Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 75 Rayuan Ayana.


__ADS_3

"Nyonya ayok turun. Bahaya loh di atas sana, apa lagi sambil makan!" Seru Hadijah yang sudah sangat khawatir.


"Tenang saja Dijah. Aku tu ahli dalam melakukan hal hal seperti ini. hanya saja selama menjadi wanita karir, aku jadi jarang melakukan hal seperti ini."


"Ini sungguh menyenangkan sekali."


"Dari pada aku yang turun, mending kamu yang ikut manjat deh." Celoteh Ayana sambil mengupas mangga muda di atas pohonnya.


"Tapi saya tidak bisa manjat pohon, nyonya."


"Ya sudah, kalau tidak bisa manjat, mending kamu pulang dulu gih, ambilkan kuah rujak di dalam kulkas."


"Aku ambilin tapi nyonya harus turun dulu, ya."


"Dijah, kamu nurut aja apa susahnya sih. Udah sana cepatan ambilin kuah rujaknya."


"Aku hampir selesai mengupas mangganya." Teriaknya dari atas pohon.


Dijah pun terpaksa meninggalkan majikannya di atas pohon. Dia akan pulang sebentar mengambil kuah rujak lalu kembali lagi.


"Aku baru tahu, ada wanita hamil yang seaneh nyonya Ayana." Gumamnya.


Saat Hadijah sedang pulang, mobil Farraz tiba tepat di bawah pohon mangga milik tetangganya itu.


"Sayang, kamu ngapain disana?" Teriak Farraz khawatir.


"Mas! Ayok sini, temani aku makan rujak di sini."


"Turun sayang, disana bahaya loh."


"Kenapa sih pada nyuruh turun. Di sini tu enak suasananya, mas. Lagian kalau nggak mau nemanin makan rujak di sini, ya sudah ngantor aja lagi sana." Usirnya kesal.


"Raz, biarkan saja." Ibu pemilik pohon mangga itu menghampiri Farraz.


"Ayana sedang mengidam. Jadi turuti saja keinginannya."


"Maafkan kelakuan istri saya, Buk. Saya sendiri juga bingung kenapa dia bisa ngidam yang aneh aneh."

__ADS_1


"Biasanya kalau ngidamnya aneh aneh atau ekstrim itu anaknya cowok loh."


"Yang benar begitu ya, buk?"


"Iya, menantu saya juga ada yang ngidamnya aneh aneh. Dan waktu lahiran, anaknya cowok."


Farraz tersenyum senang. "Semoga saja buk. Sekali lagi maafkan kelakuan Ayana ya buk."


"Kalau begitu saya permisi mau ke pasar dulu. Kamu tetap disini jagain istrimu jangan sampai dia terjun dari pohon." Bisiknya pada Farraz.


"Iya buk. Sekali lagi mohon maaf banget ya buk."


Setelah pemilik rumah pergi, Farraz pun pulang untuk mengambil tangga. Dia akan memanjat pohon mangga itu untuk menemani istrinya makan rujak diatas sana.


"Tuan, ini saya titip kuah rujaknya." Hadijah mengulurkan kuah rujak berbungkus plastik pada Farraz yang sudah mulai menaiki tangga.


"Sayang, turun yok. Mas takut, benaran deh takut banget." Rayunya saat menaiki tangga. Farraz berharap Ayana luluh dan mau diajak turun bersama.


"Mas turun saja kalau takut."


"Tapi sebelum turun, siniin dulu kuah rujaknya."


Farraz tiba di dekat Ayana dengan selamat. Sebentar ditatapnya wajah bahagia Ayana yang sudah selesai mengupas mangga muda itu.


"Sayang ini kuah rujaknya."


"Terimakasih, mas." Mengambil alih plastik kuah rujak dari tangan suaminya.


"Mas, mau?"


"Nggak mau ah, asam." Membayangkannya saja sudah menbuat Farraz merasakan betapa asamnya mangga muda itu.


"Coba deh mas lihat lihat dulu, suasananya bagus banget dilihat dari atas sini loh mas."


Mata Farraz mulai melihat sekeliling yang memang tampak menakjubkan dilihat dari atas pohon mangga.


"Sangat indah, sayang." Menghapus, sisa kuah rujak diujung bibir Ayana.

__ADS_1


"Mas mau?"


"Asam, mas paling nggak bisa makan yang asam asam."


"Kalau gitu suapin dong." Menyerahkan plastik kuah rujak yang sudah terisi irisan mangga muda pada suaminya.


"Aku mau senderan di bahu mas." Bergerak


"Sayang hati hati dong. Kamu bergerak seperti itu apa nggak takut jatuh?" Memegang erat tangan Ayana.


"Tenang saja mas, aku tidak akan jatuh kok." Memeluk erat tubuh Farraz yang beberapa hari ini sangat tidak disukainya untuk di peluk.


"Sombong kamu. Nggak boleh loh ngomong terlalu sombong gitu, nanti bisa jatuh benaran."


"Ya, kalau jatuh pastinya aku hanya akan jatuh dalam dekapan mas Farraz suamiku tercinta."


Kening Farraz mengkerut mendengar rayuan gombal istrinya itu. Dia benar benar dibuat kagum, kahwatir dan kesal oleh Ayana seharian ini.


"Pagi tadi marah marah, sekarang malah dirayu." Sindir Farraz.


"Kapan aku marah?"


"Tadi pagi."


"Mana ada aku marah. Enak aja, fitnah itu namanya, mas." Melepas pelukannya.


"Iya deh iya kamu nggak pernah marah sama, mas. Tapi pelukannya jangan dilepas dong sayang."


Ayana tersenyum, lalu kembali memeluk Farraz. Setelah merasa agak nyaman dengan posisi mereka, barulah Farraz menyuapkan rujak mangga muda itu pada kesayangannya.


"Enak?"


"Enak banget, mas. Rasanya harum manis, seperti cintaku padamu."


"Yakin harum manis?"


"Yakinlah. Mas kenapa sih curigaan terus sama aku." Rutuknya pura pura merajuk.

__ADS_1


Farraz hanya bisa tersenyum gemas melihat tingkah menggemaskan istrinya yang tidak pernah disangka akan semenggemaskan itu.


__ADS_2