Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 42 Pemakaman.


__ADS_3

Malam itu, Jenazah Mamanya Handi langsung di bawa pulang ke rumah. Diantarkan oleh ambulan, setelah dimandikan. Ayana ikut bersama Handi, setelah dia memberitahukan pada Farraz, bahwa Mamanya Handi sudah meninggal.


Handi juga sudah menelpon Ustad dan pak Imam di lingkungan tempat tinggalnya, supaya memberitahukan pada warga setempat, bahwa Mamanya sudah meninggal. Dan setibanya mereka di rumah duka, pak Rt, Ustad dan Imam sudah menunggu di depan rumah Handi. Mereka membantu mengangkat tubuh Mamanya dari ambulan menuju rumah.


Ayana bersama beberapa ibu ibu tetangga pun langsung menggelar tikar dan juga kasur untuk meletakkan tubuh Mamanya Handi.


Selang beberapa menit, warga pun berdatangan untuk melayat. Mereka semua ikut bersedih saat mengetahui Mamanya Handi sudah meninggal. Beliau dikenal baik dan sangat dermawan oleh warga setempat. Sehingga mereka merasa kehilangan sosok dermawan itu.


Ayana menyambut warga yang berdatangan dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Ada yang langsung membaca Yasiin, ada juga yang hanya duduk untuk melihat almarhumah terakhir kalinya.


Sementara, Handi sejak tadi sibuk menyiapkan perlengkapan penyelenggaraan jenazah untuk ibunya. Sehingga dia lupa bahwa dirinya terlihat sangat pucat dan benar benar lelah.


"Han, lebih baik kamu duduk di samping Mama kamu."


Ayana mendekati Handi dan menyerankan agar Handi duduk di samping Mamanya.


"Yana, aku tidak sanggup melihat wajah pucat Mama." Ungkapnya sedih.


"Aku tau apa yang kamu rasakan, Han. Karena aku sudah lebih dulu merasakan kehilangan kedua orangtuaku. Jadi, duduklah disampingnya, temani Mamamu untuk terakhir kalinya." Bujuk Ayana.


Mata Handi terlihat berkaca kaca. Dia merasa sedih yang teramat sangat. Tapi, dia menahan agar air mata itu tidak tumpah, karena dia harus menjadi kuat dihadapan Mamanya untuk terakhir kalinya.


"Baiklah. Aku akan menemani Mama." Ucapnya setuju.


Handi pun pergi ke dekat tubuh kaku Mamanya. Dia duduk disampingnya, menatap wajah pucat itu. Lalu, Handi ikut membaca Yasiin bersama pelayat lainnya.


Saat itu, pelayat masih terus berdatangan. Ayana terus berdiri di depan pintu untuk menyambut mereka. Dia sebenarnya sudah sangat lelah. Hingga sesekali Ayana memukul bagian punggungnya saat tidak ada yang melihatnya.


"Farraz!" Serunya.


Mobil Farraz parkir di depan rumah Handi. Farraz turun dari mobil, diikuti oleh Via dan Irma.


"Mama, kak Via." Menghampiri mereka.


"Yana." Sapa Irma.


Dia langsung memeluk Ayana. "Kamu pasti lelah, masuklah dan duduk, biar Farraz yang menggantikanmu menyambut pelayat yang datang."


Irma mengatakan itu sambil menatap pada Farraz. Dan Farraz terlihat tidak suka dengan ide Mamanya.

__ADS_1


"Tidak apa, Ma. Kalian silahkan masuk. Handi ada didalam, dia sangat terpukul dan sedih. Kasihan dia, Ma." Ucap Ayana menjelaskan keadaan Handi.


"Raz, kamu yang jaga disini. Ayana ikut sama Mama. Dia sudah kecapek an sejak tadi berdiri terus menyambut orang yang berdatangan." Ujar Irma.


Tatapannya tajam dan menakutkan menurut Farraz, sehingga dia pun mengangguk setuju saja, meski tidak suka.


"Selamat berdiri, tuan Farraz Ehsan."


Via meledeknya. Hal itu membuat Farraz bersungut marah pada kakaknya. Dan sebelum Farraz memukulnya atau melakukan hal lain padanya, dia pun langsung ikut masuk bersama Mama dan Ayana.


Begitu, Irma, Via dan Ayana sudah masuk, Farraz berencana untuk duduk di kursi, eh ada tamu yang baru datang. Dan Farraz segera membatalkan keinginannya untuk duduk.


"Silahkan masuk, buk, pak." Sambutnya ramah.


Pelayatpun masuk dengan tersenyum, karena mendapat sambutan ramah dari Farraz.


Diam diam, Ayana memperhatikan Farraz sejak tadi. Senyum terlihat diwajahnya saat melihaf Farraz yang ternyata bisa bersikap ramah pada orang orang asing itu.


...🍀🍀🍀...


Pukul sembilan pagi, almarhumah sudah dimakamkan. Ayana dan Farraz selalu setia menemani Handi sejak malam tadi hingga pagi ini. Mereka bahkan menginap untuk menemani Handi menjaga Mamanya.


Kini mereka sudah kembali ke rumah Handi. Dan Handi terlihat sangat berduka.


"Terimakasih, Raz. Terimakasih banyak, karena kamu bersedia membantu dan menemani aku disaat seperti ini." Ucapnya.


"Biasa saja, bro. Sudah kewajiban kita untuk saling support disaat saat seperti ini." Jawab Farraz.


"Han, kamu yang sabar ya!" Seru Ayana.


Kini giliran dia mengucapkan kata kata untuk menenangkan Handi.


"Yana, terimakasih banyak. Terimakasih karena mau menemui Mama disaat saat terakhirnya." Ucapnya.


"Iya, Han. Yakinlah, Mama kamu sedang tidur lelap dialam kubur. Dia tertidur lelap tanpa merasakan kesakitan lagi. Dan nanti insyaAllah dia akan bangun dan ditempatkan di syurga Allah." Ayana mendoakan.


"Aamiin ya Allah. Terimakasih banyak, Yana."


"Yang sabar ya, Handi." Ujar Via ikut menimpali.

__ADS_1


Dia dan Mamanya baru tiba lagi pagi ini sebelum Mamanya Handi dimakamkan.


"Terimakasih." Ucap Handi.


Dia mencoba tersenyum, meski senyum itu telihat sangat dipaksakan.


"Nak Handi yang sabar, ya. Saya yakin, nak Handi bisa melewati ini semua dengan baik. Dan untuk beberapa saat kedepan, istirahat saja dulu di rumah. Farraz akan memberi kamu cuti. Iya kan, Raz?"


Irma bertanya sekaligus memberi kode agar Farraz mengangguk setuju.


"Iya, Han. Istirahatlah dulu. Tenangkan pikiranmu. Tentang pekerjaan, semuanya akan diurus oleh staf yang lain. Kamu bisa kembali bekerja saat pikiran dan hatimu sudah kembali pulih dan membaik." Tutur Farraz memberi saran.


"Sekali lagi, terimakasih Raz, terimakasih Nyonya." Ucap Handi.


"Kami pamit undur diri dulu, nak Handi. Jika butuh sesuatu atau terjadi sesuatu, segera hubungi kami. Jangan sungkan."


Irma mengatan itu dengan tutur kata yang lembut. Dia ingin Handi merasa bahwa mereka selalu ada untuknya.


"Terimakasih, Nyonya." Sekali lagi Handi berterimakasih.


Lalu, Irma, Via dan Farraz melangkah keluar dari rumah Handi menuju mobil mereka lebih dulu. Sedangkan Ayana menyusul belakangan. Dia sengaja menyusul belakangan, agar Handi tidak curiga padanya.


"Han, aku pulang duluan. Hubungi aku jika ada apa apa." Ucapnya.


Handi mengangguk tersenyum. "Pulanglah Yana. Kamu pasti capek. Istirahat yang cukup."


Disaat seperti inipun Handi tetap perhatian dan peduli pada Ayana. Padahal seharusnya, dirinyalah yang perlu diperhatikan.


'Kamu selalu seperti ini padaku, Han. Maafkan aku karena tidak bisa membalasmu.' Pikirnya.


Lagi dan lagi Ayana merasa terharu dengan perlakuan dan perhatian Handi padanya.


"Bye."


Ayana melambaikan tangan pada Handi, lalu dia melangkah keluar dari rumah itu.


"Hati hati, Yana." Ucapnya pelan.


Dia tidak ikut mengantar Ayana ke depan, karena dia masih harus berbincang dengan tetangga yang masih bersedia menemaninya di rumah itu.

__ADS_1


Sementara, Ayana sudah tiba di mobil Farraz. Dia menumpang untuk diantarkan kerumah sakit menjemput mobilnya yang masih disana, karena tadi malam Ayana ke rumah Handi, ikut ambulan yang membawa almarhumah.


Ayana duduk di depan bersama Farraz. Sedangkan Irma dan Via duduk di kursi belakang. Mereka terlihat seperti sedang terlelap. Padahal, mereka hanya pura pura tidur, untuk mendengar bagaimana Ayana dan Farraz akan saling berkomunikasi saat sedang berdekatan.


__ADS_2