
Ayana duduk di depan bersama Farraz. Sedangkan Irma dan Via duduk di bangku belakang. Mereka terlihat seperti sedang terlelap. Padahal, mereka hanya pura pura tidur, untuk mendengar bagaimana Ayana dan Farraz akan saling berkomunikasi saat sedang berdekatan.
Mobil terus melaju menuju rumah sakit. Ayana menatap kesamping, dia memperhatikan pepohonan dan gedung gedung di pinggir jalan raya itu.
"Segitu pedulinya kamu sama Handi." Ujar Farraz.
Dia bicara seperti itu, karena berpikir Mama dan kakaknya sedang tidur lelap.
"Jelas aku peduli. Dia selalu baik padaku dan selalu membantuku." Jawabnya santai.
Jawaban itu membuat Farraz kesal.
"Baiknya laki laki pasti ada maunya." Ujarnya lagi.
"Memang. Tapi tidak dengan Handi. Dia baik padaku dengan tulus tanpa meminta imbalan apapun." Tutur Ayana yang terus membela Handi.
"Apa kalian pacaran?"
Pertanyaan kali ini membuat Ayana yang merasa kesal. Sebelum menjawab pertanyaan menyebalkan itu, dia melirik kebelakang untuk memastikan Mama mertua dan kakak iparnya masih tertidur lelap.
"Kamu pikir aku wanita yang dengan mudah pacaran dengan lelaki yang bersikap baik paduku?"
Ayana hampir saja berteriak, tapi dia menahannya. Dia tidak mau berantam dihadapan mama mertua dan kakak iparnya.
"Loh kok marah, sih. Aku cuma nanyo loh."
"Pertanyaan kamu sungguh tidak berbobot, Raz. Dan aku tidak suka pertanyaan kekanakan seperti itu." Ucapnya menegaskan.
Farraz malah tersenyum sinis mendengar jawaban Ayana yang malah mengatainya kekanakan.
"Kekanakan. Ya, aku memang suka kekanakan, karena aku memang masih muda. Sedangkan Handi… dia lebih dewasa karena kalian seumuran dan jauh lebih tua dariku." Ucapnya menyindir.
"Cukup, Raz. Aku sangat sangat lelah. Dan aku sudah bilang kan sama kamu, aku malas berantem. Jika kamu terus seperti ini, lebih baik kita sudahi saja semua ini. Aku lelah." Ujar Ayana.
Dia memalingkan wajahnya dari Farraz. Dia benar benar lelah saat ini, sehingga dia merasa sedikit kesusahan untuk mengontrol emosinya seperti biasanya.
Akhirnya Farraz diam setelah Ayana mengingatkan kembali tentang persyaratan yang diajukannya pada Farraz waktu itu.
Drriiiittttt…
Handphone Farraz bergetar. Panggilan masuk dari Elsa. Sambungan hanphonenya terkoneksi dengan mobilnya, sehingga Ayana bisa melihat dengan jelas nama yang tertera di layar monitor mobilnya.
Sebelum menjawab panggilan Elsa, Farraz melirik pada Mama dan kakaknya. Dia kembali memastikan apakah mereka masih tidur atau sudah terbangun. Dan lagi lagi Farraz tertipu, dia masih saja mengira mereka terlelap.
"Halo!"
Farraz mulai bicara dengan Elsa. Sementara, Ayana sudah memejamkan matanya erat. Dia malas mendengar pembicaraan Farraz dan Elsa.
__ADS_1
"Aku lagi di mobil, El. Ada apa?" Ucap Farraz.
"Aku lagi sama Mama dan kak Via."
Farraz menjawab pertanyaan dari Elsa.
"Nggak bisa hari ini, El. Aku harus menemani Mama ke rumah sakit." Kilahnya.
Irma tersenyum geli mendengar ucapan Farraz yang menjadikannya sebagai alasan.
"Nanti malam saja, ya. Aku janji."
Saat mengucapkan kata itu, Farraz melirik pada Ayana yang masih terus memejamkan matanya.
"Aku lagi nyetir ini. Udah dulu ya, El." Memberi alasan lagi pada kekasihnya itu.
"Bye… love you too." Ucapnya.
Matanya menatap pada Ayana saat mengatakan kalimat tersebut.
"Eehhem…" Farraz berdehem.
Dia sengaja berdehem untuk membuat Ayana terbangun. Tapi, tidak ada tanda tanda Ayana akan membuka matanya. Dia masih terus mamalingkan wajahnya dan memejamkan matanya.
"Ayana, hey!"
"Ayana, kita sudah tiba di rumah sakit." Ucapnya mencoba menipu Ayana agar dia bangun.
Namun, Ayana tetap tidak bangun. Dia masih terus memejamkan matanya.
Sementara, Irma dan Via menahan tawa. Mereka merasa kasihan sekaligus geli melihat mendengar cara Farraz membujuk Ayana.
...🍀🍀🍀...
Mobil Farraz parkir di depan rumah sakit.
"Terimakasih." Ucap Ayana yang langsung bergegas turun dari mobil.
"Mama, kak, Yana mau mampir ke rumah lama Yana dulu. Setelah itu baru pulang. Maafkan Yana nggak bisa ikut kakak shoping." Ucapnya menyesal.
"Tidak apa sayang, kita akan shoping lain waktu." Sahut Irma.
"Bye bye, iparku yang cantik." Ucap Via memberi kiss bye pada Ayana.
"Bye, kakak." Balas Ayana.
Ayana melangkah menuju mobilnya. Dan pada saat bersamaan Farraz malah turun dari mobil dengan terburu buru.
__ADS_1
"Kakak aja yang nyetir. Aku ikut Ayana!" Serunya sambil melangkah menuju mobil Ayana.
"Lah, kenapa tuh bocah. Ma, bagaimana kalau dia mau mencelakai Ayana?"
Via malah merasa takut saat Farraz tiba tiba mau ikut bersama Ayana.
"Tenang saja. Menurut penerawangan batin Mama, Farraz mulai kepincut pesona Ayana." Ucap Irma.
Senyumnya merekah menatap kearah Ayana dan Farraz. Dia melihat Farraz mengambil paksa kunci mobil dari tangan Ayana. Lalu, dia masuk ke mobil dan duduk di kursi supir.
"Kenapa lagi nih bocah?" Celoteh Ayana pelan.
Suaranya bahkan tidak bisa didengar oleh Farraz.
Dengan terpaksa, Ayana pun ikut masuk ke mobil dan duduk di kursi samping sopir. Dia pun langsung memakai sitbeltnya.
"Dimana alamat rumah lama kamu?" Tanya Farraz yang sudah menjalankan mobil menuju jalan raya.
Begitu juga dengan mobil yang dibawa Via. Dia melajukan mobil menuju Mall. Mereka akan shoping berdua dan akan mampir makan siang si Star Resto milik Via.
Dengan arah yang berbeda, Farraz menjalankan mobil menuju rumah lama Ayana. Dengan sabar dia menuntun untuk menunjukkan jalan menuju rumahnya pada Farraz yang terus mengomel dan merutuk, karena jalan menuju rumah Ayana menurutnya berbelit belit.
"Siapa juga yang ngajak ikut." Ujar Ayana menjawab omelan Farraz.
"Jelaslah aku harus ikut. Gini gini, aku tetap suami kamu loh. Ingat itu jangan sampai lupa." Ucapnya.
"Ya elah, sejak kapan Tuan Farraz Ehsan mau mengaku menjadi suami wanita tua ini, hah?" Tanya Ayana dengan nada menyindir.
"Ya, sejak saat ini lah." Jawabnya sok jutek.
Farraz kembali menyetir, dan kali ini dia tidak terlalu rewel lagi. Dia terus mengikuti arahan dari Ayana yang menunjukkan jalan menuju rumahnya.
Setelah berkendara yang cukup lama, akhirnya mobil mereka memasuki gang komplek rumah Ayana. Dan seperti biasa, banyak pasang mata yang menatap sinis kedatangan mereka. Hal itu membuat Farraz mengerutkan keningnya, dia merasa heran dengan sambutan warga setempat.
"Kenapa sih mereka menatap kita dengan tatapan seperti itu?" Tanya Farraz bingung.
"Karena mereka baru pertama kali melihat lelaki tinggi, gagah dan rapi seperti anda." Ucap Ayana berbohong.
Jawaban itu bukan membuat Farraz senang, tapi malah mengerutkan keningnya lagi hingga matanya terlihat menyipit.
"Kamu pikir aku anak kecil yang nggak bisa membedakan mana tatapan kagum dan mana tatapan sinis." Rutuknya kesal.
"Stop!" Teriak Ayana saat mobil mereka tiba di depan rumahnya.
"Ini rumah kamu?" Tanya Farraz.
Ayana mengangguk, lalu dia turun dari mobil dan langsung melangkah menuju teras rumahnya yang tetap tampak bersih meski sudah lama tidak ditempati. Itu karena, setiap Ayana berkunjung, dia akan membersihkan rumahnya sekaligus perkarangan rumahnya.
__ADS_1