
Kini Ayana dan Farraz sudah di rumah. Mereka hanya saling diam dan tidak berniat untuk saling bicara. Ayana mengurung diri dikamarnya. Sedangkan Farraz malah menyibukkan diri di ruang kerjanya.
"Iya, Ma. Aku dan Ayana sudah saling menerima satu sama lain. Dan sepertinya kami butuh waktu untuk berdua saja." Ucap Farraz melalui pembicaraannya dengan Mamanya ditelpon.
"Mama nggak usah khawatir, semuanya akan baik baiik saja." Sahutnya lagi.
"Ok, Ma. Bye."
Farraz mengakhiri pembicaraan itu.
"Pekerjaan juga sudah beres. Sekarang…" Farraz tampak bingung.
Dia merasa ingin menemui Ayana, memeluk istrinya itu dan membisikkan kata kata cinta ditelinganya sebelum akhirnya mereka tertidur. Tapi, Farraz tidak punya keberanian untuk mengetuk pintu kamar Ayana.
"Aku kira setelah berbaikan, semuanya akan menyenangkan. Tapi, ternyata aku malah berdiam diri di sini. Ohh, Ayana… aku sangat merindukanmu sayangku." Celotehnya.
Tok… tok…
Suara ketukan pintu membuat Farraz bangkit dari tempat duduknya. Dia melangkah mendekati pintu, dan berharap diluar sana adalah Ayana. Tapi, begitu pintu di buka, Hadijahlah yang berdiri disana.
"Tuan, ini kopi hangatnya diminum dulu." Ucapnya.
"Tapi saya tidak memesan kopi." Jawab Farraz heran.
"Nyonya Yana yang membuatkan kopi ini untuk Tuan. Nyonya bilang mungkin Tuan butuh kopi." Jelasnya.
Wajah Farraz merona mengetahui kopi itu ternyata pemberian dari Ayana.
"Mmh, nyonya sudah tidur, ya?"
"Sepertinya sudah, Tuan." Jawab Hadijah.
Farraz mengangguk, lalu dia kembali masuk ke ruangannya dengan membawa segelas kopi buatan Ayana.
__ADS_1
"Kenapa suasananya malah jadi canggung gini, ya. Padahal aku berharap bisa bermesraan dengan Ayana." Gumamnya.
Dengan perasaan agak kecewa, Farraz menyeduh segelas kopi sambil sesekali menghela napas.
"Haruskah aku kembali ke kamar sekarang?" Ucapnya begitu kopinya habis.
Langkahnya perlahan menuju kamarnya. Tapi, begitu hampir tiba di kamar, kakinya malah membawanya melangkah menuju depan pintu kamar Ayana.
"Ayana!" Serunya sambil mengetuk perlahan pintu itu.
"Apakah kamu sudah tidur?" Ulangnya.
Dan ternyata tidak ada jawaban sama sekali. "Mungkin dia sudah tidur. Selamat malam Ayana, sampai ketemu besok." Ucapnya.
Farraz pun kembali ke Kamarnya. Dia masuk ke kamarnya tanpa memperhatikan sekelilingnya.
"Mas, sepatunya sudah aku semir!" Seru Ayana yang membuat Farraz terkejut.
"Ayana! Kamu ngapain disini?"
Mata Farraz membola saat mendengar Ayana memanggil dengan panggilan 'Mas'. Lalu dia menatap sepatunya yang sudah mengkilat kembali seperti baru.
"Maafkan aku, Mas. Aku lancang masuk kamar, mas tanpa meminta izin terlebih dahulu." Lanjut Ayana menjelaskan.
Dia mengartikan diamnya Farraz adalah pertanda tidak suka karena Ayana berada dikamarnya dan menyentuh barang barangnya.
"Tidak. Bukan… Aaa maksudku, aku…" Farraz tampak bingung.
"Kamu tidak perlu minta izin untuk masuk ke kamar ini. Karena mulai saat ini, kamar ini adalah kamar kamu juga. Maksudku, ini kamar kita." Jelasnya terbata bata.
Wajah sendu Ayana berubah menjadi ceria lagi. "Benarkah?"
Farraz mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, bolehkah aku tidur disini mulai malam ini?" Tanya Ayana yang langsung duduk ditempat tidur empuk Farraz.
Melihat itu, Farraz berkeringat dingin. 'Aku tidak bisa menahan gejolak rindu ini lagi. Maafkan aku Ayana.' Pikirnya.
Farraz melangkah untuk mematikan lampu dan itu membuat Ayana terkejut. Kemudian, Farraz langsung memeluk Ayana dengan erat, dan itu membuat Ayana semakin terkejut.
"Mas…" Ucap Ayana yang merasa pengap karena pelukan Farraz yang terlalu erat.
"Maafkan aku Ayana. Aku sangat merindukanmu dan aku rasa, aku tidak bisa menahan lagi perasaan rindu ini." Bisiknya ditelinga Ayana.
Bisikan itu membuat seluruh tubuh Ayana merinding. Dia bahkan juga mulai berkeringat.
Perlahan Farraz melepaskan pelukannya. Tangan beralih membelai wajah Ayana. Dia mengelus lembut pipi Ayana yang merona, dan jarinya mulai menyapu bibir pucat Ayana.
"Maafkan aku karena membuatmu menderita. Maafka aku karena terlalu lama untuk menyadari betapa aku mencintaimu, sayang." Ucap Farraz sangat lembut.
Lalu, dia mengecup kening Ayana untuk waktu yang lama. Sementara tangannya mulai melepaskan kerudung yang masih Ayana kenakan.
"Ternyata, rambutmu panjang, hitam dan indah." Pujinya sambil membelai rambut Ayana.
Farraz membaringkan tubuh Ayana tepat dibawahnya. Dia tidak menghimpit Ayana dengan tubuhnya. Tapi, dia menyanggah tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak menindih Ayana. Mata mereka saling bertatapan untuk waktu yang lama, lalu, air mata Ayana akhirnya menetes lebih dulu.
"Jadikan aku istrimu seutuhnya, Mas. Aku sungguh ingin menjadi istrimu untuk selamanya." Ucap Ayana sambil membelai wajah Farraz.
Senyum bahagia terlihat diwajah Farraz. Dia pun perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Ayana hingga bibir mereka saling menempel. Sedangkan tubuh Farraz sudah benar benar jatuh diatas tubuh Ayana.
Malam ini menjadi malam yang amat panjang bagi pasangan suami istri yang tengah menautkan perasaan rindu nereka yang menggebu gebu. Meski begitu, Farraz memperlakukan Ayana dengan sangat lembut, mesra dan penuh kasih sayang.
Sekali lagi air mata Ayana tumpah saat merasaka betapa Farras memperlakukannya penuh dengan kasih dan sayang. Sangat berbeda dengan mantan suaminya yang dulu menyentuhnya dengan kasar dan hanya mementingkan kepuasannya sendiri.
"Aku Mencintaimu, Mas." Ucap Ayana bahagia.
"Aku akan berusaha dan terus belajar menjadi suami yang baik untukmu, sayang. Aku juga mencintaimu."
__ADS_1
Farraz kembali mencium bibir Ayana dan menyentuh di berbagai titik sensitif Ayana untuk mengurangi perhatian Ayana pada penyatuan mereka yang mungkin akan membuat Ayana tetap merasakan sakit, karena ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak tersentuh.