Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 56 Panas dan Nikmat.


__ADS_3

Azan Isa Farraz baru tiba di hotel. Ayana sedang sholat Isa dengan hanya memanjangkan hijab untuk menutupi bagian tubuhnya. Sedangkan kakinya ditutup menggunakan kaos kaki.


Farraz meletakkan dua porsi ayam geprek diatas nakas, lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lalu dia kembali dan ikut melaksanakan sholat isa di samping Ayana yang sudah memberi salam ke kanan pertanda sholatnya telah selesai.


"Allaaahu akbar." Farraz sudah mulai sholat. Perlahan Ayana menggeser duduknya agar tidak mengganggu Farraz. Kedua tangannya ditadahkan untuk berdoa meminta pada Allah. Cukup lama Ayana berdoa, begitu banyak hal yang dia bicarakan pada Tuhannya. Seperti ucapan syukur, dan juga hal hal lainnya.


Farraz sudah selesai sholat. Dia membalikkan tubuhnya agar bisa melihat Ayana yang duduk dibelakangnya. Senyum merekah diwajah Ayana saat melihat Farraz mengulurkan tangan padanya. Tanpa aba aba, Ayana langsung menyambut tangan itu dan menciumnya. Lalu, Farraz juga memberikan ciuman dipuncak kepala Ayana dengan sangat lama. Ciuman itu bukan hanya sekedar ciuman, tapi juga ucapan syukur Farraz karena memiliki istri seperti Ayana.


"Sudah cukup Ayana. Itu ayam gepreknya keburu dingin." Melepaskan tangannya dari genggaman Ayana. Kemudian mereka langsung berdiri dengan perasaan canggung dan sedikit malu malu.


"Mas beli dua porsi ayam gepreknya?" Memeriksa pesanannya.


"Iyalah, memang kamu pikir suami gantengmu ini tidak mau makan."


"Bukannya gitu, Mas. Hanya saja, Mas kan tidak suka makanan seperti ini." Ayana mulai menikmati ayam gepreknya. sedangkan Farraz masih sibuk menuangkan air kedalam gelas plastik yang disediakan hotel.


"Seenak itukah?"


"Iya dong. Nih coba deh mas cicipi, dijamin ketagihan."


Dengan ragu Farraz mulai mencicipi daging ayam geprek yang sudah dilumuri sambal ijo. Begitu masuk kemulut, Farraz terdiam tanpa ekspresi diwajahnya. Perlahan dia mulai mengunyah dan kemudian mengambil lagi ayam itu.


"Enak kan?" Tanya Ayana yang sangat menikmati makan malamnya.


Farraz mengangguk malu malu. Lalu kemudian dia mulai serius menikmati makan ayam geprek sambal ijo itu dengan nasinya sekalian. Lahap sekali dia makan, meski keringat mulai bercucuran dan bibirnya memerah karena menahan rasa pedas, Farraz tidak berhenti. Dia mulai ketagihan dan merasakan nikmatnya makan ayam geprek sambal ijo.


"Tidak sia sia aku menunggu antrian panjang untuk mendapatkan sensasi makanan seenak ini." Ujarnya terbata, karena mulutnya penuh dengan nasi dan ayam.


"Malam ini sungguh panas dan nikmat full. Uwenak...tenan."


"Kenapa kamu baru memberitahuku bahwa ada makanan seenak dan senikmat ini." Farraz kepedasan, bahkan tampak air matanya akan menetes, keringatnya bercucuran. Tapi dia tidak berhenti sampai disitu, dia masih terus mengunyah makanannya yang pedas namun terasa lezat dilidah.

__ADS_1


"Minum dulu, mas." Mengulurkan air minum pada Farraz.


"Pelan pelan saja makannya, nggak ada yang mau ngambil makanan mas kok."


"Makan buru buru sampai keringatan gitu." Ayana menghapus keringat dikening Farraz menggunakan ujung jilbabnya, karena tisu jauh dari jangkauannya.


"Ini benar benar nikmat, sayangku. Luar biasa. Kamu memang istri terhebat, bukan hanya bisa memuaskan aku di ranjang, tapi juga bisa menyadarkan aku bahwa ayam geprek seenak ini. jadi tambah sayang sama kamu." Farraz mengatakan itu dengan tergemu gemu. Mulutnya penuh dengan makanan, tapi dia merasa harus memuji istrinya atas prestasi yang menurutnya membanggakan.


"Kamu pantas mendapatkan penghargaan atas kerja kerasmu, sayangku. Setelah menikmati makan malam ini, suamimu ini akan memberikanmu penghargaan ternikmat untukmu." Lanjutnya asal bicara.


Ayana hanya menggelengkan kepala menanggapi ocehan suaminya yang sedang kepedasan itu. Dia yakin kata kata itu muncul begitu saja saat lidah suaminya terasa sangat pedas dan terbakar oleh sambal ijo.


🍀🍀🍀


Malam ini Handi mampir di resto milik Via. Bukan sengaja, hanya kebetulan.


"Handi?" Via menyapanya saat mendapati Handi duduk sendirian dengan wajahnya yang tampak sedih.


"Aku pemilik resto ini." Jawab Via santai. Dia pun langsung duduk didekat Handi tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Apa ada masalah?"


"Kelihatan sekali ya, kalau aku sedang menghadapi masalah tanpa solusi." Jawab Handi.


"Masalah apa?"


"Kamu tahu Ayana dan Farraz suami istri?"


"Ah kamu pasti tahu. Kamu kan kakaknya Farraz." Lanjutnya menjawab pertanyaanya sendiri.


"Jadi kamu sedang patah hati?" Via mencoba menebak.

__ADS_1


"Sangat sangat patah hati. Aku kehilangan separuh jiwaku."


"Aku sudah mencintai Ayana sejak pertama dia bekerja di perusahaan. Bahkan saat Ayana menikah pun aku tetap mencintainya."


"Hingga dia menjadi janda, aku semakin mencintainya dan semakin gencar mendekatinya."


"Akhir akhir ini hubunganku dengan Ayana tambah dekat dan semakin jelas. Sehingga aku berpikir Ayana mungkin mulai mencintaiku."


"Aku bahkan membeli cincin untuk melamar Ayana. Semuanya telah aku persiapkan dengan matang. Lalu, tiba tiba Ayana mengatakan bahwa dia istri Farraz." Tuturnya panjang lebar.


Via hanya diam mendengarkan cerita Handi yang sebenarnya sudah diketahuinya dari waiter di resto itu.


"Beruntung sekali Ayana memiliki Handi yang sangat mencintainya. Namun, ternyata dia malah memilih Farraz yang kekanakan." Batin Via. Secara logika Via memang lebih menyukai apabila Ayana mendapatkan lelaki hebat dan dewasa seperti Handi. Tapi, menurut hati dan pikiran, dia menginginkan Ayana bahagia bersama Farraz adiknya.


"Aku rasa, aku tidak akan mampu melihat Ayana dan Farraz di kantor."


"Sepertinya aku harus mengundurkan diri." Ucapnya lagi melanjutkan curahan hatinya.


"Jangan terburu buru. Kamu bisa mengambil cuti untuk beberapa hari dan berpikir dengan lebih tenang."


"Setelah lebih tenang, barulah memutuskan untuk memundurkan diri atau tetap bertahan di perusahaan." Via menyarankan sekedarnya saja. Dia tidak begitu ingin memberikan nasihat pada Handi yang sudah sangat patah hati.


"Begitukah? Haruskah aku cuti beberapa hari?" Handi menyetujui saran Via.


"Sepertinya aku memang harus cuti. Menenagkan pikiran. Aku butuh waktu untuk sendiri, sebelum aku kembali melihat kemesraan Ayana dan Farraz di kantor setiap harinya."


Rasa ibu menyelimuti hati Via kala melihat Handi. Dia teringat masa lalunya yang mengkhianatinya. Sangat sulit untuk bangkit lagi setelah jatuh dijurang yang dalam pada saat itu. Untungnya, Via masih punya seorang ibu yang dengan siap siaga menjaga dan menghiburnya. Sementara Handi baru saja kehilangan ibunya dan kini harus menerima kenyataan wanita yang dicintainya sudah menjadi milik lelaki lain.


Naluri Via membuatnya menyentuh pundak Handi dan mengelusnya lembut. Tanpa sadar, Handi pun merebahkan kepalanya dipundak Via. Tidak ada protes dari Via, dia membiarkan Handi bersandar dibahunya untuk membantunya mengurangi perasaan yang berkecamuk dihatinya.


"Semoga kamu bertemu wanita hebat bahkan lebih hebat dari Ayana, Han." Batin Via.

__ADS_1


__ADS_2