Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 32 Apa aku keterlaluan?


__ADS_3

Farraz pulang dengan hati gembira karena lamarannya diterima oleh Elsa. Dia bertolak dari Bandung sore tadi dan kini baru sampai di rumahnya tengah malam. Sementara itu, Elsa masih di Bandung karena ada jadwal pemotretan disana. Farraz tidak bisa menemani kekasihnya itu di Bandung selama pemotretan, karena besok Farraz harus menghadiri acara rutin tahunan Perusahaan.


"Selamat malam Tuan." Sambut Hadijah yang membukakan pintu untuk majikannya itu.


"Malam." Jawabnya cuek.


Langkahnya terus melangkah menuju kamarnya. Namun, sebelum benar benar masuk ke kamarnya, Farraz malah melangkah menuju kamar Ayana. Dia membuka pintu kamar Ayana dan masuk ke kamar itu yang kebetulan tidak dikunci.


"Kamar yang sangat rapi." Ucapnya saat melihat keadaan kamar Ayana yang bersih, rapi dan wangi.


Kakinya melangkah menuju tempat tidur, lalu dia merebahkan tubuhnya disana.


"Hangat dan nyaman!" Serunya sambil memejamkan mata.


Beberapa saat kemudian, Farraz benar benar terlelap diatas tempat tidur Ayana.


"Kenapa tuan Farraz malah tidur di kamar Nyonya?" Ucap Hadijah heran.


Dia mengintip dari celah pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dan setelah melihat Farraz tertidur lelap, barulah Hadijah menutup rapat pintu kamar itu.


"Tuan Farraz kelihatan sangat merindukan Nyonya. Dasar laki laki. Bila ada di jaili, giliran nggak ada, malah rindu." Celoteh Hadijah sambil terus melangkah menuju kamarnya yang ada di belakang.


Sepeninggalan Hadijah, Farraz kembali membuka matanya. Dia menyadari dirinya berbaring di tempat tidur Ayana.


"Aku harus kembali ke kamarku." Bangkit dari posisi baring.


Drriittt…


Handphonenya bergetar. Elsa memanggilnya.


"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya Farraz.


"Sudah tiba di rumah?" Tanya Elsa.


"Sudah dong. Ini baru aja mau bobok." Jawabnya manja.


"Jangan lupa cuci tangan sama kaki dulu sebelum tidur." Ucap Elsa mengingatkan.


"Ehmm, maunya sama kamu. Aku rindu loh, padahal baru pisah beberapa jam yang lalu." Ucap Farraz dengan nada suara manja.


"Besok sore aku langsung ke Jakarta dan malamnya kita bertemu lagi." Ucapnya.


"Tentu sayang. Aku akan menjemputmu dan membawamu ke rumah ini."


Farraz benar benar bahagia dan merasa tidak sabar ingin segera berduaan lagi dengan Elsa dirumah.


"Bobok yang nyeyak ya sayang. Bye…" Ucap Elsa.


"Mmuuaacchh… bye sayang." Farraz memberikan sun secara virtual sebelum mengakhiri pembicaraannya dengan kekasihnya.


Bibirnya terus tersenyum bahagia, dan tubuhnya kembali berbaring di kasur empuk itu.

__ADS_1


"Tunggu!" Ucapnya seperti melupakan sesuatu.


"Aku harus memindahkan semua barang Ayana ke kamarku."


Dia bergegas mengumpulkan beberapa foto Ayana dan juga alat kosmetik Ayana. Tidak lupa dia juga membawa peralatan mandi Ayana dan baju baju Ayana. Lalu, dia membawa semua itu ke kamarnya. Menyusun semua barang itu dengan rapi di kamarnya. Sementara, kamar Ayana malah tampak seperti kamar kosong.


"Maafkan aku sayangku, aku tidak suka ada orang lain masuk ke kamarku. Khususnya kamarku di rumah ini. Kalau kamar di rumah Mama sih, masih bolehla. Tapi, kamar ini tidak boleh ada siapapun yang masuk." Celotehnya bicara sendiri.


Ting…


Notif pesan dari Ayana masuk ke handphone Farraz. Dengan segera dia membaca pesan tersebut.


((Ayana : Jika kamu membawa Elsa ke rumah,


tolong jangan membawanya ke kamarku.


Jika sampai itu terjadi, maka lebih baik


Perintahkan mbak Dijah mengemas


semua barangku.))


((Ayana : Aku akan langsung keluar dari rumah itu.


Karena, aku tidak mau menjadi bagian dari


hubungan haram kalian.))


"Apa aku keterlaluan?" Bertanya pada dirinya sendiri.


Lalu, dengan berat hati dia mengembalikan semua barang Ayana kembali kekamarnya.


...🍀🍀🍀...


Sejak pagi Ayana dan Handi sudah sangat sibuk mengerjakan beberapa hal tentang proyek. Mereka bekerja dengan semangat dan berharap pekerjaan mereka disukai oleh klien. Bahkan matahari sudah hampir tenggelam, Ayana dan Handi masih tetap semangat di lokasi untuk memantau proses awal pembangunan proyek itu.


"Yana, ini sudah hampir magrib loh. Bukannya tadi kamu belum sholat ashar!" Seru Handi mengingatkan.


"Tenang saja, Han. Aku sedang tidak boleh sholat. Jadi, aman untuk bekerja seharian." Ucapnya sambil tersenyum dan mengedipkan mata.


"Benarkah?"


Ayana mengangguk untuk meyakinkan Handi tentang kondisinya.


"Tapi, aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian di sini."


"Kenapa emangnya?" Tanya Ayana.


"Yaa… takut kamu diculik bule bule tampan." Ujarnya.


"Hahahaa…" Tawa Ayana menggelegar mendengar gombalan Handi.

__ADS_1


"Udah sana mandi. Udah mau magrib loh ini." Ayana meminta Handi untuk lebih dulu ke Hotel.


"Kamu gimana?" Handi mengkhawatirkan Ayana.


"Tenang aja, Han. Aku baik baik aja, kok. Udah gih pulang sana." Mengusir Handi.


Dengan langkah malas dan senyum terpaksa, Handi pun melangkah menuju mobil sewaan mereka. Dia pun langsung mengendarai mobil menuju hotel yang hanya berjarak kurang dari sepuluh menit perjalanan.


Sementara, Ayana masih di lokasi pembangunan proyek dengan beberapa pekerja bangunan dan juga arsitektur kepercayaan klien.


Drriitttt…


Handphone Ayana lagi lagi berdering dan itu panggilan dari Fikri.


Sebelum menjawab panggilan itu, Ayana meminta izin untuk sedikit menjauh dari lokasi. Dan setelah merasa agak sepi, barulah Ayana menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum, mas Fikri."


"Waalaikum, adik ipar. Bisa minta waktu sebentar?" Tanya Fikri.


"Wah, aku lagi sibuk banget, mas." Kilahnya.


Sebenarnya Ayana tidak begitu diperlukan lagi di lokasi, terlebih karena memang matahari sudah tenggelam. Tapi, Ayana sengaja beralasan seperti itu untuk menghindari Fikri yang ingin meminta waktunya.


"Aku sudah meminta izin untuk membawamu dan mereka mengizinkan." Ucap Fikri yang ternyata sudah berada di dekat leader tim nya.


Ayana cilingukan mencari keberadaan Fikri, hingga matanya menemukan sosok kakak iparnya itu yang melambaikan tangan padanya.


"Tetap disana. Aku yang akan menghampirimu." Ucap Fikri masih melalui sambungan telepon.


Dan saat Fikri mulai melangkah kearahnya, Ayana langsung mengakri pembicaraan lewat sambungan telepon itu.


'Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?' Batinnya yang merasa curiga pada kakak iparnya itu.


"Ikut aku, kita ke cafe dekat sini." Ajak Fikri yang sudah melangkah mendahului Ayana.


Meski berat, Ayana tetap melangkah mengikuti Fikri dari belakang.


"Jangan takut adik ipar. Aku tidak akan menyakitimu." Ucap Fikri sambil terus melangkah.


Setelah berjalan sekitar tiga menit, mereka tiba di cafe yang viral di sana. Merekapun masuk dan memesan minuman juga cake untuk santapan sambil ngobrol santai.


"Ini novel pertama dan cetakan pertama bestseller. Sudah ada sign penulisnya loh." Mengulurkan satu buku novel kepada Ayana.


"First Love. Ini novel pertama, mas Fikri?" Tanya Ayana sambil melihat sampul novel yang menarik itu.


"Iya. Dan novel itu terinspirasi dari cinta pertamaku." Ungkapnya.


"Aku akan membacanya saat ada waktu luang." Ujar Ayana sambil menaruh novel itu kedalam hand bag miliknya.


Lalu, mereka pun menikmati minuman dan cake yang sudah tersedia dihadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2