Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 65 Mengubah pola pikir.


__ADS_3

Beberapa minggu terakhir dijalani Ayana dengan lebih tenang dan nyaman. Ia menerapkan pola pikir positif seperti yang dianjurkan suaminya. Berakhirlah dengan Ayana yang akhirnya menstruasi lagi setelah sekian lama tidak kedatangan tamu bulanan itu.


"Mas..." Teriak Ayana dari kamar mandi. Farraz yang baru terbangunpun terkejut.


"Sayang, apa kamu baik baik saja?" Farraz mengetuk pintu kamar mandi berkali kali.


"Mas, aku..."


"Kamu kenapa sayang? Buka pintunya."


Pintu terbuka, tampaklah Ayana yang berdiri diam tidak melakukan apapu.


"Sayang, kamu kenapa?" Farraz memeriksa wajah, tangan dan kaki Ayana yang tampak baik baik saja.


"Aku menstruasi lagi, setelah sekian lama." Ucapnya malu malu.


Senyum lega pun terlihat diwajah Farraz. Dipeluknya tubuh wanita tercintanya itu.


"Mas bilang juga apa, bukan hanya pola makan saja yang penting. Mengubah pola pikir menjadi lebih positif adalah obat paling mujarab."


"Aku bahagia saat ini, mas."


"Mas juga sangat bahagia, sayangku." Farraz kembali memeluk istrinya.


Sementara pasutri itu sedang bermesraan dikamar mandi pagi pagi. Handi sudah tiba di perusahaan. Sengaja datang lebih awal karena ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan sebelum pukul sembilan pagi ini.


"Pak Handi!" Teriak Arumi yang baru saja tiba.


"Hei Arumi. Kamu datang sepagi ini?"


"Iya dong, pak. Saya kan mau membantu pak Handi."


"Wah, hati saya tersentuh dengan kebaikan hatimu." Pujinya sambil menggoda Arumi.


"Jangan menggoda saya pak Handi. Pacar saya orangnya galak loh. Menakutkan kalau lagi marah." Tukasnya bercanda.

__ADS_1


"O ya?"


"Iya loh."


"Kalau begitu jangan sampai pacar kamu tahu saya menggoda nona Arumi."


"Tentu akan saya rahasiakan, tapi dengan syarat."


"Syarat?"


"Iya. Harus ada syaratnya."


"Apa itu?"


Sebentar Arumi melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain.


"Tunjukkan foto wanita cantik yang kemarin makan malam bersama pak Handi." Bisiknya.


Mata Handi membola. Ia terkejut mengetahui Arumi melihatnya saat makan malam bersama Via.


"Loh kenapa, pak?"


Handi hanya mengangkat kedua belah bahunya. Lalu dia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya. Meski kesal Arumi tetap mengekor dibelakang Handi.


"Kenapa pak Handi tidak mau memperlihatkan wajah si cantik itu. Atau jangan jangan wajah wanita itu jelek, kali ya. Tapi dari belakang dan samping, wanita itu tampak cantik kok." Oceh Arumi.


"Nanti kalau sudah berhasil melamarnya akan saya perlihatkan fotonya." Teriak Handi dari depan sana.


"Berarti dia pacar pak Handi, dong."


"Bukan pacar, tapi calon istri." Handi mengakui.


"Wah, serius? Pak Handi sudah mendapat pengganti mbak Ayana?"


Handi mengangguk yakin.

__ADS_1


"Cantikan mana sama mbak Ayana."


"Saya tidak menjadikan wajah sebagai acuan saat memilih pasangan. Yang penting itu hatinya, cantik itu bonus."


Mereka kini sudah masuk ke lift untuk menuju ruangan mereka yang ada di lantai atas.


Dan Via saat ini sedang berbunga bunga. Ia masih teringat bagaimana cara Handi melamarnya tadi malam.


"Sweet banget. Uuhhhuuuu..." Via berguling guling ditempat tidurnya sambil sesekali menghentakkan kaki diatas kasur empuknya itu.


"Kenapa aku tidak langsung menerima lamarannya saja tadi malam." Penyesalan memang selalu datang diakhir.


"Kalau aku telpon, diangkat nggak ya." Meraih handphone yang sejak tadi tergeletak diatas nakas.


Via benar benar menghubungi Handi tanpa peduli bahwa saat ini Handi sedang dikantor.


"Halo Via. Kamu sudah bangun?"


Suara lembut itu membuat jantung Via berdegup kencang seakan mau copot.


"Sudah. Apa kamu sudah di kantor?"


"Aku menggangu ya."


"Ya sudah, kalau gitu kamu lanjut kerja sana."


"Makan siang di resto? Bukankah terlalu jauh dari perusahaan."


"Iihhh kamu bisa aja deh. Ya udah nanti akan aku siapkan mkan siang yang terlezat spesial buat kamu."


"Mmh, ok. Byeee..."


Panggilan berakhir. Via kembali berguling guling ditas kasurnya. Pipinya tampak merah merona mengingat Handi akan makan siang diresto miliknya dan memintanya untuk dandan yang cantik.


Via sedang kasmaran. Jatuh hati pada seorang Handi yang sangat baik dan bisa membuat hatinya terus berdegup kencang. Bersama Handi juga membuat Via merasa menjadi wanita paling bahagia dan paling beruntung.

__ADS_1


__ADS_2