
Sejauh ini, menstruasi Ayana selalu datang tiap bulannya dan jika pun telat paling dua sampai tiga hari saja. Tapi, bulan ini bahkan sudah sembilan hari telat dari tanggal yang ditentukan. Ayana sih masih santai aja, dia tidak mau berharap lebih dan memutuskan untuk melakukan pergerakan rutin yang akan membuat darah kotor itu segera keluar seperti bulan bulan yang telah lalu.
Saat selesai yoga, dia langsung mandi dan bersiap untuk menjemput mama mertuanya yang ingin diajak jalan ke mall hari ini.
"Dijah, nanti nggak usah masak untuk makan siang. Cukup masak buat kamu sama Mamat saja. Aku paling makan siang diluar sama Mama."
"Baik Nyonya."
"O iya, nanti tolong bereskan tempat yoga ku ya. Aku lupa tadi buru buru."
"Iya Nyonya."
Ayana pun melangkah pergi meninggalkan Rumah. Dan ini kali pertamanya mengendarai mobil sendiri setelah sekian lama. Farraz selalu melarangnya mengendarai mobil sendiri. Jadi, saat harus keluar selalunya Ayana naik taxi atau nggak diantar Mamat.
"Bismillah..." Ayana mulai mengendari mobil keluar dari perkarangan rumah menuju jalan raya dan go menjemput mama mertuanya.
Sepanjang perjalanan, Farraz menemaninya dengan melakukan video call. Padahal Farraz sedang meeting dan tidak bisa mengobrol dengan Ayana. Tapi dia bersikeras ingin memantau Ayana sampai tiba di rumah, Mama.
"Mas, aku sudah tiba di depan rumah mama, nih!" Turun dari mobil dan memperlihatkan halaman rumah Mama.
"Mas fokus saja dulu meetingnya. Nanti aku kabari lagi."
__ADS_1
"Lagi bicara sama siapa sih mantu mama?" Irma menghampiri Ayana.
"Anak mamah, nih. Dia takut terjadi apa apa sama Yana jadi dikontrol sampe ke depan rumah Mama." Adu Ayana.
"Ya sudah lah, akhiri panggilannya. Sekarang waktunya kita shoping shoping sayangku." Ujar Irma senang.
"Ya sudah ya Mas, aku sama mama mau berangkat dulu."
"Love you. Byee..."
Panggilan berakhir tampa persetujuan suaminya. Tapi, Ayana tidak peduli, karena sekarang dia sudah bersama mama dan mau langsung berangkat ke mall.
"Ma, bagaimana kalau kita ajak kak Via juga."
"Kenapa, Ma. Kak Via suka banget kalau diajak jalan ke mall."
"Kakak mu itu lagi honeymoon."
"O iya? Berarti mereka sudah saling kompak dong, Ma?"
"Iya. Berkat kamu sama Farraz." Irma mencubit pelan pipi Ayana yang tampak bertambah bulat.
__ADS_1
"MaYana gemukan ya?"
"Dikit." Irma tidak ingin Yana merasa harus diet lagi karena berat badannya yang bertambah.
"Tuh kan, benar. Mas Farraz malah bilang Yana kurusan. Pas Yana mau ngecek timbangan malah nggak boleh."
"Kamu tu nggak gemukan, kok. Percaya deh sama mama."
"Benaran, Ma?"
"Iya sayangku." Tersenyum gemas pada Ayana.
"Tapi, kan Ma. Bulan ini Yana belum datang bulan."
"Paling beberapa hari lagi juga akan datang bulan." Ucap Irma.
"Tapi ini sudah telat sembilan hari loh, ma. Yana khawatir pcos itu mengganggu hormon Yana lagi, Ma."
"Tidak usah khawatir berlebihan. Nggak baik buat kesehatan." Mengelus pipi Ayana lembut.
"Sekarang kita happy happy aja. Kita belanja apa aja, terus kita makan yang banyak. Ok sayangku."
__ADS_1
"Iya deh ma."
Mobilpun terus melaju menuju pusat perbelanjaan. Dan sepanjang perjalanan mereka selalu mengobrol apa saja dan tidak pernah merasa kehabisan topik pembicaraan. Begitu nyamannya mereka satu sama lain. Bahkan bukan seperti menantu dan mertua, malahan terlihat seperti ibu dan anak perempuannya.