Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 64 Pola hidup sehat (diet)


__ADS_3

Dua bulan terakhir, setelah sholat subuh Ayana rutin berjalan santai keliling komplek perumahan seperti yang disarankan dokter Rahma. Tentunya sebelum berjalan, ia sempatkan untuk minum air putih sebanyak dua gelas, setelah kembali lagi ke rumah barulah ia sarapan dengan mengonsumsi satu buah apel, satu butir telur rebus dan susu.


Setelah mandi pagi, Ayana akan kembali melanjutkan dengan yoga ringan untuk menyeimbangkan hormon sekitar lima belas menit saja. Barulah kemudian Ayana istirahat hingga siang. Lanjut makan siang, dengan tiga sendok nasi putih, Ayam panggang dan minum jus alpukat.


Awalnya sangat sulit untuk makan teratur dengan menu yang diatur seperti itu. Tapi, ia bertekad demi bisa memberikan anak untuk suaminya.


Sebelum Farraz pulang dari kantor, Ayana sudah makan malam lebih dulu karena harus tepat waktu. Makan malamnya hanya sekeping roti gandum dan segelas susu. Dan Farraz sudah tahu seperti apa pola makan yang dijalani istirnya itu selama dua bulan terakhir.


"Mas sudah pulang!" Seru Ayana membuka pintu rumah saat menyambut suaminya pulang.


"Taraaaa, nih mas bawakan ayam geprek untuk makan malam."


Dengan ragu Ayana mengambil kantong plastik berisi dua porsi ayam geprek lengkap dengan nasinya.


"Mas mau mandi dulu, ya. Sayang makan saja duluan kalau sudah lapar." Teriaknya saat langkahnya semakin menjauh dari Ayana yang terdiam di dekat meja makan.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ayana benar benar bingung. Dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada suaminya nanti saat harus menolak makan ayam geprek yang dibelinya mungkin dengan mengantri lama untuk mendapatkannya. Tidak tega rasanya untuk menolaknya.


Ayana hanya duduk diam di meja makan menatap dua porsi ayam geprek sambal ijo kesukaannya. Bahkan tanpa dia sadari suaminya sudah berada duduk disebelahnya.


"Sayang, kok dilihatin aja. Udah ayok makan." Farraz memulai lebih dulu menyantap ayam geprek itu.


"Mas sudah mengantri dari sebelum magrib dan saat hampir azan isa baru dapat nih ayam geprek sambal ijo."


"Nggak apa ngantri lama kan, sayang. Yang penting kita bisa merasakan nikmatnya ayam geprek sambal ijo favorit." Celotehnya begitu bersemangat menyantap makanan favoritnya.


"Kok nggak makan? Apa sayang lagi diet?" Tebak Farraz.

__ADS_1


"Nggak kok mas. Hanya saja, aku masih kenyang."


"Yakin sudah kenyang, hanya dengan makan selembar roti." Tatapan dan ucapan Farraz membuat Ayana terkejut. Ia tidak mengerti kenapa Farraz bisa tahu kalau hanya selembar roti yang dimakannya untuk makan malam.


"Ayana Yunita, bagiku kamu adalah duniaku. Berhenti melakukan pola makan sehat yang aneh itu." Berhenti mengunyah. Farraz kini menatap serius wajah takut Ayana.


"Anak itu titipan, amanah dari Allah. Jika sudah waktunya pasti akan dikasih. Jika pun tidak diizinkan mengemban amanah itu, tidak apa."


"Hidup berdua dengan kamu saja sudah membuatku bahagia."


Air mata Ayana menetes saat Farraz mengatakan hal itu. Ia tidak mengerti dari mana suaminya mengetahui semua itu. Atau mungkin Hadijah yang memberi tahu, entahlah Ayana tidak bisa berpikir dengan baik saat ini.


"Olahraga memang penting. Tapi kenyamanan dan kesehatan tubuh jauh lebih penting."


"Mas tahu kamu setiap pagi jalan santai, lalu yoga dan semua aktivitas kamu dua bulan terakhir mas tau."


"Aku hanya berusaha, mas. Aku melakukan itu supaya bisa memberikan mas anak." Jawabnya sambil terisak.


"Aku tidak sempurna, mas. Penyakit yang aku alami akan membuatku tidak bisa mengandung jika tidak segera diatasi. Tidak ada obat yang pasti untuk menyembuhkan penyakit ini."


"Dokter juga mengatakan, penyakit ini tidak bisa disembuhnya. Hanya bisa diatasi saat penderita mampu menjaga pola makan dan rutin olah raga." Ayana menjelaskan sambil terisak.


Dipeluknya tubuh itu dengan erat. Farraz tahu betapa istrinya sangat tertekan sejak hari itu. Tapi, dia terus menunggu saat saat Ayana akan menceritakan semuanya.


"Aku tahu kamu ke klinik hari itu sayang. Aku bahkan sudah mendengar langsung dari dokter Rahma yang memeriksamu. Maafkan aku yang pura pura tidak tahu selama ini. Aku berharap kamu akan menceritakan semuanya, tapi ternyata sampai saat ini kamu masih belum mau mengatakannya."


"Aku takut, mas. Aku takut mas akan meninggalkan aku."

__ADS_1


"Hei, sayang." Farraz melepaskan pelukan itu untuk bisa melihat wajah istrinya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah, aku tidak masalah jika harus hidup hanya berdua denganmu seumur hidupku." Menatap jauh kedalam bola mata Ayana yang masih terus meneteskan air bening itu.


"Pola hidup sayang sudah sehat kok menurut, Mas. Sayang tidak selalu mengonsumsi makanan yang berlemak, berminyak dan bertepung kok."


"Menurut mas bukan itu masalahnya."


"Lalu apa mas? Dokter saja mengatakan aku tidak menjaga pola hidup sehat."


"Masalahnya di sini." Menunjuk hati Ayana.


"Hati dan pikiran kamu yang selalu menginginkan anak untuk terlihat sempurna dimata orang orang."


"Sekarang, cobalah untuk membuang pikiran pikiran itu. Sayang, harus mau ikut dengan gaya hidup sehat yang akan mas tunjukkan padamu."


"Bagaimana caranya?" Tangis Ayana mulai reda.


"Berhentilah berpikir tentang menjadi wanita sempurna yang harus punya anak."


"Mulai sekarang, cukup ingat bahwa suamimu ini Farraz Ehsan hanya membutuhkan kamu Ayana Yunita dalam hidupnya. Jangan pernah sakit atau menangis karena hal yang tidak bisa kamu berikan padaku."


"Karena tidak ada yang lebih aku inginkan melainkan dirimu, sayangku Ayana Yunita." Farraz menegaskan.


Air mata Ayana kembali tumpah. Ia terharu mendengar ucapan romantis suaminya. Tangannya dengan cepat melingkar dipinggang suami terbaiknya itu.


Farraz membalas pelukan Ayana sambil mengelus punggungnya dan mencium puncak kepalanya berulang kali. Farraz benar benar merasa terluka saat melihat betapa terlukanya Ayana saat mengetahui tentang penyakit yang menurut Farraz tidak masuk akal itu. Ia bahkan sempat memaki dokter Rahma karena menyarankan Ayana untuk mengatur pola makan dan rutin olahraga.

__ADS_1


Menurutnya istrinya sehat. Tentang bisa dan tidaknya punya anak semua kuasa Tuhan, sekuat apapun usaha manusia jika Tuhan belum mengizinkan maka tidak akan bisa. Jadi, Farraz sangat menyayangkan kenapa dokter menyarankan istrinya berusaha sekeres itu sementara dokter sendiri tidak memastikan apakah istrinya bisa hamil dengan kerja keras dan usaha yang dilakukannya.


__ADS_2