Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 39 Mulai perhatian.


__ADS_3

Pagi ini Ayana duduk sendirian dipinggir pantai. Dia menikmati udara pagi yang menyejukkan dan mendamaikan hati. Matanya terpejam, dia mencoba menelisik masuk ke mesin waktu untuk kembali ke masa kanak kanaknya. Dimana, masa itu dia masih bisa bermain bersama Bapak dan Ibunya.


Betapa bahagianya kehidupan Ayana dimasa kecilnya. Dia hanya terus bermain, bermain dan bermain. Tidak perlu memikirkan banyak hal. Jika lapar ya makan, jika ngantuk ya tidur, jika capek ya istirahat dan jika ingin bermain ya bermain. Dia tidak perlu memikirkan hal yang orang dewasa pikirkan. Semuanya sungguh sangat menyenangkan.


"Ayana!"


Suara Farraz membangunkan Ayana dari dimensi dunia masa kecilnya.


"Kamu sendirian saja?" Tanya Farraz.


Dia duduk di samping Ayana.


Perlahan Ayana membuka matanya. Dia pun menatap sebentar pada Farraz.


"Kenapa pak Farraz kemari? Apa ada hal penting yang ingin di bahas bersama saya?" Tanya Ayana cuek.


Mendengar itu membuat kening Farraz berkerut mendengar respon cuek Ayana padanya.


'Bukannya berterimakasih, malah memberi respon cuek banget.' Rutuk Farraz dalam hati.


"Pergelangan tangan sama kaki kamu masih sakit?" Tanya Farraz kemudian.


Dia mencoba ramah meskipun Ayana membuatnya merasa kesal.


Sebentar Ayana melihat kedua belah pergelangan tangannya yang masih ada bekas merah akibat ikatan yang terlalu erat oleh orang suruhan Fikri.


"Masih agak perih saat terkena air." Jawabnya tanpa menoleh pada Farraz.


"Sini tangan kamu."


Farraz menarik tiba tiba kedua tangan Ayana.


"Kamu mau ngapain?" Protes Ayana.


Dia mencoba melepas tangannya dari Farraz.


"Udah nggak usah protes, aku cuma mau ngolesin salep kok." Ucap Farraz.


Dia mengeluarkan botol kecil berisi obat oles yang dapat menghilangkan bekas merah ditangan Ayana.


"Aku bisa oleskan sendiri, kok." Protes Ayana yang masih mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Farraz.


"Diam aja dulu!" Teriak Farraz dengan tatapan tajamnya pada Ayana.


Dan tatapan itu berhasil membuat Ayana diam, meski raut wajahnya tampak kesal pada Farraz.


"Nah gitu kan bagus."


Dengan hati hati Farraz mengoleskan salep melingkar di kedua pergelangan tangan Ayana.


"Perih nggak?" Tanya Farraz khawatir.


"Nggak kok." Ucap Ayana.


'Kenapa ni bocah jadi baik gini sih? Ah, mungkin dia nggak enak karena semua ini perbuatan kakaknya.' Pikir Ayana.


"Selesai. Nih, oleskan juga di pergelangan kaki kamu." Memberikan sisa salep pada Ayana.


"Terimakasish, Raz." Ucap Ayana yang membuat Farraz tersenyum senang.


"Aku minta maaf, karena datang terlambat." Ucap Farraz.

__ADS_1


"Kamu tidak terlambat, Raz. Kamu datang tepat waktu. Dan aku benar benar berhutang budi padamu. Aku bahkan tidak tahu harus membalas dengan cara apa." Ujar Ayana.


"Tidak usah membalas. Hanya teruslah menjadi dirimu sendiri, teruslah bekerja keras dan…" Farraz menatap dalam dalam kedua bola mata Ayana yang juga menatapnya dengan tatapan sendu.


'Dan teruslah bertahan untuk tetap disisiku Ayana. Aku memang egois, itu semua juga karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya hatiku inginkan.' Ucapnya dalam hati.


"Bagaiman dengan Elsa?"


Ayana memalingkan pandangannya dari Farraz. Kini dia menatap ombak di depan sana.


"Aku dan Elsa sudah bertunangan. Dan, kita akan segera mengatur tanggal pernikahan." Jawab Farraz jujur.


"Aku akan langsung mengurus perceraian setelah kembali ke Jakarta." Sambung Ayana.


Perkataan Ayana membuat hati Farraz merasakan sakit tanpa alasan yang jelas.


"Tidak usah terburu buru. Aku, sebenarnya…"


Drriiittt…


Ponsel Ayana bergetar, dan itu membuat Farraz tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Halo, Han. Ada apa?" Ucap Ayana melalui handphonennya yang sudah tersambung dengan Handi.


"Iya, Han. Aku di pinggir pantai. Kamu ke sini aja langsung." Ujarnya.


"Oke, bye." Ucap Ayana tersenyum.


Panggilan berakhir.


"Handi?" Tanya Farraz.


"Dia mau kesini?" Tanya Farraz lagi.


"Iya. Kenapa? Apa kamu keberatan?" Tanya Ayana penasaran.


"Jika aku keberatan, apa kamu akan meminta Handi untuk tidak datang?" Tanya Farraz penasaran.


Sebentar Ayana terdiam mendengar ucapan Farraz.


'Kamu kenapa sih, Raz? Kok malah bertingkah aneh begini.' Pikir Ayana tidak percaya dengan sikap Farraz yang berubah 180 derajat.


"Yana!" Teriak Handi dari kejauhan.


Ayana langsung menoleh saat mendengar Handi memanggil namanya. Dia juga melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Handi. Sedangkan Farraz, malah berdiri dan melangkah menjauh diam diam. Sehingga Ayana benar benar tidak menyadari bahwa Farraz sudah tidak berada di dekatnya lagi.


"Nih aku bawakan sarapan buat kamu."


Handi mengulurkan seporsi sarapan pagi untuk Ayana.


"Thank you." Ucap Ayana senang.


Sebentar dia menoleh kebelakang. 'Loh kemana tu bocah? Dasar jelangkung. Selalu saja menghilang tiba tiba.' Rutuknya.


"Kamu sudah sarapan, belum?" Tanya Ayana pada Handi.


"Belum lah. Aku cariin kamu kemana mana untuk ngajak sarapan. Jadi, mari kita sarapan bareng." Ajak Handi.


"Mmh, yuk sarapan."


Ayana mulai menyantap sarapannya. Begitu juga dengan Handi.

__ADS_1


"Enak nggak?" Tanya Handi.


Ayana mengangguk, dia tidak bisa menyahut karena mulutnya penuh dengan makanan. Hal itu membuat Handi tersenyum karena Ayana terlihat sangat menggemaskan.


'Farraz sudah sarapan belum, ya?'


Ayana malah terpikirkan Farraz. Makanan yang ada dimulutnya terasa sulit untuk ditelan.


"Yana? Kamu kenapa?"


Handi merasa khawatir, karena Ayana malah diam dan tidak kunjung menelan makanan yang digemunya.


"Mmh, aku baik…kok." Ucapnya terbata sambil berusaha menelan makanan.


"Minum dulu, nih." Menyodorkan botol air mineral pada Ayana.


Segera saja Ayana mereguk air itu untuk membantu agar makanan bisa ditelan dengan lancar.


Diam diam Handi tersenyum, lagi dan lagi Ayana tampak menggemaskan dimatanya. Dia bahkan menahan tangannya yang terasa geram ingin mencubit kedua pipi Ayana.


'Andai kamu milikku, Yana. Aku pasti sudah mencubit pipimu. Kamu sungguh menggemaskan.' Pikirnya.


"Han, kok kamu malah senyum senyum? Kenapa? Ada yang lucu, ya?" Tanya Ayana sambil mengusak wajahnya.


"Iya, cara makanmu itu sangat menggemaskan, Yana." Ungkapnya jujur.


Ayana tersenyum malu malu karena dibilang menggemaskan oleh Handi.


"Udah ah, jangan merayu terus. Mending lanjut makan lagi." Ajak Ayana.


"Iya. Nih aku makan lagi, sayang." Ucap Handi keceplosan menyebut Ayana dengan panggilan sayang.


"Eungg, kenapa jadi manggil sayang?" Protes Ayana.


"Upps, maaf Yana. Aku keceplosan. Habisnya kamu sih terlalu menggemaskan." Ujarnya.


Ayana kembali senyum senyum, tapi dia tetap melahap sarapan paginya dengan nikmat. Handi pun juga ikut menyantap sarapannya.


"Besok sepertinya aku harus segera kembali ke Jakarta." Ucap Handi tiba tiba.


"Loh, kenapa? Bukannya kamu yang mengajakku untuk tetap di sini menikmati liburan ini?" Tanya Ayana bingung.


"Mamaku masuk rumah sakit lagi, Yana." Ujarnya.


"Memangnya mama kamu sakit apa, Han?


Ternyata Ayana tidak tahu banyak tentang Handi. Dia bahkan tidak tahu bahwa Handi masih punya seorang ibu.


"Mamaku mengidap penyakit batu ginjal. Sudah dua kali menjalani operasi, tapi masih tetap belum bisa pulih seutuhnya. Mama masih harus bolak balik rumah sakit. Dan kali ini, katanya Mama harus kembali dioperasi." Tutur Handi menceritakan keadaan Mamanya.


"Ya Allah, kasihan mama kamu, Han. Aku bahkan tidak pernah bertanya tentang itu padamu. Maafkan aku, Han." Ucap Ayana prihatin.


"Tidak usah minta maaf, Yana."


Handi kembali tersenyum.


"Aku juga akan kembali ke Jakarta bersama kamu. Aku mau ikut kamu, aku mau ketemu sama mama kamu. Boleh, kan?" Tanya Ayana.


"Tentu boleh, Yana." Jawab Handi sambil tersenyum senang.


'Mamaku sudah sangat lama ingin mengenalmu, Yana. Selama ini Mama hanya bisa mendengar cerita tentangmu saja.' Pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2