan magrib berkumandang. Ayana langsung sholat, dan dia lupa menyimpan hasil tesnya. Benda itu berjejer rapi atas nakas.


Farraz tiba di rumah saat Ayana sudah selesai sholat. Sayup terdengar ditelinganya suara Ayana sedang mengaji.


"Assalamualaikum." Pelan pelan sekali Farraz membuka pintu kamar. Dia langsung menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.


Perlahan Farraz mengambil satu tespeck bergaris dua itu, lalu mengambil lagi dan lagi. Dia menatapa penasaran pada Ayana yang baru saja mengakhiri bacaannya.


"Mas sudah pulang?" Menoleh pada Farraz yang menatap padannya sambil memegang tespeck.


"Sayang, ini punya kamu kan?"

__ADS_1


Ayana mengangguk, air matanya mulai menetes.


"Alhamdulillah ya Allah." Farraz langsung memeluk erat tubuh istrinya. Mereka menangis haru malam itu.


"Mas kita berhasil."


"Iya sayang, kita berhasil. Terimakasih sayang, karena selalu sabar dan berjuang demi bisa mendapatkan buah hati kita."


"Mas yang selalu ada untukku, mas yang membantuku berjuang. Ini hasil dari kesabaran kita, Mas."


Farraz mengeratkan pelukannya. Lalu dia mencium Ayana diseluruh wajahnya, hingga akhirnya pindah untuk mencium perut Ayana yang masih datar.


"Hallo baby, anak Ayah dan Bunda. Terimakasih sudah berjuang untuk bisa singgah di rahim bunda." Farraz bicara pada perut datar Ayana seakan dia bicara pada bayinya.


"Ayah sama bunda akan menjaga baby dengan baik. Ayah sama bunda akan menunggu dengan sabar sampai kita bisa bertemu ya sayang." Farraz mengatakan itu diikuti dengan air mata yang mengalir.


Ayana pun juga kembali menangis terharu melihat betapa antusiasnya Farraz dengan kehamilannya.

__ADS_1


"Mas sudah azan isa. Kita sholat dulu ya, mas yang jadi imam. Aku sama baby jadi makmum." Ucap Ayana sambil mengelus lembut wajah suaminya.


Mereka pun mengambil wudu dan melaksanakan sholat berjamaah, mereka bahkan menyampaikan doa dan rasa syukur mereka karena diizinkan untuk menjaga calon bayi yang kini sudah singgah dirahim Ayana.


__ADS_2