
Ayana begitu lahap menyantap coklat cake yang amat sangat lembut, gurih dan juga manis. Sementara Fikri malah asik menatap wajah Ayana yang terlihat menggemaskan saat makan yang begitu lahap.
"Apa kamu tidak mengingatku?" Tanya Fikri.
Pertanyaan itu membuat Ayana menghentikan mulutnya dari mengunyah cake yang lembut itu.
"Maksud, mas Fikri?"
Fikri tersenyum manis sebelum menjawab pertanyaan Ayana.
"Kita pernah bertemu tepat sehari sebelum aku menikah lima tahun yang lalu." Ucapnya.
Pernyataan itu membuat mata Ayana melotot kaget. Dia tidak merasa pernah bertemu Fikri sebelumnya.
"Kamu pasti lupa. Hari itu adalah hari saat Farraz dilantik menjadi Direktur Utama dan kamu hampir terlambat datang ke Perusahaan, karena menabrak mobilku yang tiba tiba berhenti mendadak." Fikri menceritakan kronologi pertemuan awal mereka.
"Hhaaa… aku ingat. Jadi, waktu itu yang aku tabrak mobil mas Fikri?" Tanya Ayana sambil mengingat kejadian itu.
"Iya. Dan aku jatuh cinta pandangan pertama padamu. Tapi, sayangnya aku harus segera menikah keesokan harinya, sehingga aku membiarkan kamu pergi begitu saja." Ucapnya agak merasa menyesal.
Ayana hanya tersenyum getir mendengar penuturan Fikri yang terdengar pro seperti buaya darat tingkat gold.
'Aduh hay, apa setelah keluar dari sarang singa, aku akan masuk kesarang buaya?' Batinnya.
Ayana menghirup lagi minuman dihadapannya untuk menetralkan pemikirannya.
"Datanglah padaku saat Farraz melepaskanmu. Karena aku sangat mencintaimu Ayana. Bahkan jika kamu bersedia hidup denganku, aku sanggup merebutmu dari Farraz." Ucapnya.
Fikri menatap serius pada Ayana yang merasa tidak nyaman dengan tatapan dan juga ucapan Fikri padanya.
Drriitttt…
Handi menelpon Ayana.
"Jangan dijawab!" Perintah Fikri.
"Kenapa? Ini Handi loh, sahabat mas Fikri." Ucap Ayana memberitahukan siapa yang menelponnya.
"Aku mohon jangan dijawab. Aku masih ingin mengobrol berdua denganmu Ayana." Ucapnya bermohon.
Ayana menggelengkan kepala karena heran melihat Fikri bermohon padanya, lalu dia menjawab panggilan dari Handi.
"Han, aku di cafe. Kamu langsung ke sini saja." Sahut Ayana melalui handphonennya.
Raut wajah Fikri berubah menjadi lesu dan terlihat agak kesal karena Ayana meminta Handi untuk menghampiri mereka. Sementara Fikri masih ingin berduaan saja dengan Ayana.
__ADS_1
"Mas Fikri seharusnya tidak bersikap seperti ini padaku. Aku wanita yang sudah menikah loh, Mas." Jelas Ayana.
"Persetan dengan pernikahan pura pura kalian. Kamu pikir aku tidak tahu tentang Farraz yang tidak pernah sekalipun menganggap kamu ada di kehidupannya." Rutuknya kesal tidak terima dengan pernyataan Ayana.
"Lebih baik akhiri hubunganmu dengan Farraz dan datanglah padaku. Jika tidak, maka mungkin aku akan merebutmu secara paksa. Camkan itu." Fikri mengancam Ayana.
Ayana hanya terperangah kaget mendengar ancaman Fikri diikuti dengan mimik wajahnya yang tampak sangat menyeramkan. Untungnya Fikri langsung pergi dari cafe setelah mengancamnya.
"Yana!" Teriak Handi yang melangkah menuju mejanya.
"Han, kok lama?" Tanya Ayana dengan raut wajah merah.
"Kamu kenapa, Yana? Apa kamu sakit?" Tanya Handi khawatir.
Ayana menggeleng dan mencoba tersenyum. "Aku hanya lelah saja kok." Kilahnya.
"Ya udah, yok kita pulang." Ajaknya.
Anggukan Ayana menjadi jawaban dari ajakan Handi untuk mengajaknya pulang.
Dengan sangat hati hati Handi berusaha membantu Ayana untuk melangkah menuju mobilnya yang diparkir didepan cafe. Handi tidak menyentuh Ayana sama sekali, dia hanya mengawasi langkah Ayana dengan teliti dan terus waspada agar Ayana tidak jatuh.
"Besok kamu istirahat saja di hotel. Biar aku yang mengurus semuanya." Ujar Handi.
"Nggak, pokoknya besok kamu istirahat." Ucap Handi menegaskan.
Handi membukakan pintu mobil untuk Ayana. Dia juga meletakkan telapak tangannya diatas kepala Ayana agar Ayana tidak terhantuk saat masuk ke mobil.
'Aku mulai takut dengan semua kebaikan dan perhatianmu, Han. Aku takut tidak bisa membalasnya. Aku juga takut kamu akan sangat kecewa saat mengetahui kenyataan bahwa aku sudah menjadi istri dari pria lain.' Batinnya.
Ayana terharu dengan semua perlakuan lembut Handi padanya. Tapi, dia takut pada akhirnya handi hanya akan terluka olehnya.
...🍀🍀🍀...
Sejak sore Elsa menunggu Farraz menjemputnya di depan gedung apartemennya. Dan sekarang sudah pukul delapan malam, Farraz masih belum juga kelihatan.
"Apa mungkin dia sangat sibuk?" Ucap Elsa yang berniat ingin kembali ke apartemennya.
Tinn, tinnn...
Suara klakson mobil Farraz terdengar saat kaki Elsa mulai melangkah masuk. Dia pun menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan tersenyum melihat Farraz sudah datang menjemputnya.
"Lama ya, nunggunya?" Tanya Farraz, menghampiri Elsa.
"Iya lah lama." Ujarnya merajuk.
__ADS_1
"Hari ini benar benar melelahkan, sayang. Banyak banget hal yang harus diselesaikan dan dibahas dengan semua rekan bisnis dan juga teman teman Papa dari berbagai perusahaan."
Farraz menjelaskan penyebab keterlambatannya menjemput kekasihnya itu.
"Aku tahu. Aku juga menebaknya seperti itu." Ucap Elsa.
Dia melingkarkan kedua tangannya di lengan Farraz. Lalu mereka melangkah menuju mobil Farraz.
"El, sepertinya aku tidak bisa membawamu ke rumahku." Ungkap Farraz saat mereka sudah berada di mobil dan siap untuk berangkat.
"Kenapa, Raz?" Tanya Elsa agak kesal.
Farraz tidak langsung menjawab, dia terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban yang tidak akan membuat Elsa merasa sedih dan tersakiti.
"Bagaimana kalau disini saja. Seperti biasa, kita bisa menghabiskan waktu berduaan di apartemen kamu." Bujuk Farraz sambil membelai rambut Elsa.
"Tidak usah, Raz. Lebih baik kamu pulang. Aku sudah tidak mood mengobrol denganmu. Aku merasa seperti wanita jahat yang berselingkuh dengan suami wanita lain. Aku muak, aku capek." Rutuknya.
Elsa langsung keluar dari mobil dan melangkah masuk menuju apartemennya. Sedangkan Farraz, hanya terdiam sejenak, kemudian dia melajukan mobilnya memacu jalanan dalam keadaan pikiran kosong dan hati yang berantakan. Dia memacu mobilnya untuk kembali ke rumahnya.
Dan Elsa kini menangis sejadi jadinya. Dia merasa sangat sakit, terlebih saat Farraz benar benar memilih pulang dan tidak mengejarnya sama sekali.
"Kamu selalu seperti ini, Raz. Kamu sanjung aku hingga aku merasa diratukan, lalu kamu hempaskan seakan aku tidak berarti sama sekali dalam hidupmu. Aku benci kamu Raz." Makinya dalam tangisan.
Farraz sudah tiba dirumahnya. Dia langsung menuju kamarnya.
"Aaarrrggggghhh…" Teriaknya sambil membanting handphonenya ke dinding.
Handphone itu hancur dan tidak terselamatkan lagi.
"Kacau, semuanya berantakan!" Teriaknya lagi sambil membanting tubuhnya keatas tempat tidurnya.
Sementara, Hadijah dan Mamat hanya bisa saling berpandang pandangan dan saling bertanya sambil berbisik saat mendengar Farraz yang tiba tiba mengamuk.
"Selama nyonya nggak ada, tuan jadi aneh. Semalam dan pagi tadi terlihat sangat bahagia, lalu sekarang malah mengamuk." Ucap Hadijah merasa heran pada majikannya itu.
"Mungkin kamu harus menelpon Nyonya dan ceritakan semua tentang Tuan. Gitu lo mbak, menurutku." Saran Mamat.
"Tumben pintar, Mat." Pujinya.
"Memang aku selalu pintar toh, mbak." Teriak Mamat mengikuti langkah Hadijah menuju ruang belakang.
Malam ini, adalah puncak kegalauan. Elsa merasa dikhianati dan merasa muak dengan semua kekecewaan yang selalu Farraz berikan untuknya. Dan Farraz merasa dirinya adalah laki laki terburuk yang bahkan tidak mampu melepas Ayana demi hidup bersama dengan kekasih yang dicintainya.
Di Singapur pun, Ayana sedang merasakan galau yang amat menyiksa. Dia merasa takut pada ancaman Fikri, namun hatinya sangat berat untuk menerima kehadiran Handi dalam hidupnya. Semua itu karena Ayana ingin menjaga pernikahan dengan Farraz agar tidak berakhir sia sia. Ayana benar benar ingin menua bersama dengan Farraz, meski dia belum merasakan cinta untuk Farraz saat ini sama sekali. Tapi, Ayana ingin menjadi istri yang sholehah dan ingin menjadi bidadari syurga untuk suaminya itu.
__ADS_1