
"Hari ini saja lagi, Pa. Please, Pa. Aku lagi menikmati kebersamaan dengan Ayana."
"Iya, Pa. Aku janji besok sudah muliai kerja lagi."
"Ok, siap Papa." Farraz mengakhiri pembicaraannya dengan Papa melalui sambungan telepon.
"Siapa, mas?" Ayana baru saja keluar dari kamar mandi.
"Papa. Dia bilang kita harus masuk kerja hari ini."
"Kalau begitu bersiaplah, Mas. Kita berangkat ke kantor sekarang." Ajak Ayana yang tidak sadar dirinya masih memakai pakaian kemarin.
"Mas minta izin sehari ini saja lagi."
"Kita masih harus menemui WO dan MUA, sayang." Mencium pipi Ayana.
"keringkan rambutmu, berdandan yang rapi. Mas tunggu di loby!" Seru Farraz sebelum keluar dari kamar.
Ayana pun segera mengeringkan rambutnya, lalu memakai jilbabnya kembali. Saat merasa sudah rapi, Ayana langsung menyusul Farraz.
Mereka berangkat dari hotel menuju WO kenalan Farraz. Setelah tiba di tujuan, Farraz langsung berdiskusi untuk membicarakan gaya pesta yang diinginkannya. Dan ternyata, sudah ada Mua langsung dari mereka yang juga dipercayai Farraz untuk membuat istrinya tampil secantik mungkin.
Belum pukul sebelas siang, urusan mereka sudah selesai. Farraz langsung membawa Ayana untuk makan siang, kemudian mereka pulang.
"Sungguh hari yang melelahkan." Ucap Ayana saat tiba di rumah. Dia berbaring diatas ranjang, perlahan matanya mengatup hingga dia pun terlelap. Sedangkan Farraz sudah lebih dulu terlelap dikamarnya sendiri.
Niatnya Farraz hanya akan berbaring sebentar lalu kembali ke kamar Ayana. Eh nyatanya dia malah tertidur pulas. Rasanya mengurus persiapan pesta sangat menlelahkan, jauh lebih melelahkan dari bekerja seharian di kator.
__ADS_1
.
.
.
Farraz membuka matanya saat deringan ponselnya memekakkan telinga.
"Halo."
"Mama? Ada apa, Ma?"
"Aku baru bangun. Hah, Ayana? Mungkin dia di kamarnya, Ma."
"Bukan begitu, Ma. Niatnya tadi Ayana mau memindahkan barang barangnya ke kamarku. Aku juga tadi mau membantunya, tapi sepertinya dia ketiduran."
"Mama bisa aja. Kami hanya saling mengobrol dan yah, mama tahu lah apa yang dilakukan suami istri saat malam hari." Farraz benar benar belum sadar seutuhnya, sehingga dia bicara ngawur blak blakan pada Mamanya tanpa rasa malu.
"Iya, Ma, bye." Panggilan berakhir. Dengan Malas Farraz melangkah menuju kamar Ayana. Dilihatnya Ayana masih terlelap diatas tempat tidurnya.
"Maafkan suamimu ini, sayang. Tapi, kamu juga setuju kan tadi malam." Membelai lembut wajah Ayana. Kecupan pun diberikannya di kening Ayana. Lalu, Farraz pun ikut berbaring disebelah Ayana.
"Peluk!" Ujar Ayana yang masih memejamkan mata. Farraz tersenyum dan langsung meneluk tubuh Ayana. Dibelainya lembut punggung Ayana, sehingga mereka kembali terlelap lagi.
Sebelum Magrib mereka sudah bangun, dan siap mandi. Lalu melaksanakann sholat magrib berjamaah. Setelah itu, Farraz meminta ditemani makan ayam geprek lagi.
"Kalau yang kemarin malam itu, jam segini sudah habis, Mas." Ujar Ayana yang menghias wajahnya.
__ADS_1
"Memang nggak ada tempat lain?"
"Ada, tapi ya nggak seenak sambal ijo yang itu."
"Ya nggak apa apa, lah. Yang penting ayam geprek. Kalau bukan ayam geprek rasanya malas makan." Ayana tersenyum mendengar ucapan suaminya yang sudah menjadi fans berat ayam geprek.
"Ya udah, ayok lah berangkat." Ajak Ayana.
"Sudah siap?" Memeriksa tampilan Ayana yang tampak lebih fresh dari sebelum sebelumnya.
"Aura pengantin barunya kentara banget di wajah, sayang." Bisik Farraz sambil merangkul Ayana untuk segera menuju mobil.
"Memangnya aura pengantin baru itu seperti apa, mas?" Tanya Ayana saat mereka sudah dalam perjalanan menuju kedai ayam geprek.
"Ya, aura yang lebih fresh gitu. Seperti sayang saat ini. Banyak senyum, bibirnya tampak merah merekah, pipimu yang tampak lebih tirus, plus mata panda."
"Mhm, Ih iya loh mata aku benar benar kayak mata panda." Memeriksa di cermin.
"Malam ini mau lagi nggak?"
"Nggak ah, iih dasar laki nggak pernah ada puasnya." Rutuknya kesal. Dia masih sangat jelas mengingat tadi malam saat Farraz yang selalu meminta lagi dan lagi hingga dia tidak bisa tidur sebentar saja.
"Bercanda sayang. Aku memang nggak akan pernah puas, tapi hanya sama kamu ya. Pengennya mau lagi dan lagi dan lagi dan la..." Ayana mengecup bibir Farraz untuk menghentikan ucapannya yang membuat Ayana merasa nyilu didaerah tertentu.
"Udah berani nyosor duluan loh sekarang." Goda Farraz.
"Mas kok malah jadi cerewet sekarang. Padahal dulunya sok cool gitu."
__ADS_1
"Cerewetnya cuma sama kamu seorang Ayana Yunita my wife, one and only." Menggenggam tangan Ayana erat. Farraz benar benar jatuh dalam pesona janda tua yang dulu selalu diwanti wantinya. Kini tidak sedetikpun saja dia sanggup berpisah dengan Ayana. Baginya Ayana adalah dunianya.