Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 74 Bumil bar bar


__ADS_3

Dua hari sudah Farraz cuti untuk menjaga Ayana. Padahal Ayana sendiri tidak meminta untuk dijaga. Tapi ya itu, Farraz sangat mengkhawatirkan istrinya yang tengah hamil muda itu.


"Mas nggak apa apa kok kalau aku ditinggal di rumah. Lagian kan ada Hadijah sama Mamat juga yang menemani aku."


"Sayang yakin nggak apa apa mas tinggal kerja hari ini?"


"Iya mas."


Farraz merasa sangat berat untuk meninggalkan Ayana di rumah. Tapi, dia harus masuk kerja hari ini karena ada hal hal penting yang harus dikerjakannya. Sehingga mau tak mau Farraz harus tetap datang ke kantor hari ini.


"Ya sudah kalau gitu mas ngantor hari ini, ya." Memeluk tubuh Ayana yang sebenarnya menolak mendapat pelukan dari sang suami.


"Iya mas, udah sana berangkat." Melepaskan diri dari pelukan suaminya. Untungnya Farraz masih belum menyadari kalau sebenarnya Ayana sangat tidak suka dipeluk olehnya akhir akhir ini.


"Nanti pulangnya jangan lupa bawakan pecel lele." Ucap Ayana.


"Pecel lele?" Ulang Farraz masih belum yakin istrinya yang nggak suka lele malah minta dibelikan pecel lele.


"Iya mas, pecel lele. Masak itu aja nggak tau." Ucap Ayana kesal.


"Tau sayang. Tapi kan sayang nggak suka lele."

__ADS_1


"Kapan aku bilang nggak suka lele, mas. Aku suka kok. Lagian kenapa rewel sih, tinggal beli aja kok repot." Celetuknya sambil melangkah menuju dapur.


Mata Farraz membola, telinganya terasa sakit saat mendengar Ayana mengomel padanya. Ini pertama kali Ayana bicara seperti itu padanya. Rasanya bukan hanya sakit ditelinga tapi sakitnya menusuk ke hati.


"Tuan jangan ambil hati ucapan Nyonya. Maklumi saja tuan. Namanya juga wanita hamil memang suka marah marah nggak jelas." Hadijah menjadi penengah dari pasangan itu.


"Oo gitu ya?"


"Iya tuan."


"Ya sudah kalau begitu saya berangkat dulu. Kalau terjadi sesuatu yang aneh atau mencurigakan pada nyonya, segera hubungi saya."


"Baik tuan."


"Kenapa wanita hamil menjadi sangat pemarah dan emosian gitu ya. Jadi takut aku lama lama kalau begini terus."


Mobilnya melaju meninggalakan perkarangan rumah. Dan sepanjang perjalanan, Farraz masih terus mendengar omelan istrinya tadi.


"Apa Ayana sudah tidak mencintaiku?"


"Ah tidak mungkin. Itu pasti karena hormon seorang wanita hamil."

__ADS_1


Farraz berperang dengan dirinya sendiri, untuk bisa menerima atau menolak perlakuan Ayana yang membuatnya takut dan merasa iba hati.


"Mungkin karena lagi hamil aja kali. Tapi, bukannya wanita kalau lagi hamil bawaannya manja terus sama suaminya ya!" Gumamnya masih belum bisa menerima keadaan Ayana yang akhir akhir ini jadi bertambah galak.


Setibanya di kantor, Farraz langsung mengerjakan perkerjaannya. Dia mencoba untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Ayana. Tapi tiba tiba handphonenya bergetar ada panggilan dari rumah. Segera saja Farraz menggeser tombol hijau dilayar handphone miliknya itu.


"Ada apa Dijah?"


"Apa? Nyonga mau manjat mangga tetangga?"


"Memang Mamat kemana? Suruh dia ambil buah mangganya. Kenapa harus nyonya yang manjat sendiri?" Rutuk Farraz.


"Biarkan saya ngomong sama nyonya."


"Ya ampun, Ayana!" Teriaknya kesal bercampur khawatir.


"Ya sudah, saya akan segera pulang. Tolong awasi nyonya. Kalau bisa paksa dia untuk cepat turun."


"Iya iya, ini saya langsung pulang."


Farraz bergegas pulang. Hadijah mengatakan, saat ini Ayana masih di atas pohon mangga. Dia tidak mau turun, katanya mau makan mangga muda langsung diatas pohonnya.

__ADS_1


"Aneh aneh deh. Sayang, kenapa harus jadi seaneh itu sih!" Ujar Farraz khawatir dan tidak percaya istrinya akan sebar bar itu saat sedang hamil.


__ADS_2