Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 54 Laparnya sekarang bukan nanti.


__ADS_3

Ayana terbangun saat merasaka dingin menerpa tubuhnya yang tidak memakai apapun termasuk selimut. Begitu dia membuka mata, Farraz terlelap disampingnya dengan keadaan yang sama dengan dirinya.


"Ya ampun. Memalukan." Gumamnya pelan. Tangannya segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh Farraz.


"Apa aku menggigitnya terlalu kuat." Ayana memandagi bahu Farraz yang terdapat bekas gigitannya.


"Kenapa aku bisa seperti itu, ya. Ah sungguh memalukan untuk diingat." Batinnya, saat mengingat kembali kejadian tadi pagi.


"Eunggh…" Lenguhan Farraz membuat Ayana langsung memejamkan matanya. Entah mengapa dia merasa sangat malu untuk bertemu Farraz dalam keadaan terbagun, sehingga dia malah pura pura masih tertidur.


Bibir Farraz tersenyum lebar. Ada perasaan bangga dan bahagia dalam hatinya karena bisa memiliki wanita yang disebutnya tua itu seutuhnya. Perlahan Farraz mengecup kening Ayana, lalu membelai wajah Ayana yang tampak imut dan menggemaskan saat berpura pura tertidur. Ya, Farraz tau Ayana sudah bangun. Dia merasakan saat Ayana menyentuh bahunya yang ternyata kini baru dirasakan perih olehnya.


"Sungguh pagi yang sangat indah, sayang." Meraih tubuh Ayana mendekat padanya dan memeluknya erat. Wajah Ayana membenam didada bidang Farraz yang telanjang itu.


"I love you Ayana Yunita." Bisiknya. Farraz kemudian dengan tiba tiba melepas pelukannya dan mengangkat tubuh Ayana beserta selimut itu sehingga membuat Ayana membuka matanya.


"Mas mau bawa aku kemana?" Tanya Ayana bingung.


"Kita mandi, sayang. Setelah itu kita akan pergi berpetualang." Ucapnya sambil terus melangkah menggendong tubuh Ayana menuju kamar mandi.


"Mas turunin aku. Aku bisa mandi sendiri, kok." Protesnya saat Farraz yang meletakkan dirinya didalam bathtub yang sudah berisi air hangat.

__ADS_1


"Kita mandi sayang, kita mandi bersama." Goda Faraz yang ikut masuk kedalam bathtub.


"Mas, mau ngapain. Jangan lagi lagi deh, masih nyilu ini." Protesnya.


"Mas nggak mau ngapain ngapain, sayang. Mas hanya mau mandi bersama kok." Farraz benar benar mandi dan juga membantu Ayana mandi, meski Ayana menolak. Dan mereka benar benar hanya mandi hingga selesai mandi bersama dan berganti pakaian.


Ayana kini sudah berada di meja makan ditemani oleh Hdijah yang sejak tadi terus tersenyum menatapnya.


"Kenapa, menatapku seperti itu?" Tanya Ayana heran pada Hadijah.


"Tidak apa apa. Hanya saja, saya senang akhirnya Nyonya dan Tuan bisa akur." Imbuhnya.


Hanya senyum malu yang ditunjukkan Ayana untuk menanggapi ucapan Hadijah.


Ayana menoleh pada Farraz sementara mulutnya masih penuh dengan makanan. Sedangkan Hadijah sudah kembali ke dapur.


"Kemana?"


"Pokoknya ikut aja." Menghampiri Ayana di meja makan.


"Makannya lanjut di mobil aja, ya. Nanti kita telat." Menyapu bibir Ayana yang berantakan karena makanan dengan menggunakkan telunjuknya.

__ADS_1


"Tapi..." Tangannya langsung ditarik oleh Farraz tepat sebelum dia selesai berucap.


"Mas, aku belum minum." Protesnya.


"Nanti saja di mobil. Sekarang kita lagi diburu waktu, sayang." Merangkul pinggang Ayana. Rangkulan itu membuat Ayana merasa seperti disayangi seutuhnya.


Begitu tiba dimobil, Farraz membukakan pintu untuk Ayana. Dia juga memasangkan sitbelt untuk Ayana, kemudian mengambil kantong plastik bertulisan Indoapril yang ada di kursi belakang.


"Ini semuanya untuk sayangnya mas." Tersenyum lalu memberi kecupan di kening Ayana. Setelah itu Farraz pun mengendarai mobil menuju tempat yang akan mereka datangi siang ini.


"Ini semua benaran buat aku, mas?"


"Tapi ini jajanan apa, mas. Masak iya aku makan coki coki, biskuit, minumnya susu troberi. Apaan ini coba, aku maunya nasi atau nggak roti deh, supaya perutku kenyang. Aku benaran lapar, mas."


"Pagi tadi pun aku belum sarapan, makan siang baru satu sendok udah di ajak jalan. Tadi mas bilang makannya di mobil aja tu makan semua jajanan ini?" Celotehnya kesal.


"Makan aja dulu. Nanti kita mampir di resto untuk makan siang." Mengelus punggung Ayana.


"Aku laparnya sekarang bukan nanti." Ayana menyilangkan kedua tangannya, lalu dia hanya menatap kedepan dengan tatapan penuh perasaan kesal.


Farraz hanya tersenyum gemas melihat cara Ayana kesal padanya. Ternyata Ayana yang dianggapnya sudah tua itu bisa bersikap menggemaskan saat marah karena lapar. Tidak tega membiarkan kesayangannya menahan lapar, akhirnya Farraz memarkir mobilnya di depan resto. Dia memesan makanan dua porsi untuk Ayana.

__ADS_1


"Mas belikan makanan enak untuk sayang makan siang." Hiburnya sambil memberikan dua porsi Steik ayam kesukaan Ayana dan tidak lupa dia menyertakan seporsi nasi putih, karena Ayana mau makan pake nasi.


"Steik? Ya udah deh dari pada nggak ada sama sekali." Ayana pun menyantap makan siangnya dimobil. Sesekali dia juga menyuapi Farraz yang fokus mengendalikan strir mobil dijalanan yang siang ini ramai tapi tidak macet.


__ADS_2