Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 48 Menguping


__ADS_3

Seminggu yang lalu.


Jam kerja sudah usai, tapi Ayana malas pulang kerumah. Dia merasa malas untuk bertemu dengan Farraz yang selalu menceritakan hubungannya dengan Elsa.


"Apa aku ajak Arumi ke mall aja kali, ya?" Gumamnya.


Ayana pun langsung menghampiri Arumi di ruangannya. Namun, saat hendak melambaikan tangan pada Arumi, Handi malah lebih dulu menghampiri Arumi.


"Sudah mau pulang?" Tanya Handi pada Arumi.


"Iya, Pak. Ada apa?"


Arumi pun mengurungkan niatnya untuk segera pulang.


"Ada hal yang ingin saya tanyakan."


"Tentang apa, Pak? Atau ada laporan yang…"


"Tidak, bukan. Ini tentang hal lain."

__ADS_1


Arumi mengangguk paham dan tersenyum. Sementara Handi malah duduk di kursi depan meja Arumi. Dan Ayana masih berdiri di tempatnya tadi, sembari menunggu Handi selesai bicara pada Arumi.


"Saya mau minta tolong berikan pendapat kamu tentang masalah saya ini." Ucapnya.


"Baik, pak. Saya akan bantu sebisanya."


Handi mulai bicara. Rupanya dia menceritakan kisah cintanya ke pada seorang wanita yang diyakini Ayana adalah dirinya. Pembicaraan mereka semakin membuat Ayana penasaran, hingga dia masih tetap berada di sana untuk menguping.


"Jadi, pak Handi juga tidak bergitu pasti apakah wanita itu mencintai bapak?" Ulang Arumi.


"Iya. Tapi, saya merasa sudah tidak bisa menahan perasaan ini lagi, dan saya berpikir untuk mengungkapkannya. Tapi, saya takut setelah saya mengungkapkan perasaan saya, khawatirnya dia mungkin tidak akan mau lagi berteman dengan saya."


"Tidak sama sekali. Dia wanita yang sangat baik dan dewasa dalam menyikapi banyak hal."


"Apa menurut pak Handi dia sedang dekat dengan seseorang?"


"Tidak juga. Saya rasa, saya satu satunya yang paling dekat dengannya."


Arumi mengangguk. "Boleh saya memberi saran, pak?"

__ADS_1


"Ya, silahkan."


"Andai saya yang berada di posisi pak Handi, saya tidak akan mengungkapkan perasaan saya."


"Kenapa?"


"Karena sedikit sekali kemungkinan wanita itu menyukai pak Handi lebih dari teman. Kalau saya, hanya akan mengungkapkan perasaan saya, jika saya benar benar yakin orang yang saya suka juga menyukai saya. Karena, bagi saya mengungkapkan perasaan pada seseorang yang tidak menyukai saya hanya akan membuang waktu saja." Tutur Arumi.


Handi mengangguk paham dengan penuturan Arumi. "Tapi saya mungkin memilih untuk mengungkapkannya, karena saya ingin tahu, bagaiamana saya harus bersikap terhadap orang yang saya suka. Yah, jika ternyata dia tidak menyukai saya, maka saya akan kembali memperlakukan dia sebagai teman saja. Iya, kan?" Ucap Handi.


"Iya. Pak Handi benar. Dan saya hanya memberi pendapat saya sesuai keinginan pak Handi. Jika pada akhirnya pak Handi akan mengungkapkan isi hati pak Handi, maka silahkan. Dan itu artinya pak Handi sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi."


"Tentu. Saya akan mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum menyatakan perasaan saya pada dia."


"SEMANGAT, pak Handi. Semoga bapak berhasil."


Arumi mencoba memberikan dukungan pada Handi. Meski Arumi tidak tahu siapa wanita beruntung yang mendapat cinta seorang Handi, Arumi yakin Handi akan berhasil kali ini. 'Toh, wanita mana yang akan menolak pria seperti pak Handi.' Gumam Arumi dalam hati.


Ayana terdiam sesaat, saat mendengar pembicaraan Handi dan Arumi. Kemudian, dia pun melangkah perlahan menjauh dan menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Dia mengurungkan niatnya untuk mengajak Arumi ke Mall. Karena saat ini dia merasa akan menghampiri resto kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2