Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 23 'Sorry'


__ADS_3

Setelah meeting dan menghadiri beberapa acara pertemuan dengan Klien, akhirnya Farraz bisa pulang. Saat ini, dia sudah dijalan, mengendarai mobilnya menuju studio foto untuk menjemput Elsa yang ada pemotretan untuk majalah dewasa di sana.


Setelah berkendaraan hampir dua puluh menit, akhirnya dia tiba di depan studio.


Rupanya Elsa sudah menunggunya. Dia duduk manis di sofa sambil memotret dirinya di cermin besar yang sengaja disediakan di sana. Hingga akhinya matanya melihat mobil Farraz yang baru saja parkir di depan studio.


Dia pun melangkah cepat menghampiri kekasihnya itu.


"Sayang." Panggilnya saat tiba di depan mobil.


"Lama, ya nunggunya?" Tanya Farraz sambil membuka pintu mobil untuk Elsa.


"Nggak juga kok." Jawabnya.


Kini mereka sudah berada didalam mobil. Lalu, tiba tiba saja Elsa menempelkan bibirnya di pipi Farraz.


"Miss you." Ucapnya kemudian.


Dia menyenderkan kepalanya di bahu Farraz yang masih tercengang karena tiba tiba mendapat ciuman darinya.


"Kita langsung pulang atau mau makan dulu?" Tanya Farraz yang mulai melajukan mobilnya.


"Beli makanan, terus pulang. Kita makannya dirumah aja. Aku capek banget soalnya." Rengeknya manja.


"Ok." Jawab Farraz singkat.


Perlahan Elsa menegakkan kepalanya yang tadi bersandar dibahu Farraz. Dia pun mencoba tersenyum, padahal hatinya merasa sedih. Farraz terasa sangat cuek, dingin dan berbeda dari kemarin, tadi malam dan tadi pagi. Kini, Farraz seakan kembali ke mode Farraz yang lama. Farraz yang dingin dan cuek.


"Gimana kerjaan kamu? Banyak banget ya?" Tanya Elsa sekedar basa basi untuk menepis rasa sedihnya.


"Sangat banyak dan membuat kepalaku pusing. Bahkan rasanya aku sangat lelah." Ungkapnya tanpa menoleh pada Elsa.


"Ya sudah, kalau gitu kita langsung pulang aja. Nanti aku yang masak untuk makan malam. Kamu bisa tiduran dulu sambil nunggu masakannya siap." Sarannya.


"Boleh juga. Tapi, apa kamu nggak capek harus masak lagi. kamu juga capek saat ini, kan?" Ucap Farraz.


Elsa tersenyum senang. Perhatian sekecil itu, meski diucapkan dengan raut wajah cuek, sungguh membuat rasa capeknya berkurang seketika.


"Capeknya hilang saat aku melihat senyum diwajahmu." Ucapnya yang kembali merebahkan kepalanya dibahu Farraz.


Dan Farraz hendak mencium puncak kepala Elsa, tapi entah mengapa tiba tiba dia teringat saat bibirnya menyentuh bibir Ayana tadi siang.


"Kenapa, Raz?" Tanya Elsa.


Dia kembali menegakkan kepalanya saat menyadari Farraz seakan terkejut dan memalingkan kepalanya saat bibirnya yang tadi sudah hampir menyentuh puncak kepala Elsa.


"Nggak apa apa, kok. Aku fokus nyetir aja, ya. Sepertinya aku capek banget." Memberi kode agar Elsa berhenti menyenderkan kepala di bahunya.

__ADS_1


Elsa mengangguk dan tersenyum. Dia mencoba memahami Farraz, meski hatinya terasa pedih dan terluka dengan perlakuan dingin Farraz terhadapnya.


Mobilnya terus melaju memacu jalanan. Tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya. Hingga Elsa merebahkan kepalanya disandaran kursi dan memejamkan matanya. Dia tidak tidur, hanya memejamkan mata, untuk menahan perasaan hatinya yang tidak menentu.


Sesekali Farraz menatap wajah Elsa yang dianggapnya sedang terlelap. Dia merasa kasihan pada Elsa. Dia tahu, Elsa saat ini sedang tidak baik baik saja, karena sikap dingin dan cueknya.


'Maafkan aku, Elsa. Hatiku juga kacau saat ini.' Gumamnya dalam hati.


Setelah cukup lama berkendara, akhirnya mobilnya tiba di depan gedung apartemen. Perlahan, Farraz menyentuh bahu Elsa untuk membangunkannya.


"Elsa, bangun. Kita sudah sampai." Ucapnya.


Elsa yang sebenarnya sejak tadi sudah tahu bahwa mereka sudah sampaipun terpaksa harus membuka matanya. Meski sebenarnya tadi dia berharap Farraz akan membangunkannya dengan mesra. Seperti mengelus kepalanya, atau sekedar mengecup keningnya. Tapi, semua itu tidak terjadi.


"Maaf ya, aku ngantuk banget. Jadinya nggak sadar kita sudah sampai!" Serunya yang dengan suara khas bangun tidur.


"Tidak perlu meminta maaf. Kamu harus cepat masuk gih. Langsung istirahat." Membantu melepas sitbelt Elsa.


Dengan langkah malas Elsa keluar dari mobil. Lalu dia berdiri disana menunggu Farraz yang juga baru keluar dari mobil.


"Aku sudah pesan makanan untuk makan malam. Sebentar lagi makanannya sampai." Ucapnya sambil mengelus asal bahu Elsa.


Mobil Farraz masih menyala. "Apa kamu tidak ikut masuk?" Tanya Elsa mulai curiga.


"Aku harus pulang. Mama dan Papa pasti menungguku. Kamu pergilah masuk. Istirahat, ya. Besok aku hubungi lagi." Tuturnya menjelaskan.


"Begitu cepat kamu berubah, Raz. Harusnya, kamu tidak memberiku harapan. Rasanya sungguh menyakitkan. Aku membencimu Farraz Ehsan." Ucapnya memaki saat mobil Farraz sudah menghilang dari pandangannya.


...🍀🍀🍀...


Mobil Farraz tiba di depan rumahnya. Dia disambut langsung oleh Mamat.


"Malam tuan Farraz." Sapa Mamat.


"Malam." Jawabnya.


Langkahnya tampak tergesa. Namun, sebelum dia benar benar masuk ke rumah, langkahnya terhenti. Dia menoleh pada Maat yang masih nerdiri di dekat mobilnya.


"Kuncinya ada didalam mobil." Ucapnya.


Dia memberitahukan pada Mamat tentang kunci mobil yang artinya, Mamat disuruh memasukkan mobil segera kedalam garasi.


"Iya tuan." Jawab Mamat.


Farraz kembali melangkah masuk. Dia disambut oleh Hadijah.


"Tuan sudah pulang!" Seru Hadijah.

__ADS_1


Hanya anggukan sebagai respon dari ucapan Hadijah. Dia terus melangkah masuk dan mulai menaiki tangga untuk menuju lantai atas.


"Nyonya mana?" Dia bertanya sebelum benar benar melangkah naik.


"Ada di kamarnya." Jawab Hadijah ragu.


"Apa dia baik baik saja?" Farraz kembali bertanya.


"Nyonya baik baik saja. Memangnya ada apa tuan?" Tanya Hadijah bingung.


"Mbak Dijah tidak perlu tahu. Lebih baik siapkan makan malam, sana!" Perintahnya.


Mendengar itu, Hadijahpun akhirnya melangkah menuju dapur. Sedangkan Farraz melanjutkan langkahnya menuju kamar Ayana.


Dan kini dia sudah berada tepat didepan pintu kamar Ayana. Tangannya hendak mengetuk pintu. Tapi, dia ragu dan merasa gengsi untuk melakukan itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" Mengusak wajahnya karena kesal pada dirinya sendiri.


Sekali lagi Farraz mendekati pintu. Tangannya mencoba mengetuk pintu, tapi sebelum tangannya benar benar menyentuh pintu, tiba tiba saja pintu itu terbuka. Sehingga Farraz mematung dengan tangan yang menggepal karena tidak jadi mengetuk pintu.


Ayana terkejut saat pintu kamarnya terbuka ada Farraz yang mematung tepat didepannya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ayana yang hendak menutup kembali pintu kamarnya.


"Sorry!" Teriak Farraz.


Mendengar itu, membuat Ayana mengurungkan niatnya untuk menutup kembali pintu kamarnya. Perlahan dia memberanikan diri mendekati Farraz.


"Mbak Dijah!" Teriaknya tiba tiba.


Dia melangkah melewati Farraz. Langkahnya menuju tangga. Hal itu membuat Farraz bingung dan malah menatap bagian belakang tubuh Ayana yang tertutup mukena.


"Mbak Dijah! Siapkan makan malam!" Teriaknya.


Ayana hendak melangkah menuju anak tangga. Tapi sebelum itu dia menoleh pada Farraz yang kini tertunduk malu.


'Berani sekali Ayana bersikap cuek padaku. Padahal aku bersusuah payah untuk mengatakan maaf padanya. Memalukan!' Pikirnya.


"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak mau makan!" Seru Ayana pada Farraz.


Mendengar itu, membuat Farraz menegakkan kembali kepalanya. Dia menatap heran wajah Ayana.


"Oh, atau mungkin kamu sudah makan malam bersama Elsa." Sindirnya.


Tidak terima dengan sindiran itu, Farraz pun bergegas turun. Dia bahkan mendahului Ayana untuk menuju dapur.


Senyuman manis terlihat diwajah Ayana saat menatap langkah Farraz. Hatinya terasa luluh hanya dengan satu kata 'Sorry' yang keluar dari mulut Farraz Ehsan.

__ADS_1


__ADS_2