Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 45 Bantuan teman lama.


__ADS_3

"Asal ibu tahu, sebenarnya saya adalah sua…" Farraz menghentikan ucapannya saat sadar hampir keceplosan.


Sedangkan Ayana menunduk dan memejamkan matanya. Dia tidak percaya Farraz langsung menjawab pertanyaan buk Rt tampa berpikir terlebih dahulu.


"Saya adalah Bos Ayana. Saya adalah Direktur Utama Faress Crupt. Dan saya sudah menikah." Sambung Farraz.


Buk Rt mengangguk paham. Sedangkan Ayana mulai mencoba tersenyum dan ikut mengangguk menyetujui pengakuan Farraz pada buk Rt.


"Saya disini karena, mobil saya masuk bengkel. Iya kan Ayana?" Farraz malah bertanya pada Ayana.


"Iya buk Rt. Tadinya pak Farraz mau menumpang pulang ke rumahnya. Tapi, saya bilang mau mampir ke sini, karena saya sudah sangat lama tidak datang ke rumah ini." Lanjut Ayana mendukung cerita kebohongan Farraz pada buk Rt.


"Nah kan saya betul. Saya yakin kok, dek Ayana adalah wanita baik baik. Eh ibu ibu di sini suka menggosipkan dek Ayana." Tuturnya.


Ibu ibu yang tadi mengikuti buk Rt, kini sedang menguping di depan rumah Ayana. Begitu mereka mendengar Farraz menyebut dirinya seorang direktur utama Faress Crupt, merekapun langsung melangkah menuju teras rumah Ayana.


"Assalamualaikum, dek Ayana." Ucap mereka bersamaan.


Ayana, Farraz dan buk Rt menoleh pada rombongan ibu ibu itu.


"Waalaikumsalam, ada perlu apa ya buk?"


Ayana melangkah mendekati mereka.


"Kita mau minta maaf sama dek Ayana. Karena, selama ini kami salah paham dan suka bicara ngawur tentang dek Ayana. Iya kan, bu ibu?"


Teman temannya mengangguk setuju dengan pengakuan ibu yang mewakili mereka bicara minta maaf pada Ayana.


"Tidak apa buk. Mari silahkan masuk." Ajak Ayana.


"Boleh nih kita masuk?" Tanya mereka ragu.


"Iya boleh kok buk." Ajak Ayana.


Tapi, sebelum mereka benar benar masuk ke rumah Ayana, buk Rt malah berdiri untuk menemui ibu ibuk itu.


"Bu ibu, sebaiknya kita pulang saja. Dek Ayana dan dek Farraz juga sudah mau pergi lagi. Mereka hanya mampir sebentar kok." Ucap buk Rt yang langsung menyeret ibu ibu yang kesem sem melihat wajah tampan Farraz.

__ADS_1


"Loh kok gitu buk Rt. Kita mau kenalan dulu sama dek Farraz." Protes mereka.


"Lain kali saja." Ucap buk Rt.


Ayana hanya melihat heran pada ibu ibu yang tetap berusaha masuk ke rumahnya meski tangannya di tarik keluar oleh buk Rt.


"Dek Ayana, kami pamit dulu." Teriak buk Rt yang kesulitan menarik semua ibu ibu agar ikut dengannya untuk segera keluar dari perkarangan rumah Ayana.


"Terimakasih, ibu ibu. Lain kali kalau saya berkunjung kemari, kalian boleh mampir kok." Ucap Ayana pada mereka.


"Benaran boleh dek Ayana?"


"Iya, buk, tentu saja boleh." Jawab Ayana sambil melambaikan tangannya mengiringi kepergian ibu ibu itu.


"Coba dari dulu kamu jelaskan seperti itu, pasti ibu ibu itu nggak akan bergosip nggak jelas tentang kamu." Ujar Farraz yang masih tetap fokus pada handphonenya.


"Terserah saya, lah. Apa hubungannya sama anda, tuan Farraz Ehsan." Jawabnya sambil melangkah menuju dapur kembali.


"Jelas ada hubungan lah. Kamu itu kan istri saya." Teriaknya.


"Terserah kamu saja lah. Capek ngomong sama wanita tua yang tidak punya hati nurani." Rutuknya kesal.


"Kamu ngomong apa!" Teriak Ayana dari dapur.


"Cepat bereskan dapurmu. Aku mau pulang!" Teriaknya mengalihkan pembicaraan.


"Iya tunggu bentar. Nggak sabaran banget." Rutuk Ayana sambil terus melanjutkan pekerjaannya membereskan dapur.


...🍀🍀🍀...


Setibanya di rumah, Ayana langsung mandi. Setelah mandi, dia pun berbaring diatas tempat tidurnya hingga terlelap tidak sadarkan diri. Bukan hanya Ayana yang seperti itu. Farraz pun juga sudah terlelap di kamarnya. Mereka benar benar merasa mengantuk, karena tidak bisa tidur saat menemani Handi menjaga jenazah almarhumah Mamanya, semalaman.


Sementara itu, di apartemennya. Elsa sedang berduaan dengan teman lamanya. Elsa baru bertemu lagi dengan Mario beberapa hari yang lalu. Dan kali ini dia mengajak Mario mampir ke apartemennya dengan alasan dia membutuhkan teman yang bersedia mendengarkan curhatannya.


Saat ini, mereka duduk di sofa dengan posisi sangat dekat.


"Jadi, kamu curiga pada tunangan kamu itu?" Tanya Mario.

__ADS_1


"Sangat curiga." Jawabnya.


"Penyebab kecurigaan kamu apa, Sa?"


"Dia sangat dingin padaku. Aku jujur nih sama kamu. Aku sama dia udah pacaran lima tahun. Tapi, yang kami lakukan, hanya pengangan tangan, ngedate aja bisa dalam setahun cuma tiga kali. Sebelumnya dia selalu menolak tidur di sini bersamaku. Dan akhir akhir ini dia malah menawarkan diri untuk tidur disini. Tapi, dia benar benar tetap dingin. Dia seakan nggak nafsu sama aku." Tuturnya bercerita.


"Maksud kamu tidak nafsu itu bagaimana?" Mario penasaran.


"Bayangin aja, kalau kamu tidur sama pacar kamu di kamar berduaan, pacar kamu memakai baju tidur yang seksi, apa kamu bisa tahan untuk tidak melakukan apapun sama pacar kamu?" Tanya Elsa, sebelum menjawab rasa penasaran Mario.


"Ya, kalau aku sih udah pacaran lima tahun, dan pacar aku ngizinin tidur dikamarnya berduaan saja dan dia berpakaian ****, ya aku langsung terkam aja. Karena aku yakin saat itu pacarku sudah memberi izin untuk hal itu." Jawab Mario.


"Nah, benar kan? Aku pun juga berpikir Farraz akan melakukan itu padaku. Tapi, dia tidak tertarik sama sekali. Semalaman, dia hanya memelukku saja tanpa menyentuh area area sensitifku sama sekali." Ungkap Elsa.


Mario melongo mendengar penjelasan Elsa. Dia bahkan sampai membayangkan keseksian Elsa saat memakai baju tidur yang dia sebutkan.


"Mungkin dia nggak suka perempuan kali, El."


"Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Apakah dia tidak menyukai perempuan, atau hanya tidak menyukaiku." Ucap Elsa sedih.


"Tidak ada pria yang akan mampu bertahan dari godaan wanita seksi, El. Apa lagi itu pacarnya sendiri yang istilahnya sudah memberi izin untuk menyentuhnya. Wah, kalau aku sudah langsung unboxing aja sepuasnya." Ujar Mario dan kemudian menelan ludahnya.


"Aku kesepian, Mario. Aku benar benar haus kasih sayang. Rasanya aku capek bersabar menunggu sampai Farraz mau menyentuhku."


Elsa mengucapkan itu sambil menyenderkan kepalanya di bahu Mario.


"Mau aku bantu?" Tanya Mario ragu.


"Percuma, Mario. Farraz itu sangat keras, sekeras batu. Dia itu kokoh sekokoh batu karang yang tetap berdiri tegar meski diterjang ombak jutaan kali." Ucapnya lesu.


"Bukan membantu seperti itu yang aku maksud, Sa. Tapi…" Mario melingkarkan tangannya di bahu Elsa.


Elsa terdiam, saat merasakan tangan Mario bukan hanya diam di bahunya. Tangan Mario mulai mengelus lengannya yang polos, lalu tanpa izin Mario langsung menggendong tubuh Elsa.


"Berteriaklah jika kamu tidak membutuhkan bantuanku, Sa." Ucap Mario sambil menggendong tubuh Elsa menuju kamar.


Tapi, Elsa hanya diam. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Mario. Dan sikap Elsa yang seperti itu membuat Mario menyimpulkan bahwa Elsa setuju untuk menerima bantuan darinya.

__ADS_1


__ADS_2