Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 66 Handi calon suami Via


__ADS_3

"Hidangan special untuk pak Handi." Via menata sendiri makanan di meja khusus untuk Handi calon suaminya itu.


"Wah, pasti semua ini sangat lezat. Perutku akan penuh siang ini dan nanti malam tidak usah makan lagi nih." Handi mengatakan itu karena begitu banyak makanan yang dihidangkan oleh Via untuknya.


"Spesial buat calon suamiku." Bisik Via malu malu.


"Benarkah?"


Via tersenyum manis lalu ikut duduk dikursi yang berhadapan langsung dengan Handi.


"Mhm, ini benar benar lezat. Terimakasih sayang." Bisik Handi yang berhasil membuat Via kembali merona.


Handi kembali melanjutkan makan. Via dengan sabar menunggu Handi hingga selesai makan tanpa bicara. Handi bilang makanannya terlalu enak, jadi Handi ingin menikmati makanan makanan itu terlebih dahulu, baru nanti bicara lagi.


Hanya sekitar dua pulug menit Handi menikmati sedikit demi sedikit setiap jenis hidangan yang ada dihadapannya. Lalu, dia pun merasa kenyang.

__ADS_1


"Loh sudah selesai aja. Katanya mau makan sampai perut full." Celoteh Via.


"Ini sudah full banget, loh. Nggak muat lagi makanannya di sini." Handi tersenyum malu sambil menepuk perutnya yang sedikit buncit.


Via pun ikut tersenyum. Hingga beberapa saat mereka hanya saling tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bukan karena bosan, tapi sama sama sedang menikmati indahnya saling bertatapan, dan melihat senyum satu sama lain yang tampak malu malu.


"Via Ehsan, Maukah kamu menjadi istriku." Ucap Handi tiba tiba mengulang lamarannya yang belum dijawab oleh Via tadi malam.


"Mau. Aku mau menjadi istrimu, Han." Jawabnya tanpa ragu.


Meninggalkan Handi yang berhasil melamar Via. Farraz sedang menikmati makan siang bersama Ayana di pinggir danau buatan di taman kota. Mereka duduk diselembar tikar kecil, lalu beberapa makanan ditata disana. Layaknya mereka sedang piknik.


"Nanti, kalau kita punya anak... Mas maunya cewek atau cowok?" Ayana bertanya asal hanya sekedar untuk mengisi kekosongan pembahasan.


"Cewek cowok dua duanya mas suka. Tapi, kalau disuruh memilih, mas inginnya anak pertama cewek, anak kedua baru cowok."

__ADS_1


"Kok gitu, padahalkan enakan anak pertama cowok, terus adiknya cewek. Supaya nanti bisa melindungi adiknya, gitu."


"Betul. Tapi punya kakak perempuan itu jauh lebih nyaman dan bisa melindungi adiknya juga loh. Dan punya kakak perempuan itu menguntungkan, karena dia akan selalu ada untuk memberikan kenyaman bagi adik adiknya."


"Kalau kakak laki laki, ya cara melindungi adiknya paling dengan kekerasan. Kalau pun adiknya sedih akan di suruh berhenti sedih, karena sedih tidak akan menyelesaikan masalah. Selalu begitu." Farraz begitu semangat mengatakan hal itu. Karena dia korban yang mengalami itu.


Via selalu melindunginya, memeluknya dan memberinya nasehat yang menenangkan saat dirinya menghadapi masalah. Sementara Fikri, paling hanya akan bilang... "Nggak boleh cengeng, laki kok cengeng." Itu sangat menyebalkan bagi Farraz.


"Mmh, tapi mau cowok atau cewek tidak masalah, ya mas. Yang terpenting ada amanah itu untuk kita." Sambung Ayana.


"Iya sayang."


"Tapi, mau cepat atau lambat, mau ada atau tidak, mas nggak mau melihat sayang sedih dan stes lagi." Mencubit hidung Ayana. Lalu Farraz berbaring dengan meletakkan kepalanya dipaha Ayana sebagai bantalan. Dan Ayana kembali menatap danau yang penuh dengan bunga bunga teratai.


"Aku akan berusaha agar terus tenang, dan berpikir lebih positif lagi. Sekarang yang menjadi targetku harus bisa mendapat tamu bulanan rutin setiap bulannya. Setelah itu baru merencanakan promil." Ucapnya dalam hati penuh tekad.

__ADS_1


__ADS_2