Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 22 Benci atau Cemburu


__ADS_3

Dengan langkah penuh kebahagiaan, Nurul berjalan menuju ruangan Farraz.


"Eehmm... haaahhh." Berdehem dan mengecek aroma napasnya.


Tok, tok…


"Masuk!" Seru Farraz dari dalam.


Sambil tersenyum, Nurul membuka pintu ruangan itu dan langsung melangkah menuju meja kerja Farraz.


"Ada apa, Nurul?" Tanya Farraz dengan ramah.


"Saya mau memberikan hardisk ini." Menyodorkan hardisk pada Farraz.


Farraz menoleh. "Kenapa hardisk ini ada pada kamu?"


Dia mengambil alih hardisk itu dari tangan Nurul.


"Pak Handi menitipkan pada saya. Dia meminta saya memberikan hardisk ini pada pak Farraz." Jawab Nurul agak terbata.


Tangannya saling bertautan dan terlihat keringat dingin didahinya. Dia tidak percaya akan bicara langsung sedekat ini dengan Farraz, sosok pria yang menjadi idamannya sejak pertama bekerja di perusahaan ini.


"Pak Handi menitipkan ini sama kamu?" Tanya Farraz.


"Ini hardisk milik Ayana. Kenapa bisa ada pada pak Handi?" Menatap serius wajah merona Nurul.


"Pak Handi bilang mbak Ayana sudah pulang. Mbak Ayana ada urusan penting yang mengharuskan dia pulang lebih awal. Jadi, sebelum pulang, mbak Ayana menitipkan hardisk itu pada pak Handi untuk diberikan pada pak Farraz." Tuturnya menjelaskan.


Farraz mengangguk paham. Lalu, dia memberi kode agar Nurul keluar dari ruangannya.


"Baik, pak Farraz. Selamat beraktivitas kembali." Ucap Nurul, lalu dia melangkah pergi meninggalkan ruangan Farraz.


Setelah Nurul menghilang dari pandangannya, Farraz langsung menelpon bagian pengawas monitor cctv.


"Tolong kirimkan rekaman cctv mulai dari ruangan saya sampai ke lobi. Waktu rekaman yang satu jam terakhir.'' Ucapnya melalui sambungan telepon.


"Apa dia baik baik saja?" Ujarnya.


Farraz terlihat khawatir. Ini bukan kali pertamanya khawatir pada Ayana. Bahkan sejak pertama Ayana berkerja dengannya saja, dia sudah mengkhawatirkan Ayana. Tapi, dia tidak pernah memahami atas dasar apa dia khawatir pada Ayana. Karena dia selalu sibuk untuk menolak Ayana yang sudah ada tempat khusus dihatinya, hanya karena alasan dia ingin menikah dan mencintai seorang gadis yang masih dara dan maksimal seumuran dengannya. Dia tidak mau mencintai ataupun sampai menikah dengan wanita yang lebih tua darinya. Terlebih, Ayana memiliki dua hal yang mustahil untuk mendapatkan hatinya. Yaitu, Ayana jauh lebih tua darinya dan Ayana juga sudah pernah menikah sebelumnya.

__ADS_1


Sehingga, setiap kali dia khawatir atau cemburu pada Ayana, dia melampiaskannya dengan memarahi Ayana. Dan hal itu juga yang membuat Ayana berpikir untuk berhenti kerja setiap harinya.


Ddrriiitt…


Suara notif di Handponenya. Itu pertanda, rekaman cctv yang dimintanya sudah masuk ke handphone miliknya.


Segera saja Farraz memutar rekaman itu. Dimulai dari saat Ayana berlari keluar dari ruangannya. Ayana terlihat basah dan berjalan dengan pincang, karena kaki sepatunya patah.


"Oh God. Apa yang sudah aku lakukan pada Ayana." Menyesali perbuatannya.


Video berlanjut, Ayana mengambil tas diatas meja kerjanya, lalu berlari menuju lift. Saat di Lift Ayana hanya berdiri diam, pandangannya juga terlihat kosong.


"Kenapa dia tidak menangis? Kenapa dia tidak pernah sekalipun memperlihatkan kerapuhannya, bahkan saat dia sendirian sekalipun." Ucap Farraz menatap khawatir wajah Ayana melalui layar handphonenya.


Lalu, saat keluar dari lift, Ayana bahkan melangkah dengan percaya diri, meski dalam keadaan berjalan pincang dan baju yang basah, hingga menetes dilantai mengikuti arahnya.


"Apa dia benar benar terluka?" Tanya Farraz mencoba menebak.


"Jika memang dia terluka, kenapa dia tidak menangis? Bukankah wanita akan menangis saat merasa dunia tidak adil padanya? Tapi kenapa dia tidak menangis sama sekali!" Rutuknya kesal.


Farraz terlihat seperti sedang memaki karakter dalam film atau drama yang sedang ditontonnya.


"Kenapa selalu Handi. Kenapa dia selalu tersenyum pada Handi!" Teriak Farraz yang berakhir menghantamkan tinjunya ke meja.


Untungnya tidak ada yang melihat itu. Karena sebelum menonton rekaman cctv itu, Farras menekan tombol kaca mode gelap. Sehingga tidak ada siapapun yang bisa melihat apa yang dilakukannya di dalam ruangannya itu.


...🍀🍀🍀...


Irma mondar mandir menunggu kabar dari Hadijah yang tidak kunjung menelponnya.


"Apa sebaiknya aku langsung ke sana saja, ya?" Berencana untuk langsung menemui Ayana.


"Tapi, aku rasa Ayana butuh waktu sendiri. Aku tidak mau menjadi mertua yang kesannya terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka." Mengurungkan niatnya untuk datang kerumah Ayana.


"Ini Hadijah juga kenapa nggak ngasih kabar?" Rutuknya kesal.


Dia akhirnya duduk disofa dengan merebahkan punggungnya disana. Sebentar dia memejamkan mata, membayangkan saat saat Farraz menarik paksa tangan Ayana tadi di kantor.


"Kira kira apa yang Farraz lakukan sama Ayana. Hadijah bilang dia pulang dalam keadaan basah kuyup dan tanpa sepatu. Ap Farraz menyiksanya dengan memasukkan Ayana kedalam kolam?" Menggenggam erat kedua tangannya karena kesal membayangkan jika benar Farraz melakukan hal itu pada Ayana.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Disana tidak ada kolam renang. Pasti bukan itu yang terjadi."


Dia kembali berdiri dan mondar mandir lagi. Hingga tanpa dia sadari, sepasang mata sejak tadi memperhatikan pergerakannya.


Pemilik sepasang mata itu, melangkah mendekati Irma. Dia juga menyentuh bahu Irma.


"Alamakkk…" Teriak Irma kaget.


Saat menoleh, ternyata yang mengejutkannya itu adalah suaminya sendiri.


"Mama kenapa? Papa perhatikan dari tadi bicara sendiri, mondar mandir tidak karuan." Tanya Ehsan yang sudah duduk di sofa.


"Itu loh, Pa. Sepertinya Farraz melampiaskan rasa kesalnya pada Ayana, gara gara Putri menemuinya di kantor. Putri juga pakai peluk peluk Farraz segala." Tuturnya.


Irma juga ikut duduk disamping suaminya. "Terus, katanya Ayana sudah pulang kerumah. Tapi, Hadijah bilang, Ayana pulang dengan keadaan basah kuyup dan tanpa sepatu." Sambungnya menceritakan keadaan Ayana.


"Jadi, intinya Mama khawatir terjadi sesuatu sama Ayana?" Tebaknya.


Irma mengangguk manja. Lalu, dia merebahkan kepalanya dipundak suaminya itu.


"Papa sangat mengenal Ayana dengan baik. Tidak perlu mengkhawatirkan dia secara berlebihan, Ma. Karena, besok Ayana akan kembali menjadi ceria lagi, seperti hari hari sebelumnya. Ayana itu wanita yang kuat dan sangat tegar. Percaya sama Papa." Mengecup puncak kepala Irma.


"Papa yakin itu?" Mendongak untuk menatap wajah Ehsan.


"Sangat yakin." Tegasnya.


"Jadi, apa yang harus mama lakukan sekarang?" Ujarnya.


"Hanya menunggu. Berikan Ayana waktu untuk sendiri. Maka, mama buktikan sendiri, besok Ayana akan kembali menjadi Ayana yang seperti dulu lagi." Tutur Ehsan mencoba membuat Irma percaya bahwa Ayana akan baik baik saja.


"Mama tidak usah terlalu khawatir lagi. Karena, Papa juga sudah membicarakan pada Timo, tentang Farraz yang tidak bisa dipaksa untuk mencintai Putri."


"Lalu, bagaimana respon mereka?" Penasaran.


"Timo dan Preti sih, menerima saja. Meski Papa tahu mereka sangat kecewa. Tapi, Putri sama sekali tidak mau melepaskan Farraz. Dia mengancam akan mendapatkan Farraz dengan cara apapun juga. Tapi, Timo berjanji untuk tidak membiarkan hal itu terjadi." Jelasnya.


Mendengar itu membuat Irma menjadi tambah tidak suka pada Putri.


"Untung saja, Putri belum menjadi menantu kita, Pa. Rupanya dia gadis yang sangat posesif dan ambisius. Dia akan melakukan apapun demi mencapai keinginannya tanpa peduli terhadap dampak buruk yang bisa saja menimpanya." Ucap Irma antara kesal dan merasa bersyukur.

__ADS_1


Irma benar benar bersyukur, karena akhirnya bisa lepas dari ikatan perjodohan anak anak mereka. Ya, meski resikonya, mereka tidak bisa seakrab dulu lagi dengan keluarga Timo.


__ADS_2