Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 55 Ayam geprek sambal ijo.


__ADS_3

Mobil mereka berhenti di depan butik pengantin. Mata Ayana hanya membola melihat betapa indahnya gaun gaun pengantin yang dipajang di manekin itu. Dia bahkan sampai membayangkan dirinya memakai salah satu gaun idah itu.


"Sayang, kok malah melamun, ayo turun." Farraz sudah berdiri disampingnya setelah membukakan pintu mobil untuk kesayangannya itu.


"Kita mau ngapain disini?"


"Siapa yang mau nikah, mas?"


Tidak satupun pertanyaanya yang dijawab. Farraz hanya terus berjalan sambil menggandeng pinggang istrinya itu hingga tiba di dalam butik itu dia juga masih terus menggandeng Ayana tanpa peduli dengan senyam senyum dari karyawan butik.


"Farraz... welcome my honey, my boy." sambut wanita cantik yang tampak seumuran dengan Farraz. Wanita itu sukses membuat Ayana cemburu saat Farraz yang tadi terus menggandengnya langsung melepaskan tubuh Ayana dan dia langsung memeluk wanita itu. Farraz dan wanita itu tampak akrab, bahkan saling cipika cipiki. Sungguh mengesalkan bagi Ayana.


"Kanaya ini Ayana my wife." Farraz kembali menggandeng Ayana.


"Sayang, ini Kanaya sepupu aku. Dia pemilik butik ini."


"Your wife? Omg… kapan lo nikah Raz, kok gue nggak diundang." Ucapnya tidak percaya jika Ayana benaran istri Farraz Ehsan.


"Ceritanya panjang. Intinya dia istri gue. Dan kita kesini untuk mendapatkan gaun pengantin yang sangat indah buat istri tercantik gue ini." Ujar Farraz yang terus membanggakan Ayana dan itu membuat Ayana senyum merona. Kecemburuannya hilang seketika saat Farraz menyebut dirinya istri.


"Gue punya banyak koleksi gaun cantik untuk yang berhijab. Coba deh kalian lihat dulu katalog ini, siapa tahu ada yang disukai…"


"Ayana Yunita." Sahut Farraz saat Kanaya lupa siapa nama Ayana.


"Ya maksudnya, Ayana."


Mereka pun melihat desain gaun gaun indah khusus untuk hijaber dan akhirnya Ayana tertarik pada gaun berwarna biru langit dengan payetnya yang putih bak awan. Gaunnya sangat indah sekali, Ayana sangat menyukainya.


"Pilihan yang tepat. Mau langsung memcobanya?" Tanya Kanaya.

__ADS_1


Ayana tidak langsung menjawab, terlebih dahulu dia menatap Farraz sebagai pertanda dia meminta persetujuan suaminya itu.


"So sweet." Goda Kanaya saat merasa Ayana begitu manja dan patuh pada Farraz.


"Iya. Langsung di coba saja." Ujar Farraz.


Kanaya membawa Ayana keruang ganti. Dia membantu Ayana memakai gaun itu. Setelah siap, Kanaya membawa Ayana untuk diperlihatkan pada Farraz.


"Farraz, lihatlah betapa cantik dan anggunnya istrimu."


Farraz menatap Ayana tanpa berkedip, sungguh gaun itu benar benar indah di tubuh Ayana.


"Ok. Fix gaun ini untuk pesta pernikahan gue." Farraz langsung setuju tampa bertanya lagi pada Ayana, karena sudah sangat jelas Ayana menyukai gaun itu dari ekspresi wajahnya.


Setelah pemilihan gaun, mereka pun mampir di tempat percetakan undangan. Farraz langsung memilih desain kertas undangan berwarna gold, tampak elegan dan belum banyak yang menggunakan desain itu. Farraz juga sudah menentukan tanggal pesta pernikahan mereka yang akan diadakan tiga minggu lagi. Tidak lupa Farraz juga meminta tanggal akad mereka ditulis dalam kertas undangan itu.


Undangan sudah selesai di urus, kini Farraz membawa Ayana ke hotel bintang lima.


"Mau membooking Aula tempat pesta kita nanti, sekalian kita menginap di kamar hotel ini. Mas sudah memesan kamar khusus untuk pengantin." Bisiknya.


"Tapi, aku nggak bawa barang seperti baju dan perlengkapan lainnya, Mas."


"Kita pulang aja dulu, ambil pakaian gitu." Celetoh Ayana yang berjalan mengekor dibelakang Farraz.


"Untuk apa pakaian, kita tidak butuh pakaian malam ini, sayang." Bisiknya sambil merangkul Ayana dipinggang. Mendengar bisikan itu membuat Ayana merinding takut, geli dan juga merasa ucapan suaminya sangat memalukan.


"Kita habiskan malam ini tanpa pakaian dan tanpa memejamkan mata semalaman. Suamimu ini sangat candu akan dirimu sayangku." Bisiknya lagi menggoda Ayana. Nyaris Ayana melepaskan diri dari rangkulan suaminya, tapi tangan Farraz begitu kokoh merangkulnya sehingga dia tidak bisa lepas dan hanya bisa pasrah.


Mereka tiba di Aula besar hotel yang memang biasa disewakan untuk pesta pernikahan para artis, ataupun orang orang kaya. Nah kali ini Farraz yang membookingnya untuk pesta yang akan dilaksanakan tiga minggu lagi.

__ADS_1


"Hampir beres, sayang."


"Masih ada lagi?" Tanya Ayana yang hanya mengikuti tanpa berkomentar apapun.


"Masih dong sayang. WO nya belum, MUA nya juga belum. Semuanya harus kita pilih yang terbaik." Ucapnya bersemangat.


"Mas dari tadi mempersiapkan semua ini, memangnya Mama sama Papa sudah tahu soal ini semua?"


"Belum."


"Lah gimana kalau Mama sama Papa nggak setuju dengan tanggal yang sudah mas siapkan?"


"Tidak mungkin mereka tidak setuju sayang. Mereka akan sangat bahagia dan merasa paling bahagia di dunia saat mendapat undangan pesta pernikahan kita nanti." Farraz menarik tubuh Ayana mendekat padanya. Lalu mereka naik ke lantai atas di mana kamar yang telah di pesan Farraz berada.


Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit sore ini. Ayana berbaring malas di atas kasur yang terdapat kelopak bunga mawar merah dan handuk yang dibuat mirip angsa kembar membentuk hati. Sedangkan Farraz pergi keluar untuk membeli makan malam. Ayana menolak untuk makan makanan hotel, dia ingin makan ayam geprek sambal ijo.


Disinilah Farraz saat ini, terjebak antrian panjang untuk membeli ayam geprek pesanan istrinya.


"Memang ini ayam gepreknya enak banget ya bang, sampai segini banyak yang ngantri?" Tanya Farraz pada seorang lelaki yang juga ikut mengantri di depannya.


"Ini yang paling enak, bang. Apa lagi sambal ijo nya. Wuah mantap pol pokoknya."


"Kalau datang ke mari jam delapan atau sembilan malam, jangan harap kebagian, karena biasanya jam segitu sudah ludes semua ayam gepreknya." Tuturnya semangat.


Farraz hanya mengangguk dengan senyum tipisnya. Kakinya mulai terasa pegal karena sudah mengantri hampir setengah jam dan belum juga tiba gilirannya.


"Awas saja kalau ternyata rasanya tidak enak. Aku akan mendiamkan Ayana sepanjang malam." Batinnya.


"Lagian punya selera aneh aneh, disuguhkan makanan lezat hotel bintang lima punya, malah milih makanan pinggir jalan nggak jelas gini."

__ADS_1


"Ayam kok digeprek!" Teriaknya dalam hati sangking bosennya mengantri yang sudah terlalu lama menurutnya.


__ADS_2