
"Ini rumah kamu?" Tanya Farraz.
Ayana mengangguk, lalu dia turun dari mobil dan langsung melangkah menuju teras rumahnya yang tetap tampak bersih meski sudah lama tidak ditempati. Itu karena, setiap Ayana berkunjung, dia akan membersihkan rumahnya sekaligus perkarangan rumahnya.
"Inilah istana tempatku dibesarkan. Tapi, aku tidak dilahirkan disini." Ujarnya.
"Lalu, kamu lahir dimana?" Tanya Farraz.
Dia ikut melangkah mendekati Ayana yang sedang membuka kunci pintu rumahnya.
"Aku lahir di kampung tempat kelahiran Ibu." Jawabnya.
Farraz menggangguk sebagai respon dari jawaban Ayana.
Sementara itu, tidak jauh diarah depan sana ibu ibu sedang bergosip.
"Lihat tu buk Rt. Ayana sudah semakin berani, siang bolong begini bawa lelaki ke rumahnya." Celoteh seorang tetangga.
Suaranya sangat lantang dan bisa didengar jelas oleh Farraz dan Ayana.
"Dia semakin merasa bebas, karena buk Rt tidak pernah menegurnya." Sahut ibu ibu lainnya.
Farraz terdiam mendengar nyinyiran ibu ibu itu pada Ayana. Sementara, Ayana yang sudah berhasil membuka pintu rumahnya pun langsung masuk ke rumahnya tanpa peduli dengan nyinyiran tetangganya itu.
"Ayo masuk. Tunggu apa lagi!" Seru Ayana.
"Mereka menggosipkan kamu. Apa kamu tidak merasa terganggu?" Ucap Farraz.
Raut wajahnya tampak kesal dan ingin membungkam semua mulut pedas ibu ibu tetangga yang bergosip itu.
"Aku sudah terbiasa dengan nyinyiran mereka. Lagi pula, apa untungnya membela diri dihadapan orang orang yang membenciku. Mereka hanya akan semakin memojokkan aku saat aku berusaha membela diri. Toh yang terpenting, aku sama sekali tidak sama dengan apa yang mereka pikirkan dan tuduhkan." Celotehnya panjang lebar.
Ayana terus masuk ke rumahnya dan langsung memeriksa kamarnya yang masih tetap rapi sama seperti saat terakhir kali dia berkunjung.
"Dasar ibu ibu nggak punya kerjaan." Rutuk Farraz geram.
"Biarkan saja lah, mereka memang nggak punya kerjaan lain selain menggosip!"
"Setidaknya kamu beri pembelaan dong. Bilang sama mereka kalau kamu nggak seperti yang mereka pikirkan." Celoteh Farraz yang sudah ikut masuk ke rumah.
"Pembelaan seperti apa? Haruskah aku mengatakan pada mereka bahwa aku membawa suamiku masuk kerumahku. Seperti itu?" Tanya Ayana yang sudah masuk ke kamarnya.
"Ya nggak seperti itu juga." Protes Farraz.
"Lalu pembelaan seperti apa!" Serunya dari dalam kamar.
"Entahlah, terserah kamu saja." Sahut Farraz yang malas berdebat.
__ADS_1
Dia kini melirik foto foto yang terpajang di dinding.
"Ini foto kedua orangtuamu?" Mengalihkan topik pembicaraan.
Ayana mendongak untuk memastikan foto yang dilihat Farraz adalah foto kedua orangtuanya.
"Iya. Itu ibu dan bapak." Jawab Ayana sambil tersenyum.
Farraz mengangguk, lalu dia pun akhirnya duduk di sofa ruang depan.
"Ampun dah, debunya tebal amat disini." Celotehnya.
Dia langsung berdiri lagi saat menyadari banyak debu di sofa.
"Rumah ini sudah lama tidak ditempati, makanya banyak debu." Ujar Ayana yang langsung melangkah menuju sofa di dekat Farraz.
Ayana langsung menyapu debu debu halus yang mungkin menempel di sofa.
"Hhm, ini bukan debunya yang tebal, kamu nya aja yang berlebihan." Rutuk Ayana kesal.
"Kalau nggak mau duduk di sini, keluar aja dari sini. Noh, duduk di mobil sana." Usirnya.
Lalu Ayana kembali melanjutkan pekerjaanya. Tadinya Ayana sudah selesai berberes di kamarnya dan kini dia akan berberes di dapur dan kamar mandi.
Sementara Farraz sudah kembali duduk di sofa yang sudah dibersihkan oleh Ayana barusan.
"Pulang saja duluan. Lagi pula aku tidak pernah mengajakmu untuk ikut aku kesini." Sahutnya dari dapur.
Mendengar itu membuat Farraz menoleh kearah dapur. Sudut bibirnya menunjukkan betapa kesalnya dia ketika Ayana menyindirnya dan memintanya untuk pulang duluan.
"Dasar nenek sihir, tidak punya perasaan, tidak punya rasa terimakasih. Harusnya kamu merasa beruntung karena aku mau ikut ke rumah kecil ini." Rutuknya pelan agar tidak didengar oleh Ayana.
Dan akhirnya Farraz merebahkan tubuhnya di sofa itu. Sambil berbaring santai, dia pun menyibukkan tangan dan matanya untuk fokus pada handphonenya.
...🍀🍀🍀...
"Ini sudah hampir setengah jam loh, buk Rt. Mereka masih belum keluar dari rumahnya. Apa buk Rt masih tetap tidak mau menegurnya?" Rutuk seorang ibu ibu.
"Benar tu buk Rt. Harusnya kita grebek saja mereka. Kita tangkap dan langsung bawa ke balai desa." Sambung ibu lainnya.
"Ayana benar benar sudah gila. Demi membayar hutang orangtuanya dia membawa lelaki ke rumahnya siang bolong begini. Menjijikkan." Seru yang lain.
"Jangan berpikir negatif dulu ibu ibu. Mana tau itu saudara jauhnya Ayana." Ucap buk Rt mengingatkan agar tidak terus terusan berburuk sangka pada Ayana.
"Buk Rt selalu saja membela Ayana, hanya karena Ayana pernah membantu buk Rt, kan?" Rutuk mereka.
Kemudia mereka saling berbisik dan merasa geram pada buk Rt yang tidak mau menggerebek Ayana.
__ADS_1
"Buk ibu, baik saya akan ke sana untuk memastikan kondisi disana. Saya akan menegur Ayana!" Teriak buk Rt menegaskan.
Dia pun melangkah menuju rumah Ayana. Sementara ibu ibu lainnya ikut melangkah perlahan, mereka penasaran ingin melihat apa yang dilakukan Ayana di dalam rumahnya, berduaan dengan lelaki pula.
Saat buk Rt tiba di depan rumah Ayana, dia mendapati pintu rumah Ayana terbuka lebar. Sehingga dia memberanikan diri untuk melangkah masuk ke perkarangan rumah Ayana.
"Permisi, dek Ayana!" Serunya saat sudah berdiri di depan teras rumah Ayana.
Suara buk Rt, membuat Faraz yang tadi berbaring di sofa langsung duduk dan menoleh pada buk Rt.
"Ada apa, buk?" Tanya Farraz dengan ekspresi wajah datar.
"Maaf, mas… dek Ayananya ada?" Tanya buk Rt ragu.
Farraz tidak menjawab, dia hanya mendongakkan kepalannya kearah dapur.
"Ayana, ada tamu!" Teriaknya memberitahu Ayana tentang kedatagan buk Rt.
"Siapa?" Sahut Ayana dari dapur.
"Siapa buk?" Tanya Farraz pada buk Rt.
"Saya buk Rt disini." Ucapnya ragu.
"Katanya buk Rt." Teriak Farraz lagi.
Mendengar itu, Ayana pun langsung melangkah keruang depan.
"Buk, silahkan masuk." Ajak Ayana pada buk Rt.
Buk Rt pun langsung masuk dan duduk di disofa yang berhadapan dengn Farraz.
"Ada perlu apa, buk?" Tanya Ayana yang ikut duduk di dekat buk Rt.
"Maafkan ibu, dek Yana. Ibu hanya ingin memastikan sesuatu." Jawabnya.
"Memastikan apa, buk?"
Buk Rt tidak langsung menjawab. Dia terlihat gugup dan terlihat seperti sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan tujuan kedatangannya pada Ayana.
"Bagini, dek Yana…" Melirik pada Farraz yang tetap fokus pada handphonenya.
"Ibu hanya ingin menanyakan, sebenarnya apa hubungan kalian? Sebab rasanya tidak enak dipandang warga sini, karena kalian di dalam rumah hanya berduaan saja." Ungkap buk Rt terbata bata dan ragu.
Ayana tersenyum saja menanggapi pertanyaan buk Rt padanya. Sementara, Farraz langsung menatap tajam pada buk Rt.
"Asal ibu tahu, sebenarnya saya adalah sua…" Farraz menghentikan ucapannya saat sadar hampir keceplosan.
__ADS_1
Sedangkan Ayana menunduk dan memejamkan matanya. Dia tidak percaya Farraz langsung menjawab pertanyaan buk Rt tampa berpikir terlebih dahulu.