
Ayana dan Farraz duduk berhadapan sambil menyantap makan malam mereka. Tidak ada pembicaraan apapun saat itu. Hanya terdengar suara dentingan sendok bertemu piring saja. Kerena keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing masing.
'Apa dia sudah memaafkanku?' Pikir Farraz.
Sesekali dia melirik pada Ayana yang terus fokus menikmati makanan dipiringnya.
'Harusnya tadi aku rekam saat seorang Farraz Ehsan mengatakan maaf.' Pikir Ayana.
Dia menahan keinginannya untuk tersenyum dengan mengunyah cepat makanan dimulutnya.
Saat sibuk dengan pikiran masing masing, tanpa sadar mereka menusuk daging ayam goreng yang tinggal satu satunya itu dengan garpu mereka. Sehingga membuat mereka saling bertatapan sesaat, berakhir dengan memperebutkan ayam goreng itu.
Farraz menarik kuat garpunya yang tertancap pada daging ayam goreng itu. Ayana juga melakukan hal yang sama. Ayana bertekad, kali ini dia tidak ingin dikalahkan atau ditindas lagi oleh Farraz.
"Mbak Dijah sih, ngoreng ayamnya cuma dikit!" Seru Mamat yang sejak tadi mengintip dari dapur.
Dia menyalahkan Hadijah yang menggoreng ayam hanya sedikit.
"Kok aku yang disalahkan. Mereka aja yang rakus. Itu ada enam potong ayam goreng, kok. Bisa untuk tiga kali makan." Rutuk Hadijah tidak terima disalahkan.
Saat Mamat dan Hadijah saling salah menyalahkan. Tiba tiba saja, mereka mendengar suara gelak tawa Ayana. Sontak saja mata mereka melirik kearah sumber suara.
Kejadiannya, Ayana melepaskan garpunya dari ayam goreng itu, hingga punggung Farraz terhantuk kesandaran kursi. Itu karena Farraz menarik ayam goreng yang tertusuk garpunya dengan sangat kencang.
"Hahahha…"
Ayana terus tertawa. Dia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena menertawakan Farraz.
"Nggak ada yang lucu, Ayana!" Seru Farraz kesal.
"Segitu bersemangatnya kamu ingin mendapatkan ayam goreng itu." Ucap Ayana yang masih tertawa.
Raut wajah kesal Farraz perlahan berubah menjadi senyum malu malu saat menyadari apa yang dikatakan Ayana barusan. Lalu, dia pun ikut tertawa meski tidak sekencang suara tawa Ayana.
"Nih buat kamu." Farraz meletakkan ayam goreng itu di piring Ayana.
Seketika tawa Ayana berhenti saat melihat Farraz memberikan ayam goreng yang susah payah direbutnya itu.
"Loh, bukannya kamu sangat menginginkan ayam goreng ini?" Tanya Ayana.
"Nggak kok. Aku hanya ingin memberikannya langsung padamu. Sebagai permintaan maaf atas kekasaranku tadi siang." Ungkapnya.
__ADS_1
Ayana terdiam mematung mendengar pengakuan Farraz barusan. Sedangkan Farraz sendiri, sudah berdiri hendak meninggalkan meja makan.
"Kenapa kamu melakukan itu padaku?" Tanya Ayana tanpa menatap Farraz.
Farraz yang tadi hendak melangkah pergi pun mengurungkan niatnya. Dia membalikkan badannya agar kembali berhadapan dengan Ayana.
"Entahlah. Mungkin, karena aku terlalu kesal pada Putri." Jawabnya.
"Kamu kesal pada Putri, lalu aku yang menjadi sasaran kekesalanmu?" Ujar Ayana merasa tidak terima dengan alasan yang diucapkan Farraz.
"Aku punya harga diri, Raz. Aku memang dulunya seorang janda dan aku juga sudah tua menurutmu. Tapi, asal kamu tahu, aku bukan wanita murahan yang bisa dengan seenaknya kamu sentuh." Ucap Ayana menegaskan.
Farraz hanya diam mendengarkan celoteh kesal Ayana padanya.
"Aku harap, jika suatu saat kamu kesal atau marah dan mungkin punya masalah dengan kekasihmu atau siapapun, tolong jangan menyentuhku dengan paksa."
Ayana mencoba menatap wajah Farraz yang ternyata tertunduk tanpa berani menatapnya.
"Aku istri sahmu, Raz. Pernikahan kita sah secara Agama dan Negara. Meski kamu terpaksa menikahiku dan terus berusaha menyembunyikan pernikahan ini dari semua orang sekipun, aku tetap istrimu, Raz. Jadi, tolong jangan memperlakukan aku dengan buruk." Tutur Ayana.
"Tidak, kamu tidak perlu memperlakukan aku layaknya sebagai seorang istri. Cukup lihat aku sebagai seorang wanita yang mencoba menjaga kesucian dirinya dari sentuhan lelaki hidung belang. Hanya itu Raz. Dan aku janji tidak akan pernah ikut campur masalah pribadimu." Ucapnya menegaskan.
"Kamu berhak menceraikan aku kapanpun kamu mau. Karena memang pernikahan ini tidak menguntungkan siapapun. Semua ini hanya sekenario yang dipaksakan oleh kedua orangtuamu. Dan mereka tahu kalau kita tidak saling mencintai. Jadi, aku rasa lebih baik kamu segera menceraikan aku sebelum aku benar benar semakin membencimu."
"Jadilah sahabatku. Aku butuh seseorang untuk aku ajak berbincang dan berdiskusi. Aku butuh pigur seorang kakak atau sahabat yang bisa menjadi panutan untukku menjalani kehidupan membosankan ini. Dan aku juga berjanji tidak akan menyentuhmu tampa izin. Aku juga janji tidak akan ikut campur urusan pribadimu." Ucap Farraz.
Sejenak Ayana terdiam. Dia tidak tahu harus memberi tanggapan apa atas permintaan Farraz.
"Baik, tapi dengan syarat." Ucap Ayana tegas.
"Syarat apa?" Tanya Farraz penasaran.
"Jika aku jatuh cinta pada seorang pria, maka kamu harus melepaskan aku segera. Dan aku juga akan pergi dengan sendirinya jika kamu sudah lebih dulu berhasil menikah dengan Elsa." Ucapnya.
"Dan kita tidak perlu berpura pura didepan Mama dan Papa." Sambung Ayana.
"Baik aku setuju. Dan ingat satu hal, bahwa pernikahan ini akan berakhir sampai aku sendiri yang mengakhirinya." Tegas Farraz menanggapi syarat dari Ayana.
Ayana terdiam mendengar kalimat terakhir yang Farraz ucapkan. Menurutnya kalimat itu terdengar ambigu dan bertentangan dengan syarat yang diajukannya. Tapi, saat dia ingin protes, Farraz sudah melangkah pergi menuju kamarnya.
"Nyonya!" Seru Hadijah yang melangkah tergesa menghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa, mbak?' Tanya Ayana bingung.
"Handphone tuan Farraz tadi ketinggalan di mobil." Ucapnya.
Hadijah memberikan handphone Farraz pada Ayana.
"Tadi, saat mau memasukkan mobil tuan ke garasi, handphonenya bergetar Nyonya. Spertinya ada panggilan masuk." Jelas Mamat yang ikut mengekor dibelakang Hadijah.
"Mbak Dijah atau kang Mamat saja yang memberikan handphone itu pada tuan Farraz." Ayana menyarankan.
Dia tidak mau menemui Farraz malam ini. Dia masih belum bisa seutuhnya melupakan kejadian menakutkan tadi siang.
"Kamu aja, Mat." Suruh Hadijah.
"Mbak Dijah aja." Kilahnya.
Saat mereka sibuk berdebat untuk menentukan siapa yang akan mengantarkan handphone itu pada Farraz, telepon rumah malah berdering. Dan Ayana langsung bergegas meraih ganggang telepon.
"Assalamualaikum, selamat malam. Disini kediaman Farraz Ehsan. Ada yang bisa saya bantu?" Sambut Ayana ramah.
"Bisa saya bicara sama Farraz?" Tanya wanita diujung sana.
Ayana mencoba mengingat suara yang terdengar tidak asing ditelinganya itu.
"Kalau boleh tahu, saya bicara dengan siapa, ya?" Tanya Ayana.
"Saya Elsa, kekasihnya Farraz Ehsan."
Kepala Ayana mengangguk paham. Rupanya telinganya tidak salah mengingat suara orang.
"Sebentar saya panggilkan tuan Farraz." Ucap Ayana.
Dia melirik kearah Hadijah dan Mamat yang sudah berhenti berdebat, sejak melihat ayana menjawab panggilan melalui telepon rumah.
"Tunggu. Kalau boleh tahu, saya bicara dengan siapa?" Tanya Elsa curiga.
"Saya Hadijah, pembantu di rumah baru tuan Farraz." Jawab Ayana tanpa ragu.
"Biklah. Bi Hadijah, tolong panggilkan Farraz. Katakan saya menelpon dan ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Perintahnya.
"Baik nona Elsa." Jawab Ayana mencoba meniru gaya Hadijah.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE & KOMENNYA JUGA TEMAN TEMAN.
TINGGALKAN JEJAK KALIAN, AGAR AUTHOR TAHU BAHWA KARYAKU INI ADA YANG MENYUKAINYA. SEHINGGA AKAN MEMBERIKAN SEMANGAT UNTUK AUTHOR DALAM MENULIS NOVEL SERIAL INI.