Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 40 Hanya kamu.


__ADS_3

Ayana dan Handi sudah mengatur penerbangan mereka ke Jakarta siang ini. Dan sebelum benar benar kembali ke Jakarta, mereka sudah berpamitan pada klien dan juga sudah memberitahukan hal itu pada Farraz.


Kini Ayana baru saja selesi sholat zuhur. Dia langsung berkemas, meski masih menggunakan mukenanya.


Tok, tok…


Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar sana.


"Siapa!" Seru Ayana dari dalam kamar.


"Aku Farraz." Jawabnya dari luar.


Mendengar suara itu, Ayana pun langsung membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Farraz masuk. Dan saat Farraz masuk, dia langsung menutup kembali pintu kamar Ayana.


"Kamu yakin mau ikut pulang sekarang bersama Handi?" Tanya Farraz yang kini sudah duduk di pinggir tempat tidur Ayana.


"Iya. Aku ingin ikut menjenguk Mamanya. Di bilang Mamanya akan dioperasi lagi malam ini." Jawab Ayana jujur.


"Apa kamu tidak ingin mengajakku juga?"


Pertanyaan itu membuat Ayana menghentikan sejenak aktivitas mengemas pakaiannya.


"Apa kamu mau ikut pulang bersama kami?" Ayana balik bertanya.


Farraz tidak langsung menjawab. Dia malah melangkah mendekati Ayana, hingga sangat dekat dengan Ayana. Dan hal itu membuat jantung Ayana berdegup kencang.


"Apa kamu mencintai Handi?" Tanya Farraz menyelidik.


Mendengar pertanyaan itu, membuat Ayana mendorong tubuh Farraz agar menjauh darinya.


"Jangan ikut campur urusan pribadiku, Raz. Bukankah itu perjanjian kita."


"Tapi, kamu selalu bertanya tenyang Elsa padaku?" Protesnya.


"Aku tidak selalu bertanya, Raz. Kamu yang selalu menceritakan hal sekecil apapun tentang Elsa padaku. Apa kamu lupa?" Menatap tajam pada Farraz.


Farraz menghela napas, dia mencoba menahan emosinya karena sebenarnya dia cemburu dengan kedekatan Ayana dan Handi.


"Beri aku waktu tiga bulan, Ayana." Ucapnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Tanya Ayana bingung.


"Beri aku waktu tiga bulan untuk belajar menerima kamu sebagai istriku. Jika dalam waktu tiga bulan aku tetap tidak bisa menerima kamu, maka kamu boleh memutuskan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya." Ucapnya.


Sejenak Ayana terdiam. Dia tidak menyangka Farraz akan secepat ini mengatakan hal itu. Dalam bayangan Ayana, dia sendirilah yang akan mengatakan kalimat itu pada Farraz.


"Baik, aku beri kamu waktu tiga bulan. Tapi, dengan beberapa syarat." Tantang Ayana.


"Apa syaratnya?" Tanya Farraz terlihat pasrah.


"Pertama, jangan ada lagi pertengkaran antara kita. Kedua, ekspresikan perasaan kita secara nyata tanpa tipu tipuan. Ketiga, kita berdua harus saling berkata jujur tentang perasaan yang kita rasakan. Meski kejujuran itu mungkin menyakitkan, kita harus tetap saling jujur." Ucap Ayana menegaskan syarat yang diinginkannya.


Dan sebenarnya persyaratan itu sudah Ayana siapkan jauh hari, untuk melancarkan misi membuat Farraz jatuh cinta padanya.


"Baik. Aku setuju dengan syarat itu."


Farraz menyetujui semua syarat yang diajukan Ayana.


"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Farraz ragu.


Tangan dan kaki Ayana gemetar, diikuti dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Dia terkejut mendengar permintaan Farraz yang tidak pernah terpikirkan olehnya sama sekali.


"Boleh." Ucap Ayana sedikit berteriak.


Dia bahkan langsung memejamkan matanya saat mengatakan itu. Dia merasa malu dan tidak percaya bahwa Farraz akan benar benar memeluknya.


Senyuman terlihat dibibir Farraz saat melihat Ayana sudah memejamkan matanya. Dan tanpa pikir panjang, Farraz langsung melangkah mendekati Ayana dan meraih tuhuh Ayana masuk dalam pelukannya.


'Detak jantungmu sangat kencang dan cepat, Ayana.' Ucap Farraz.


Dia memeluk tubuh Ayana dengan pelukan hangat dan dirasa sangat tulus oleh Ayana. Dia bahkan merasa nyaman dalam pelukan itu, sehingga detak jantungnya perlahan melambat hingga kembali normal.


'Andai kamu tahu, Raz. Di setiap doaku di sepertiga malamku, aku hanya meminta kepada Allah, agar kamu menjadi suamiku didunia ini hingga akhirat kelak. Aku hanya menginginkan kamu, Farraz Ehsan.' Ungkap Ayana dalam hatinya.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Handi, Ayana dan Farraz tiba di bandara Jakarta. Handi langsung menuju rumah sakit untuk menemui Mamanya. Ayana belum bisa ikut Handi dengan alasan dia ada hal penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Dan Ayana berjanji akan menyusul sebelum Mamanya Handi di operasi.


Padahal alasan Ayana belum bisa ikut Handi, sebenarnya karena Irma dan Eva sudah menunggu kedatangannya.

__ADS_1


"Menantu Mama!" Teriak Irma sambil berlari mengejar Ayana.


Untungnya, Handi sudah tidak ada di sana. Jika masih ada, maka rahasia mungkin akan terbongkar.


"Mama."


Ayana memeluk tubuh wanita baik itu. Dia adalah wanita asing yang mau memberikan kasih sayang tulus seperti ibu kandung untuk Ayana.


"Anak Mama baik baik saja, kan?" Memeriksa seluruh tubuh Ayana.


"Yana baik baik saja kok, Ma." Ucap Ayana sambil kembali memeluk Irma.


"Mama khawatir kamu disakiti Fikri. Maafkan Mama ya, sayang. Mama nggak tau kalau Fikri bisa berbuat seperti itu sama kamu." Ucapnya merasa bersalah.


Ayana terkejut mendengar ucapan Irma. 'Farraz memberi tahu Mama tentang mas Fikri?' Pikirnya.


Mata Ayana menatap tajam penuh tanya pada Farraz. Tapi, Farraz malah berpura pura seakan tidak tahu apa apa.


"Semua ini karena kegagalan Mama. Mama gagal mendidik anak Mama. Maafkan Mama, Yana." Irma merasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.


"Ma, Yana baik baik saja kok. Lagian, mas Fikri sebenarnya tidak berniat berlaku kasar pada Yana. Mungkin mas Fikri sedang melampiaskan rasa kesalnya karena mungkin dia punya masalah yang tidak mampu diatasinya sendiri, Ma." Ucap Ayana mencoba menenangkan Irma yang merasa kecewa pada dirinya sendiri karena merasa gagal mendidik putra sulungnya dengan baik.


"Tidak, Yana. Fikri memang seperti itu. Dia itu hanya bersembunyi dibalik topengnya sebagai seorang novelist." Sambung Via.


Ayana tidak menanggapi Via, dia masih terus mencoba menenangkan Irma.


"Ma, pulanng yuk. Capek loh ini!" Seru Farraz yang langsung melangkah menuju mobil.


Via juga mengikuti langkah Farraz dengn membawakan koper milik Ayana.


"Mama jangan sedih, dong." Ayana menghapus air mata di ujung mata Irma.


"Sekarang, kita pulang dulu. Kita lanjut ngobrolnya dirumah saja." Bujuk Ayana.


"Iya, kita pulang sekarang. Menantu Mama ini pasti kecapek an." Mengelus lembut kedua pipi Ayana.


Lalu, mereka pun berjalan bergandengan menuju mobil. Dan sesampainya di mobil, Irma duduk di depan. Via menyetir mobil, karena memang itu mobilnya. Sementara, Farraz dan Ayana duduk di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan, Irma dan Via terus mengajak Ayana mengobrol. Bahkan sesekali mereka tertawa saat ada pembahasan yang terdengar lucu. Sedangkan Farraz sejak tadi hanya diam dan terus memejamkan matanya. Sampai akhirnya kepala Farraz jatuh tepat di bahu Ayana.

__ADS_1


Hal itu membuat Ayana terkejut dan merasa canggung. Tapi, Irma dan Via malah tersenyum senang dan meminta agar Ayana membiarkan Farraz tertidur dibahunya.


__ADS_2