
Saat ini Ayana tidak sadarkan diri. Dia tertidur lelap karena Fikri meminta pelayan cafe memasukkan obat tidur di hot coklat Ayana.
"Selamat malam sayangku." Fikri mulai mendekati tubuh Ayana.
Dia mengelus lembut pipi Ayana dengan hasratnya yang menggebu. Dia juga mendekatkan wajahnya pada wajah Ayana dan meniup wajah Ayana berkali kali, sehingga membuat Ayana terbangun.
"Astaghfirullah, ya Allah!" Teriak Ayana terkejut saat membuka matanya dia melihat wajah Fikri berada diatas wajahnya.
"Lepaskan aku, mas. Aku ini istri adikmu!" Teriak Ayana sambil mencoba memalingkan wajahnya dari Fikri.
Ayana juga berontak dan mencoba melepaskan ikatan ditangannya.
"Tenang sayang, jangan terlalu banyak bergerak. Kamu akan capek dan terluka, jika terus bergerak." Bisik Fikri ditelinga Ayana.
"Tolooonggg… Help me…" Teriak Ayana sekeras yang dia bisa.
Fikri tertawa marah karena Ayana tidak mengikuti perintahnya. Hingga dia mencengkam erat dagu Ayana dan memaksa agar wajah Ayana menghadap padanya.
"Lepaasss…" Teriak Ayana tertahan.
Fikri membekap mulut Ayana dengan telapak tangannya. Lalu, dia mencoba melepas jilbab Ayana dengan tangan lainnya.
"Jangan…" Ucap Ayana dalam bekapan Fikri.
Kepalanya menggeleng dan Ayana berusaha melawan, namun tidak bisa. Tubuhnya terasa kaku dan berat, karena pengaruh obat tidur yang dimumnya tadi diberikan Fikri dengan dosis yang tinggi.
"Mmmhhhm, mmhhh…" Ayana mencoba berontak.
Fikri jauh lebih kuat dan lihai seperti seorang pro. Kini dia hampir benar benar melepas jilbab Ayana. Dan Ayana mulai menangis dan memohon agar Fikri tidak melepas jilbabnya.
'Ya Allah selamatkan hamba dari perbuatan keji dan menjijikkan kakak ipar hamba.' Berdoa dalam hati dengan penuh harap.
Ayana bahkan sudah gemetar takut karena Fikri mulai mencoba menciumnya.
Sementara itu, diluar sana Farraz melangkah cepat menuju kamar Fikri. Dan langkahnya berhenti tepat didepan pintu kamar Fikri sesuai yang diberitahukan oleh resepsionis padanya.
'Jika sampai terjadi apa apa sama Ayana, aku akan membunuhmu Fikri.' Batinnya.
Sebentar Farraz menarik napas dalam dalam. Lalu dia menendang pintu itu sekuat tenaga.
Hal itu membuat Fikri terkejut dan menoleh kearah pintu.
Bbruukkk…
"Buka pintunya, brengsek!" Teriak Farraz dari luar sambil terus berusaha mendobrak pintu itu.
"Brengsek, gagal rencana gue!" Teriaknya sambil mengusak kepalanya.
__ADS_1
Lalu, Fikri langsung kabur melalui jendela. Fikri menyusuri jendela untuk kabur. Dan saat itu beruntungnya, jendela kamar bawah terbuka lebar. Fikri mengayunkan tubuhnya dan dia pun masuk ke kamar itu hingga membuat pemilik kamar kaget.
"Ssstth!"
Fikri meminta mereka untuk diam, sambil memperlihatkan sebilah pisau tajam. Dia mencoba mengancam mereka, agar mereka tetap diam.
Sementara itu, Farras berhasil mendobrak pintu kamar tersebut. Pintu itu terpental keras ke dinding hingga pintu itu retak.
"Ayana."
Farraz langsung menghampiri Ayana yang saat itu masih terikat. Dengan cepat Farraz membuka ikatan di kedua kaki Ayana dan juga tangannya. Lalu, Farraz membawa tubuh Ayana dalam pelukannya.
Dia mengelus lembut punggung Ayana sehingga memberikan ketenangan untuk Ayana yang gemetar dan ketakutan. Tapi, lucunya Ayana malah tertidur nyaman dalam pelukan Farraz.
'Bahkan saat seperti ini, kamu tidak menangis dan ketakutan, Ayana. Kamu malah tertidur pulas." Ucap Farraz sambil tersenyum.
Dia merasa betapa konyolnya Ayana dan betapa lucunya Ayana bahkan disaat keadaan seperti ini masih bisa tertidur nyeyak.
Sementara itu, Handi malah baru tiba di lobi. Dia berlari menuju pantai dan mencoba menemukan Ayana disana.
"Yana kamu dimana?" Memperhatikan setiap orang disana.
Handi masih terus mencoba menelpon handphone Ayana.
"Angkat dong, Yana. Please!" Ucapnya khawatir.
"Lebih baik dibuang saja handphone ini. Sekalian menghilangkan bukti." Ucapnya.
Dengan tanpa berpikir panjang, Fikri melemparkan handphone milik Ayana sekuat tenaga ke laut.
"Semoga Ayana tidak mengatakan bahwa aku yang melakukan itu padanya." Ucapnya mulai khawatir.
...🍀🍀🍀...
Kini Ayana sudah berada di kamarnya. Farraz menggendong dan meletakkannya di tempat tidur. Tidak lupa Farraz menyelimuti tubuh Ayana agar tidak kedinginan.
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mas Fikri lakukan sama kamu, jika saja aku terlambat datang." Ucapnya sambil menatap lekat wajah lelap Ayana.
"Aku harap kamu baik baik saja saat bangun besok." Memberi kecupan dikening Ayana.
"Aku bukan pria yang baik, Ayana. Aku sungguh bingung dengan diriku sendiri. Aku menginginkan Elsa, tapi aku takut melepasmu. Aku harap, kamu bisa bertahan sampai aku bisa menyakinkan hatiku tentang perasaan ini." Tuturnya.
Farraz mengatakan semua yang ingin dikatakannya pada Ayana, disaat Ayana sedang terlelap.
"Tidurlah yang nyenyak." Ucapnya.
Lalu, Farraz meninggalkan kamar Ayana. Dan pergi untuk mencari Fikri.
__ADS_1
Dan tanpa disadari Farraz, Ayana sebenarnya tidak benar benar terlelap. Dia hanya berpura pura tidur untuk menyembunyikan rasa takutnya.
"Aku akan bertahan sampai kamu benar benar menginginkan aku pergi dari hidupmu, Raz." Ucap Ayana.
Dia menatap kearah pintu, berharap Farraz akan segera kembali untuk memeluknya seperti tadi. Karena saat ini Ayana merasa sangat ketakutan dan butuh seseorang yang akan memeluknya untuk memberi ketenangan, seperti yang dilakukan Farraz beberapa menit yang lalu.
Farraz sudah berada di lobi. Dia menayakan pada resepsionis tentang keberadaan Fikri. Namun, mereka tidak tahu dimana Fikri berada, tapi mereka menyarankan agar Farraz melihat melalui rekaman cctv.
Dia menuju ruang kontrol cctv dan meminta petugas untuk memutarkan rekaman saat dirinya mendobrak pintu kamar Fikri. Dan setelah beberapa saat memperhatikan, Farraz berhasil menemukan Fikri yang saat itu berada di lift yang berhenti di lobi.
Fikri keluar dari hotel. Sehingga tidak ada lagi rekaman yang bisa menunjukkan keberadaan Fikri saat ini.
"Aku pasti akan menemukanmu, Fikri." Ucapnya geram.
Farraz melangkah masuk menuju lift untuk kembali ke kamarnya yang berada tepat didepan kamar Ayana.
Pintu lift terbuka. Rupanya sudah ada Handi dan Fikri disana. Farraz hanya menatap penuh amarah, sementara Fikri tersenyum ramah padanya.
"Pak Farraz, kenapa diam saja?" Tanya Handi.
"Nggak apa apa." Ucap Farraz sambil melanglah masuk ke lift yang sama dengan mereka.
"Ayana belum ketemu. Aku gagal menemukannya. Aku sudah memeriksa cctv dan tidak ada tanda tanda keberadaan Ayana." Ucap Handi merasa sedih dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa menemukan Ayana.
"Tidak usah khawatir, Han. Ayana sudah kembali ke kamarnya. Tadi, dia ketiduran di toilet, petugas kebersihan membangunkannya dan membantunya kembali ke kamar." Ucap Farraz menjelaskan.
"Benarkah? Syukurlah!" Serunya merasa lega.
Farraz menatap tajam pada Fikri yang berusaha untuk terlihat tidak tahu apa apa. Karena dia pikir, Farraz tidak tahu tentang perbuatannya pada Ayana.
"Mas Fikri, mau kemana?" Tanya Farrraz.
"Ke kamarku. Aku juga menginap di hotel ini." Jawabnya santai.
"Mas Fikri kok nggak kaget melihat aku ada di Singapur!" Selidik Farraz.
"Handi memberitahuku. Iya kan, bro." Merangkul bahu Handi.
"Iya. Aku yang mengatakan bahwa pak Farraz berada di hotel ini dan baru tiba malam ini." Tutur Handi membenarkan ucapan Fikri.
Hanya anggukan dari Farraz sebagai respon dari penjelasan Handi barusan.
'Hhuuhh, selamat. Mudah sekali ditipu. Farraz, Farraz… dasar begok.' Batin Fikri.
'Aku akan membuat perhitungan denganmu, mas. Tunggu saja tanggal mainnya.' Pikir Farraz.
Dia menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya menahan emosi dan amarah yang meluap. Dia harus bisa bertahan, untuk tidak memukul Fikri saat itu juga, karena tidak ingin Handi curiga.
__ADS_1