
Lima bulan kemudian.
Ayana mulai merasa bosan menjadi istri rumahan. Ia terbiasa menghabiskan setiap harinya untuk bekerja dan lima bulan terakhir ia habiskan dengan berhura hura. Kadang menemani Mama belanja ke Mall, kadang ikut Via ke resto dan bahkan kadang ikut Papa kepesta pernikahan anak rekan rekannya.
"Mbak Yana masih ingat kan, Nori yang dulu waiters di sini." Tanya Arumi saat dia yang sedang cuti untuk menemani Ayana makan siang di resto depan perusahaan.
"Ingat."
"Btw, jarang banget aku ngelihat dia akhir akhir ini."
"Dia sudah berhenti."
"Kenapa berhenti?"
"Suaminya memintanya berhenti kerja karena dia sedang hamil muda. Padahal belum genap dua bulan mereka menikah tapi Nori sudah hamil. Pasti menyenangkan." Arumi membahas topik pembicaraan yang sangat sensitif bagi Ayana. Namun dia tidak menyadari hal itu.
"Pasti sangat menyenangkan dan deg degan menanti hari demi hari untuk segera bertemu dengan buah hati mereka."
Ayana hanya tersenyum getir menanggapi ocehan Arumi yang menurutnya menyebalkan.
"Oh iya, mbak. Aku harus pergi sekarang, pacarku sudah menjemput."
"Terimakasih sudah menemani makan siang." Ucap Ayana tepat sebelum Arumi meninggalkannya.
Tidak lama kemudian, Ayana pun bergegas meninggalkan resto. Ayana mengendarai mobil sendirian, karena tidak suka jika harus bersama sopir pribadi.
Handphonenya bergetar. Panggilan masuk dari suami tercinta. Segera Ayana menekan tombol hijau dilayar Handphone miliknya.
"Iya, mas."
"Arumi? Sudah pulang duluan, dijemput pacarnya."
"Nggak lah mas, capek. Aku mau langsung pulang."
"Mmh, sampai ketemu dirumah suamiku."
"Love you too, byeee."
__ADS_1
Senyuman terlihat diwajahnya. Ayana sangat bahagia karena semakin hari Farraz semakin perhatian padanya.
Mobilnya melaju semakin menjauh dari Perusahaan, hingga tidak sengaja mata Ayana menatap tajam saat mobilnya melewati klinik dokter kandungan. Laju mobilnya semakin pelan dan akhirnya dia memasuki pekarangan klinik. Mobilnya parkir di sana.
Ayana turun dari mobil, langkahnya tampak ragu saat memasuki klinik.
"Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa dibantu?" Sapa petugas klinik.
"Mau periksa." Jawab Ayana ragu.
"Silahkan Nyonya. Daftar dulu."
Ayana duduk di kursi depan meja tempat mendaftar. Dia menyebutkan namanya dan tujuannya datang ke klinik.
"Nyonya Ayana bisa menunggu di sana. Sebentar lagi Dokter Rahma datang."
"Baik, mbak."
Tidak berapa lama menunggu dokter kandungan itu datang. Dia masih sangat muda dan juga cantik. Ayana semakin merasa deg degan dan penuh dengan pikiran pikiran buruk.
"Silahkan duduk." Sambut dokter Rahma.
"Apa keluhan nyonya Ayana?" Melihat nama Ayana di formulir pendaftaran.
"Saya mau memeriksa rahim saya, dok."
"Ada masalah apa dengan rahim?"
"Sudah berapa lama menikah?" Lanjutnya.
"Lima bulan, dok."
"Menstruasinya lancar?"
"Biasanya dua bulan sekali, Dok. Tapi selama menikah lima bulan, baru dua kali saya menstruasi." Jelasnya.
"Kapan tanggal menstruasi terakhir?"
__ADS_1
"Dua bulan yang lalu, Dok."
Dokter Rahma mengangguk paham, lalu dia menyarankan Ayana untuk melakukan USG Transvaginal. Dokter Rahma memperlihatkan keadaan rahim Ayana yang penuh dengan darah beku akibat terlambatnya datang bulan. Lalu dia juga memberitahukan bahwa sel telur di rahim Ayana tidak matang. Sel telurnya banyak dan berbentuk kecil kecil.
USG pun selesai. Ayana kembali duduk dikursi depan meja dokter Rahma.
"Nyonya Ayana mengalami gangguan hormonal atau yang lebih sering di sebut PCOS." Jelasnya.
Ayana hanya diam. Dia tidak tahu itu penyakit apa.
"Ini saya resepkan obat."
"Apa sekarang merasa gemukan?"
"Tidak dok. Berat badan tidak naik sama sekali setelah menikah."
"Bagus, pertahankan berat ideal nyonya Ayana. Dan cobalah untuk menjaga pola makan dan mengonsumsi buah buahan."
"Baik, dok."
"Sering olahraga?" Ayana langsung menggeleng.
"Kalau begitu, cobalah untuk mulai olahraga. Yah, minimal olahraga ringan, seperti berjalan santai setiap pagi selama tiga puluh atau empat puluh menit. Harus konsisten dan nggak boleh bolong." Dokter Rahma mengatakan itu sambil tersenyum.
"Baik dok. Tapi, apa penyakit ini berbahaya, dok?"
"Dibilang berbahaya, iya bahaya karena beresiko obesitas dan akan rentan terkena penyakit gula dan lebih menyedihkannya akan sulit memiliki keturunan. Tapi, jika nyonya Ayana bisa menjaga pola hidup sehat, maka tidak ada yang mustahil, bukan."
Hanya senyum getir yang terlihat diwajah Ayana. Sungguh tidak mengenakan mendengar dokter Rahma mengatakan tentang sulit untuk memiliki keturunan.
"Tidak usah khawatir. Jangan stres, karena semakin tinggi tingkat stres penderita PCOS maka semakin tinggi juga kadar PCOS menyerang. Jadi, intinya harus bisa jaga pola hidup sehat dan terus berpikiran positif."
"Terimakasih, dokter." Hanya itu yang bisa diucapkan Ayana sebelum dia beranjak keluar meninggalkan klinik.
Hatinya sungguh hancur. Bagaimana dia menjelaskan ini pada suaminya. Ketakutan kehilangan suaminya semakin menghantui. Ayana sangat takut, Farraz akan membuangnya setelah mengetahui dirinya mengidap penyakit PCOS.
"Ya Allah, sabarkan aku." Ayana merebahkan kepalanya diatas setir mobilnya yang masih parkir di depan klinik.
__ADS_1