
Sesampainya di Rumah. Irma dan Via tidak ikut masuk ke rumah Farraz dan Ayana. Mereka langsung pulang.
"Besok kita shoping, jangan lupa!" Serunya dari mobil.
"Iya, mbak. Hati hati nyetirnya, jangan ngebut." Ucap Ayana.
"Ok."
Via tersenyum. Dia baru mengenal Ayana saat dimobil. Tapi, dia merasa sudah sangat akrab dengan Ayana seperti sudah lama bersahabat sebelumnya.
"Istirahat yang cukup, sayang." Ujar Irma.
"Iya, Ma. Mama juga jangan lupa istitahat. Jangan memikirkan hal apapun. Cukup istirahat yang nyaman." Celoteh Ayana.
"Duh, menantu Mama bisa ngomel juga ternyata."
Ayana hanya tersenyum menanggapi ucapan Mama mertuanya.
Mobil itu pun pergi meninggalkan perkarangan rumah mereka. Dan Ayana baru masuk setelah mobil itu hilang dari pandangannya.
"Nyonya, Tuan memanggil." Bisik Hadijah ditelinga Ayana.
"Mmm." Sahut Ayana,
Dia pun masuk ke rumah bersama dengan Hadijah.
"Ada apa, Raz?" Tanya Ayana pada Farraz yang duduk santai di sofa depan TV.
"Aku lapar. Kita makan sekarang." Ucapnya.
Kening Ayana berkerut mendegar pengakuan Farraz. Tapi, dia tidak begitu merasa keberatan, karena Farraz pasti sedang mengikuti instruksi syarat yang diajukannya beberapa jam yang lalu.
"Mbak, siapkan makan malam. Aku mau sholat isa dulu bentar." Pinta Ayana pada Hadijah.
"Aku juga mau mandi dulu, gerah." Ucapnya.
Farraz melangkah menuju kamarnya. Ayana pun juga melangkah naik menuju kamarnya. Dia mau mandi dan sholat sebentar.
Setelah Sholat, Ayana sudah hendak melangkah menuju dapur. Tapi sebelum itu, handphonennya berdering. Rupanya ada panggilan dari Handi.
"Iya, Han. Ada apa?" Tanya Ayana.
"Mama akan segera di operasi. Bisakah kamu datang sekarang? Mama sangat ingin bertemu kamu, Yana." Ucapnya memohon.
"Iya. Aku akan segera kesana. Kirimkan alamat rumah sakitnya dan juga nomor ruangan tempat Mama kamu dirawat." Ujarnya.
Ayana yang tadi sudah memakai piyama pun, segera menggantinya dengan gamis casualnya. Lalu Ayana pun mengganti jilbab istan yang dipakainya dengan jilbab segi empat yang besar dan panjang seperti biasa yang digunakannya sehari hari.
"Kenapa firasatku tidak enak begini, ya!" Serunya sambil melangkah turun dengan tergesa.
"Nyonya mau kemana?" Tanya Hadijah yang tadi berniat ingin memanggilnya ke kamar untuk diajak makan malam.
"Mbak, aku harus ke rumah sakit." Ucapnya.
__ADS_1
"Siapa yang sakit?" Tanya Farraz yang melangkah mendekatinya.
"Mamanya, Handi. Aku harus menjenguknya. Malam ini dia akan di operasi, Raz." Jelasnya.
"Setidaknya ciciplah sedikit makanan ini. Tadi, kamu kan mau makan." Mengulurkan piringnya yang sudah berisi nasi lengkap dengan lauknya.
Tapi, saat Ayana hendak mengambil piring itu, Farraz malah ingin menyuapkan makanan pada Ayana.
Hadijah terperangah heran melihat Farras yang langsung menyuapkan nasi pada Ayana. Begitu juga dengan Ayana. Dia pun terperangah dan membuka mulutnya seketika tangan Farraz mengulurkan nasi padanya.
"Kamu menyuapkan pakai tanganmu, Raz?" Tanya Ayana saat makanan itu hampir sampai dimulutnya.
"Jangan banyak tanya. Makan saja apa susahnya sih. Sudah disuapkan tinggal kunyah, lalu telan." Rutuknya.
Makanan itu sudah masuk ke mulut Ayana. Dan Ayana pun sudah mengunyahnya saat Farraz masih sibuk ngomel.
"Mbak, aku pergi dulu." Pamitnya.
"Nih, cium dulu." Mengulurkan tangannya pada Ayana.
Hadijah merasa menjadi pengganggu, hingga dia pun kembali ke dapur.
Ayana dengan terpaksa menyambut uluran tangan Farraz dan mencium punggung tangannya.
"Aku pergi dulu, Raz. Assalamualaikum." Pamit Ayana ragu.
"Jangan pulang terlalu larut. Jika terjadi sesuatu, segera kasih kabar." Ujarnya yang sudah melangkah menuju dapur.
"Aku akan pulang lebih awal, suamiku." Bisiknya pada dirinya sendiri.
Lalu, Ayana pun segera bergegas menuju rumah sakit tempat Mamanya Handi dirawat.
...🍀🍀🍀...
Kali pertama Ayana bertemu dengan Mamanya Handi. Saat Ayana masuk keruang rawat itu, senyum wanita itu terlihat hangat menyambut kedatangannya.
"Assalamualaikum, bu." Sapa Ayana sambil mencium punggung tangannya.
"Waalaikumsalam, Ayana." Jawabnya.
Matanya terus menatap wajah Ayana. Lalu, perlahan kedua tangannya menyentuh wajah Ayana.
"Kamu cantik sekali, nak." Pujinya.
"Ibu juga cantik, loh." Balas Ayana.
"Boleh ibu memelukmu sebelum ibu pergi ke ruang operasi?"
"Tentu, bu." Ayana duduk dipinggir kasur tempat dia berbaring.
Lalu, Ayana pun merebahkan punggungnya untuk memeluk tubuh kurus wanita baik itu.
"Temani Handi, jadilah pengganti ibu untuk menjaganya." Bisiknya ditelinga Ayana.
__ADS_1
Entah mengapa, ucapan itu terdengar sangat menyedihkan bagi Ayana. Air matanya pun menetes tiba tiba. Ayana tidak kuasa menahan air mata itu untuk tidak jatuh.
"Andai kamu bersedia menjadi menantuku, nak. Aku pasti akan berjuang agar bisa hidup lebih lama lagi." Ucapnya.
Handi menundukkan kepalanya mendengar ucapan Mamanya. Dia menahan diri untuk tidak menangis kali ini. Karena dia malu, jika harus menangis dihadapan Ayana.
"Ibu tetap harus bertahan lebih lama, Handi membutuhkan ibu." Ucap Ayana menahan tangisnya agar tidak sampai terisak.
Setelah mengucapkan itu, tubuh Mamanya Handi langsung di bawa ke ruang operasi. Handi dan Ayana mengikuti dari belakang. Dan mereka menunggu di luar ruang operasi tersebut.
"Terimakasih, Yana. Karena telah mewujudkan keinginan Mama untuk bertemu denganmu." Ucap Handi.
"Tidak perlu berterimakasih, Han. Aku cukup senang bisa mengenal Mamamu."
Handi tersenyum menatap wajah Ayana yang juga tersenyum padanya.
"Sebenarnya, operasi ini yang terakhir untuk Mama. Dokter bilang, jika Mama berhasil bertahan, maka Mama akan sembuh. Dan sebaliknya, jika Mama tidak bisa bertahan, maka aku akan kehilangan Mama untuk selamannya." Ungkapnya.
Ayana prihatin mendengar penuturan Handi. Dia pun mendekat pada Handi dan menepuk pelan punggung Handi. Jarak duduk diatara mereka hanya satu kursi saja.
"Berdoalah untuk kebaikan Mama kamu, Han. Dan aku harap kamu bisa dengan lapang dada menerima segala kemungkinan yang akan terjadi pada Mama kamu." Ucap Ayana.
Dia hanya bisa membantu menenangkan Handi sebatas dengan kata kata.
"Kehadiran kamu di sini, menemaniku saat saat seperti ini adalah hadiah terindah bagiku, Yana." Menoleh pada Yana.
Mata Handi berkaca kaca. Air mata itu tampak akan tumpah, tapi Handi terus berusaha menahannya.
"Menangislah, Han. Jangan menahannya."
Handi tidak langsung menangis, dia masih terus berusaha untuk bertahan. Hingga, beberapa menit kemudian, dokter yang bertugas untuk mengoperasi Mamanya pun keluar dari ruang operasai.
"Apa yang terjadi, dok?" Tanya Handi.
"Maafkan kami, nak Handi. Kami gagal bahkan sebelum memulai." Ucapnya.
"Allah..." Teriak Handi tertahan.
Dia akhirnya menangis sambil melangkah untuk melihat wajah kaku Mamanya. Ayana juga ikut masuk ke ruang operasi.
"Ma, Handi sayang Mama. Mama sekarang sudah tidak sakit lagi, Ma. Tunggu Handi disana ya, Ma." Ucapnya terisak.
Ayana pun ikut meneteskan air mata. Dia pun teringat saat saat harus melepas kedua orangtuanya untuk kembali lebih dulu menghadap Penciptanya.
"Waktu kematian pukul 21.35 wib." Ucap dokter pada rekan rekannya.
Mereka pun menunduk memberikan penghormatan terakhir pada pasien mereka.
"Innalillaahi wainna ilaiihi rojiun." Ucap mereka berbarengan.
"Mama…" Teriak Handi sambil terisak.
Kepergian Mamanya merupakan luka terdalam untuknya. Karena sejak kecil hingga sekarang, Handi hanya hidup berdua dengan Mamanya saja. Semua uang yang dia hasilkan hanya untuk Mamanya. Istana kecil yang dibangunnya pun hanya untuk membuat Mamanya bahagia. Namun, kini Mamanya sudah pergi, sudah kembali ke istananya yang sebenarnya.
__ADS_1