
Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Ungkapan pepatah itu benar adanya. Danil yang sejak awal merintis karirnya dari nol setelah bercerai dengan Ayana kini bisa bernapas lega. Hari ini Danil dipercaya untuk memimpin perusahaanya di bawah faress crupt.
"Mas serius?" Dea masih belum percaya dengan pencapaian suaminya.
"Serius, sayang. Haris Ehsan sendiri yang mengangkatku menjadi pimpinan."
"Oh ya ampun, mas. Akhirnya kerja keras mas selama ini terbayarkan." Dea memberi pelukan pada suaminya.
"Ini semua berkat doa kamu dan Weni sayang. Kalian adalah dua wanita terbaik dalam hidupku."
"Terimakasih karena kalian terus bersabar dan selalu setia menemani dalam keadaan terpuruk sekalipun."
Danil benar benar merasa bahagia memiliki istri sabar dan setia sepeti Dea. Mereka saling mencintai sejak lama. Menjalin hubungan bertahun tahun, namun tidak pernah direstui oleh orangtua Danil. Alasan mereka sederhana, hanya karena Dea anak yang tidak pernah tahu apakah dia memiliki seorang ayah ataupun ibu.
Dea besar dan tinggal di panti asuhan yang selalu di kunjungi Danil setiap akhir pekan. Alasannya adalah untuk berbagi dengan anak panti. Hingga akhirnya dia jatuh hati pada Dea dan mereka berpacaran.
Saat Danil akan dipercaya memimpin perusahaan milik keluarga, dia pun dituntut untuk segera menikahi wanita manapun asalkan jangan Dea. Danil yang sedang putus asa saat itu tidak sengaja bertemu dengan Ayana yang baru sebulan tinggal di Jakarta.
Danil berlagak menjadi penolong dan bersikap baik pada Ayana, hingga membuat Ayana jatuh hati. Danil melamarnya dan mereka pun menikah. Setelah mendapatkan mahkota Ayana, dia mengatakan bahwa pernikahan itu hanya karena dia ingin memiliki perusahaan keluarga.
Betapa hancurnya Ayana saat itu. Dia pun memutuskan untuk bercerai dengan Danil pria yang dia kira akan mencintainya menjadi imam untuk selamanya hingga menua bersama ternyata hanya kebongan.
Setelah bercerai, Danil di usir oleh keluarganya dan tidak diberikan apapun. Hanya Dea yang menerimanya saat itu. Mereka menikah dan tinggal di kontrakan yang di sewa dengan uang Dea.
Lalu, setelah beberapa bulan, Danil melamar pekerjaan di perusahan kecil yang disebut anak faress crupt. Dia diterima dan menuangkan segala kerja kerasnya hingga akhirnya dipercayai menjadi pimpinan disana.
Danil tahu Ayana bekerja di faress crupt. Tapi, sampai saat ini dia belum tahu bahwa Ayana adalah menantu kesayangan pemilik faress crupt.
"Sayang, apa Weni baik baik saja di sekolah?"
"Ya keadaan sudah mulai membaik, mas. Meski masih ada beberapa anak yang merundungnya, Weni akan baik baik saja mulai besok."
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Tentu. Karena sekarang Papanya sudah menjadi seorang pimpinan yang hebat." Dea menuangkan air kedalam gelas milik Danil yang hampir kosong.
"Masakan ini sungguh lezat sayang." Memuji masakan Dea yang semakin terasa lezat setiap harinya.
"Makan yang banyak, mas." Memasukkan potongan ayam kedalam piring suaminya.
"Siap nyonya Dea."
Danil selalu bahagia bersama keluarga kecilnya. Dia benar benar melupakan bahwa dia pernah menyakiti Ayana di masa lalu. Karena bagi Danil, Ayana hanyalah bagian yang paling tidak penting dalam hidupnya.
Tidak jauh berbeda dengan Danil. Seorang lelaki bernama Aria Sentosa, ceo anak TI grup yang berlindung di bawah naungan Faress crupt. Mulai merasa sombong dan semena mena sejak perusahaannya melunjak naik diangkat oleh faress crupt.
"Mas, aku punya berita gembira untukmu." Seorang perempuan cantik dengan bibir pucat menghampiri Aria yang sedang sibuk menatap layar laptopnya.
"Berita bagus apa?"
"Tadi aku ke klinik dan mendapatakan ini." Meletakkan amplop putih berisi hasil cek di klinik hari ini.
"Aku sedang sibuk. Nanti aku buka."
Sementara, Aria langsung membuka amplop tersebut. Matanya membola melihat hasil yang dikatakan selembar kertas itu.
"Suci hamil..." Bukannya bahagia, dia malah terlihat gusar.
Segera saja Aria menghubungi seseorang. "Aku kesana sekarang."
Aria langsung pergi begitu saja tampa berpamitan terlebih dahulu pada istrinya yang kini sedang mengandung anaknya.
Setelah berkendara cukup jauh dari rumahnya, mobilnya parkir di depan gedung apartemen. Dia pun langsung masuk ke gedung itu dan naik lift menuju lantai lima, kamar no.537.
"Mas, kenapa?" Seorang perempuan membuka pintu itu dan menyambut Aria dengan rasa khawatir.
"Gawat Mina."
__ADS_1
"Apanya yang gawat, mas?" Menuangkan air kedalam gelas.
"Suci hamil."
"Apa?" Gelas itu terisi air yang melimpah.
"Mina, itu gelasnya penuh."
"Aah iya. Maaf mas, aku hanya sedang melamun." Membawa gelas yang terisi penuh itu untuk diberikan pada Aria.
"Minum dulu, mas."
"Terimakasih, sayang." Aria mereguk habis air didalam gelas.
"Haus bangat ya mas?"
"Mmh, haus karena... entahlah. Aku kira perempuan itu tidak akan pernah hamil. Ternyata dia berhasil setelah melakukan banyak kerja keras tujuh tahun terakhir."
"Lalu, kita harus bagaimana mas. Aku juga sedang mengandung anakmu."
Aria menatap Mina dengan tatapan penuh rasa penyesalan. Dipeluknya perempuan yang dinikahinya secara siri setahun yang lalu itu.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang."
"Lalu, mas akan meninggalkan Suci?"
"Tidak. Suci adalah pemilik setengah saham perusahaan sayang. Jika dia bisa memberiku anak laki laki, maka seluruh saham akan jatuh padanya. Itulah perjanjian saat aku menikahinya." Jelanya.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan mas?"
"Saat ini, aku akan lebih perhatian padanya. Kamu jangan khawatir, aku akan tetap menemui kamu seperti biasa."
"Jika anaknya nanti perempuan, aku akan menceraikannya. Karena dalam perjanjian, jika dia tidak bisa memberi anak laki laki, maka aku akan menjadi pemilik sahamnya."
__ADS_1
"Kamu tahu, saat itu terjadi, maka aku akan menikahimu secara resmi, sayangku."
"Tunggulah sebentar lagi." Aria menceritakan semuanya pada istri sirinya itu. Dia tidak menyadari, ceritanya akan berdampak buruk untuk buah hatinya kelak di masa mendatang.