
Ayana tiba lebih dulu di kantor. Dia disambut hangat oleh karyawan yang sudah merindukannya meski hanya cuti dua hari saja. Karena bagi mereka, kehadiran Ayana di perusahaan adalah suatu keharusan yang bisa membuat semua Karyawan merasa lebih tenang dan aman saat bekerja. Peranan Ayana di perusahaan memang sangat berpengaruh. Dia memang hanya sebagai sekretaris, tapi lebih dari itu Ayana terkadang mengambil peran penting untuk kemajuan perusahaan. Bukan hanya Karyawan yang mengakuinya, tapi pemilik perusahaan Haris Ehsan pun mengakui bahwa Ayana adalah ibu bagi perusahaan.
"Mbak Yana!" Rengek Arumi begitu melihat Ayana menghampirinya.
"Semuanya baik baik saja?" Tanya Ayana.
"Sangat kacau. Semua pekerjaan terasa sangat sulit dan melelahkan."
"Pak Farraz, mbak Ayana, pak Handi, kalian orang penting perusahaan tapi malah cuti bersamaan dan tidak bisa dihubungi sama sekali."
"Betapa stres dan bingungnya saya saat itu. Untung pak Haris tiba disaat yang tepat. Beliau mengambil alih semua pekerjaan pak Farraz dan pak Handi." Celoteh Arumi panjag lebar menceritakan keadaan perusahaan tanpa ketiga orang penting itu.
"Pak Handi masih belum masuk?" Tanya Ayana penasaran dengan keadaan Handi.
"Pak Handi mengajukan permohonan cuti selama dua minggu kedepan." Jawab Arumi.
Ayana mengangguk paham. Dia merasa bersalah karena telah membuat Handi terluka dan merasa dikhianati.
"Pagi, Arumi." Sapa Farraz yang baru saja tiba.
"Pagi pak Farraz." Sambut Arumi senang.
"Pak Farraz tampak berbeda hari ini."
"Terlihat lebih berwibawa dan ramah." Puji Arumi ragu ragu.
"Begitukah?" Farraz tersenyum senang menatap Ayana yang hanya diam mematung.
"Handi masih belum masuk, ya?"
"Belum, Pak. Beliau mengajukan permohonan cuti selama dua minggu kedepan." Jawab Arumi.
__ADS_1
"Ok. Kalau begitu selamat bekerja, Arumi." Memberikan senyum semangat pada Arumi.
"Terimakasih, pak." Arumi bahagia mendapat dukungan dari Farraz pagi itu.
"Ayana kamu ikut saya sekarang!"
Ayanapun melambaikan tangan pada Arumi sebelum akhirnya mengikuti langkah Farraz. Bagitu tiba di tempatnya, Farraz malah menarik tangannya untuk ikut masuk keruangannya.
"Mas, kita sedang di kator sekarang." Farraz tidak mengindahkan peringatan Ayana. Dia menutup semua tirai ruangannya agar tidak dapat terlihat dari luar sana oleh karyawan lain.
"Mas mau ngapain?" Protes Ayana saat Farraz tiba tiba memeluk tubuhnya dari belakang.
"Ternyata seperti ini rasanya bekerja dengan istri sendiri." Meletakkan kepalanya dipundak Ayana.
"Aku sangat bahagia memilikimu, sayang."
"Aku juga sangat bahagia, mas. Tapi, kita sedang di kantor saat ini. Kita harus bisa profesional saat sedang bekerja." Ayana mencoba melepaskan diri dari pelukan Farraz.
"Sebentar saja, sayang. Aku merasa sangat nyaman seperti ini." Mempererat pelukannya. Ayana akhirnya mengalah. Dia pun mulai merasakan nyamannya dipeluk dari belakang oleh suaminya itu.
"Papa!" Seru Ayana sedikit terkejut.
"Pagi mantu kesayangan Papa." Memberi kecupan dikening Ayana.
"Kenapa kalian pagi pagi sudah berduaan di ruangan yang tertutup ini?" Haris melangkah mendekati Farraz.
"Nggak ngapain ngapain kok, Pa. Cuma memang tirainya aja belum dibuka sejak tadi." Kilahnya.
"Papa tahu, betapa kalian masih menikmati masa masa bulan madu. Tapi, ada kalanya kalian harus bisa profesional saat dalam bekerja."
"Untung Papa yang mengentuk pintu. Coba kalau Karyawan lain, jadinya kan bisa salah paham mereka. Dan akan berdampak untuk harga diri istri kamu."
__ADS_1
Ayana hanya diam. Dia mulai merasa tidak enak hati mendengar ucapan papa mertuanya.
"Ya nggak apa apa dong, Pa. Toh kami kan pasangan halal. Kalau pun mereka curiga, ya aku tinggal ngonmong kalau Ayana istriku."
Haris menghela napas dalam. Dia menggamit agar Ayana mendekat padanya. Dengan langkah ragu Ayana mendekat.
"Papa sangat bangga memiliki kamu, baik sebagai sekretaris maupun sebagai menantu. Dan Papa tahu kamu adalah seorang yang sangat profesional dalam bekerja."
"Tapi, Farraz akan selalu mengganggumu. Dan akhirnya pekerjaan kalian akan berantakan jika terus terusan begini." Baik Farraz maupun Ayana mulai merasakan adanya hal hal yang tidak mengenakan akan keluar dari mulut Papa.
"Papa sudah mencarikan sekretaris baru untuk Farraz."
"Nggak bisa gitu dong, Pa." Farraz protes. Tapi Ayana hanya mengangguk mencoba mengerti arah pembicaraan itu akan kemana.
"Ayana cukup menjadi istri dari Farraz dan menjadi menantu Papa. Cukup dirumah saja, tidak perlu bekerja."
"Pa, aku akan profesional dalam bekerja. Please jangan ganti sekretarisku. Biarkan Ayana saja, Pa." Ucap Faraaz memohon.
"Masuk!"
Seruan Haris didengar oleh seseorang diluar sana. Dia seorang pemuda yang tampak rapi masuk keruangan Farraz.
"Perkenalkan dirimu." Haris memerintahkan.
"Selamat pagi pak Farraz. Nama saya Robi, umur saya 24 tahun, saya akan menjadi sekretaris pak Farraz mulai hari ini dan seterusnya. Saya akan bekerja lebih giat, mohon bimbingannya."
"Robi, ini Ayana. Dia menantu saya. Tapi di kator ini dia adalah sekretaris terbaik. Kamu akan dibimbing oleh Ayana selama kurang lebih dua minggu kedepan."
"Siap pak."
"Mohon bimbinganya mbak Ayana."
__ADS_1
"Selamat datang Robi." Sapa Ayana ramah. Dia kembali menjadi dirinya yang akan terlihat baik baik saja dan mudah menerima dengan lapang dada keputusan bosnya. Haris tersenyum bangga. Dia bena benar sudah mengenal Ayana dengan sangat baik, dan dia tahu Ayana akan baik baik saja dengan keputusan ini.
Farraz hanya bisa diam. Dia merasa bersalah pada Ayana. Dia tahu, Ayana menyukai pekerjaan ini. Sudah tentu berat bagi Ayana untuk hanya berdiam diri menjadi istri rumahan. Tapi, apa boleh buat, jika papanya sudah memutuskan maka tidak ada yang bisa dilakukannya.