Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 29 Liburan


__ADS_3

Setelah tiba di depan bandara, Ayana langsung turun dari mobil tanpa mengucapkan apa apa pada Farraz. Begitu juga dengan Farraz, dia hanya memarkir mobilnya sanngat sebentar, setelah Ayana turun dan mengambil kopernya, Farraz langsung melajukan mobilnya pergi entah kemana.


"Kenapa dengan hatiku? Kenapa harus ada perasaan sakit ini. Padahal memang sejak awal aku tahu pernikahan ini hanya karena terpaksa." Gumamnya mengingatkan pada dirinya sendiri yang terus terusan merasa sakit tanpa alasan.


Dengan langkah semangat, Ayana bergegas mencari keberadaan Handi. Dan saat dia masih celingukan mencoba menemukan Handi, malah Handi lebih dulu melihat kedatangan Ayana.


"Yana!" Teriaknya sambil melambaikan tangan pada Ayana.


Telinga Ayana yang mendengar namanya dipanggil, mengintruksikan matanya untuk menoleh ke sumber suara. Begitu matanya melihat siapa pemilik suara yang memanggilnya, senyumpun terlihat dibibirnya. Lambaian tangan juga dia arahkan pada Handi.


Dia melangkah semakin mendekat, dan barulah dia menyadari, ternyata Handi tidak sendirian. Ada Fikri juga disana yang menatapnya dengan aneh.


'Kenapa ada mas Fikri? Apa yang dia lakukan disini?' Pikir Ayana heran.


"Hai adi… Ayana." Sapa Fikri yang hampir saja memanggil Ayana dengan sebutan adik ipar.


Ayana sudah terlihat gaduh saat mendengar Fikri hampir menyebutnya adik ipar.


"Hai…" Jawab Ayana acuh.


"Yana, kita satu penerbangan sama Fikri." Jelas Handi merasa senang.


'Alamak, kenapa harus ketemu lagi sama mas Fikri.'


Ayana sangat merasa tidak nyaman dengan kehadiran Fikri diantara mereka. Tapi, apa boleh buat toh semua ini hanya kebetulan yang tidak bisa dihindari.


"Kamu kenapa, Yana? Kamu sakit?" Tanya Handi khawatir saat melihat raut wajah Ayana yang awalnya ceria, berubah menjadi sendu.


"Nggak kok, Han. Aku hanya tidak sabar untuk segera tiba di Singapur." Kilahnya.


"Benarkah?"


Ayana mengangguk agar Handi percaya padanya.


"Syukurlah. Aku khawatir kamu sakit." Ungkap Handi.


Ungkapan yang terdengar gombal itu membuat Ayana tersenyum malas. Dan Fikri tersenyum geli. Dia tidak pernah mendengar Handi gombal pada wanita manapun sebelumnya. Sehingga saat mendengar Handi gombal, malah terdengar menggelikan ditelinganya.


"O iya, Yana. Aku sama Fikri sahabatan loh. Dan kita sudah sangat lama tidak pernah ketemu, sejak dia menikah." Jelas Handi.


Hanya anggukan dari Ayana sebagai respon dari penjelasan Handi tentang hubungannya dengan Fikri.

__ADS_1


"Apa kalian pacaran?" Tanya Fikri tiba tiba.


Handi tersenyum malu malu sambil menepuk nepuk pundak Fikri mendengar pertanyaan dadakan itu. Sedangkan Ayana malah diam saja dan bertingkah seakan tidak mendengar pertanyaan itu.


"Pasti kalian pacaran diam diam dibelakang Farraz, kan?" Fikri menggoda mereka.


"Tidak ada yang berpacaran. Lagipula usia kita sudah terlalu matang untuk pacaran pacaran seperti ABG." Tegas Ayana.


Dengan tanpa alasan, dia merasa Fikri seakan menuduhnya berselingkuh.


"Iya, kita hanya rekan kerja saja." Ucap Handi.


Raut wajahnya tampak jelas mengatakan kecewa atas jawaban Ayana yang langsung menolaknya bahkan sebelum dia sempat menyatakan perasaan tulusnya.


Lalu, beberapa saat kemudian terdengarlah pengumuman keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka terbang ke Singapur, mereka harus segera menuju pesawat, karena penerbangan ke Singapur akan segera berangkat.


Ayana sangat bersyukur mendengar pengumuman itu, sehingga dia bisa terbebas dari pertanyaan lain yang mungkin saja dilontarkan lagi oleh Fikri pada mereka.


...🍀🍀🍀...


Mobil Farraz tiba di depan gedung apartemen Elsa. Dan di sana, Elsa sudah menunggunya. Elsa tampil sangat cantik hari ini. Semuanya special untuk Farraz.


"Hai sayang. Sudah lama nunggunya?" Tanya Farraz.


"Kita berangkat sekarang, ya." Ajak Farraz.


Elsa mengangguk setuju. Lalu mereka segera masuk ke mobil dan mobilpun melaju berpacu dijalan raya.


"Kita mau kemana, Raz?" Tanya Elsa.


"Kita akan berkeliling dunia, sayang. Hanya kita berdua."


Farraz memegang tangan Elsa, membawanya untuk diciumnya punggung tangan lembut kekasihnya itu.


"Raz, aku bahagia banget hari ini." Ungkapnya yang langsung menyenderkan kepalanya dibahu Farraz.


"Aku juga sangat bahagia sayang." Ungkap Farraz.


Kali ini ucapan dan perlakuan Farraz padanya terasa nyata dan tulus. Ya, Elsa bahkan bisa merasakan ketulusan hati Farraz yang dulu saat awal pacaran pernah dirasakannya.


'Selalu seperti ini, Raz. Aku sangat takut kehilangan kamu.' Ungkapnya dalam hati.

__ADS_1


Farraz sama sekali tidak risih dengan Elsa yang terus bermanja padanya. Dia malah merasa sangat senang, dan berharap bisa segera melamar kekasihnya itu dan segera menikahinya.


Sangking lamanya mereka berkendara, Elsa sampai ketiduran. Dia benar benar terlelap nyenyak tanpa terganggu saat Farraz berhenti isi bensin dan berhenti membeli selimut untuknya. Bahkan saat Farraz menyelimuti tubuhnya pun, dia tidak sadar sama sekali.


"Tidur yang sangat lelap." Ucap Farraz.


Sebelum kembali melanjutkan perjalanannya, dia menatap lekat wajah kekasihnya, hingga akhirnya dia menempelkan bibirnya di bibir milik kekasihnya itu. Dan itu hanya sebentar, karena yang punya bibir masih tetap terlelap.


Kini mobil Farraz sudah memasuki Bandung, tapi mobilnya masih terus melaju dan belum ada tanda tanda mau singgah. Karena rupanya, tujuan Farraz adalah pantai santolo Garut. Dia ingin menghabiskan waktu berduaan dengan kekasihnya di sana. Farraz juga sudah memesan kamar hotel untuk mereka menginap malam ini dan akan pulang besok sore.


Perjalanan kali ini seperti berbulan madu saja. Itu karena Farraz ingin melamar Elsa disana. Tepat di pinggir pantai Santolo. Dia akan meminta Elsa untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Semoga cincin ini pas dijari manismu, sayang." Ucap Farraz.


Dia mengeluarkan sepasang cincin yang sudah disiapkannya sebelum hari ulangtahunnya waktu itu. Tapi, ternyata dia gagal melamar kekasihnya karena jebakan kedua orangtuanya yang sengaja ingin menggagalkan pertunangannya.


"Aku akan segera memakaikan cincin ini dijari manismu, sayang." Ucapnya sambil menatap wajah lelap Elsa.


Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih enam jam, akhirnya Farraz tiba di tujuannya. Tapi, sebelum benar benar ke pantai, dia membawa Elsa ke resto untuk makan siang terlebih dahulu.


"Sayang, kita sudah sampai. Bangun yuk, makan dulu." Mengelus lembut tubuh Elsa.


Perlahan dia membuka mata, lalu celingukan melihat keluar mobil. "Kita dimana?"


"Kita di Garut, sayang."


"Apa?" Teriaknya agak kaget.


Matanya yang tadi masih enggan membuka, kini sudah terbuka lebar saat mengetahui bahwa kini mereka sudah berada di Kabupaten Garut, Bandung.


"Kita mau kemana sebenarnya, Raz?" Tanya Elsa masih bingung.


"Sekarang kita makan dulu. Aku lapar. Setelah itu baru kita ke pantai Santolo." Jelasnya.


"Pantai santolo!" Ulangya.


"Iya, sayang." Jawab Farraz sambil membantu Elsa melepas sitbeltnya.


Merekapun masuk ke resto untuk mengisi perut yang terasa sangat lapar. Dan Farraz benar benar menperlakukan Elsa dengan sangat lembut dan mesra. Seperti memotongkan daging untuk Elsa dan mengelap bibirnya yang kotor terkena makanan.


'Tuhan, semoga ini bukan mimpi belaka. Dan jika ini mimpi, maka tolong jangan bangunkan aku.'

__ADS_1


Elsa berdoa dalam hatinya. Dia benar benar tidak ingin mengakhiri keindahan hari ini bersama Farraz yang sangat memperlakukannya dengan lembut dan mesra.


__ADS_2