Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 38 Ternyata...


__ADS_3

Via mendapat kiriman video dan foto Fikri dari Farraz. Dia sengaja mengirim foto dan video itu pada Via, agar Via memperlihatkan itu pada Mama dan Papa sebagai bukti bahwa Fikri adalah penyebab hancurnya rumah tangga Via waktu itu.


Farraz Juga benar benar sudah muak dengan kelakuan Fikri yang selalu berpura pura baik dihadapan kedua orang tuanya dan juga fansnya. Farraz bahkan tidak mengerti kenapa seorang novelis hebat seperti Fikri, malah memiliki kepribadian seorang psycho.


Melihat dan menonton video itu membuat Via tertawa geli. Rasanya dia ingin memperlihatkan video itu pada mantan istri Fikri yang merupakan sahabatnya sejak kecil.


"Kia pasti akan tertawa puas melihat Fikri seperti ini." Ucap Via sambil terus tertawa.


"Kenapa aku merasa puas banget lihat Fikri seperti ini, ya?" Lanjutnya tertawa.


"Iyalah aku senang. Hidupku hancur juga karena kamu mas Fikriku tersayang." Ucap Via.


Via masih sangat terluka karena dirinya dijadikan sebagai pelampiasan dendam oleh suaminya itu dulu. Suaminya itu punya seorang adik perempuan yang ternyata pacaran dengan Fikri. Tapi, Fikri berpacaran dengan adiknya itu hanya untuk bermain main saja. Padahal adiknya sudah memberikan mahkota nya pada Fikri, dengan iming iming Fikri akan menikahinya. Nyatanya, Fikri tidak menepati janjinya. Dia menghilang setelah membuat adiknya mengandung. Adiknya itu prustasi hingga bunuh diri.


((Flashback.


Saat itu Via benar benar jatuh cinta pada Hamzah. Lelaki yang dewasa, penyayang dan bertanggung jawab. Hingga akhirnya Via menikah dengannya. Tapi, setelah menikah rupanya Hamzah berubah. Dia menjadi lelaki yang sangat cuek dan kasar padanya.


"Mas, mau kemana malam malam begini?"


Via bertanya, saat melihat Hamzah sudah berpakaian rapi dan harum parfumnya yang menyengat sangaking banyaknya.


"Main lah, ngumpul sama teman temanku." Jawabnya judes.


"Loh, kok gitu sih, mas. Ini baru malam ketiga pernikahan kita, mas. Masak iya mas mau ninggalin aku sendirian di rumah." Protes Via.


"Aku bosan sama kamu. Kamu nggak memuaskan lagi. Aku hanya ingin merasakan dara mu saja. Sekarang kamu sudah nggak enak lagi." Ucap Hamzah tanpa memikirkan perasaan Via yang mendengarnya.


"Astaghfirullah, mas. Kamu kok ngomong gitu. Aku ini istrimu, mas. Dan kita baru menikah tiga hari yang lalu, kamu setega itu mengatakan aku tidak lagi memuaskanmu. Kamu menjijikkan, mas." Teriak Via mengamuk.


Dia melemparkan apa saja pada Hamzah, hingga saat kepala Hamzah terkena oleh sepatu yang dilemparkan Via, Hamzah pun menghampiri Via. Didorongnya tubuh Via hingga kedinding dan tanpa peduli dengan amukan, pukulan, tangisan dan berontaknya, Hamzah langsung meluapkan amarahnya dengan me*p**kos* Via secara paksa dan sangat kasar. Dia melakukannya seperti hewan buas yang kelaparan.


"Aakkhhh, lepaassss..." Teriak Via berontak.


"Hentikan, mas. Ssaaaakkkkkiiiitttt…"


Hamzah tidak perduli dengan keadaan Via yang terisak dan juga sudah meneteskan darah dari sana. Hamzah tetap melakukannya tanpa henti.

__ADS_1


"Bunuh saja aku, Hamzah. Dasar gilaaaa, kamu monster…" Kutuk Via terbata bata karena dia merasakan sakit yang teramat menyiksa jiwa dan raganya.


Seluruh tubuhnya sakit, namun hatinya jauh lebih sakit karena perlakuan menjijikkan suami yang sangat dicintainya itu.


"Kakakmu yang brengsek. Dia menghamili adikku, lalu dia pergi dan tidak bertanggung jawab. Adikku bunuh diri karena tidak mampu menahan rasa malu karena mengandung tanpa suami." Teriak Hamzah kesal.


Dia mengakhiri perbuatan menjijikkannya pada Via. Dia menjauh dari tubuh Via yang terduduk lemah dilantai dengan darah yang mengalir di kedua pahanya hingga ke betis dan jatuh di lantai.


"Aku menikahimu secara sah menurut agama dan negara, baru aku menyentuhmu, Via. Sementara Fikri si bajingan itu, menyentuh adikku…"


Hamzah tidak mampu menyelesaikan ucapannya. Dia masih mengingat jelas, saat tubuh adiknya tergantung kaku di kamarnya saat itu dengan kondisi perut yang sudah membesar.


"Jadi, aku hanya pelampiasan dendammu, mas?" Tanya Via sangat lemah dan air mata masih terus mengalir membasahi wajahnya.


Mendengar suara lemah dan tangisan itu, Hamzah menatap iba pada Via. Dia kini baru menyadari betapa kasarnya dan kejamnya perlakuannya pada Via yang tidak tahu apa apa sama sekali.


"Via, maafkan aku…" Terduduk dihadapan Via.


Hamzah menyesali perbuatannya. Namun, apa daya, kini Via sudah sangat kesakitan dan ketakutan.


"Ceraikan aku, mas. Kamu sudah berhasil membalaskan dendam adikmu. Bahkan jika kamu menginginkan kematianku sama seperti adikmu, maka bunuh aku sekarang. Bunuh aku dengan cara yang kamu inginkan." Ujar Via terbata dan merintih menahan rasa sakit yang teramat sangat menyiksanya.


Dia bahkan memeluk erat tubuh Via yang juga ikut menangis bersamanya.


"Akan aku coba untuk memaafkan. Tapi, ceraikan aku sekarang dan jangan pernah menampakkan diri dihadapanku lagi." Bisik Via ditelinga Hamzah.


"Baik, aku ceraikan kamu dengan talak satu. Aku akan mengurus semua tentang perceraian ini sampai selesai. Setelah itu aku akan menghilang dari hidupmu." Ucapnya.


Ditatapnya wajah sendu Via, disibaknya rambut yang menutupi wajah Via. "Untuk terakhir kalinya, izinkan aku membawamu ke rumah sakit."


Hati Via sangat sakit, sakit karena mengetahui kenyataan suaminya menikahinya untuk balas dendam, sakit karena perlakuan kasar suaminya dan sakit karena harus bercerai padahal usia pernikahan belum sampai tiga hari.


Flshback off


...🍀🍀🍀...


Irma tiba di resto dengan wajah yang sedih. Dia sedih karena, merindukan menantunya yang tidak juga kunjung pulang.

__ADS_1


"Via, kamu kenapa?" Tanya Irma yang sudah hampir lima menit duduk di depan putrinya itu.


Tapi, Via hannya diam dengan tatapan kosongnya menatap jauh kedepan.


"Sayang? Via. Kamu kenapa, nak?" Irma menyentuh kedua pipi Via. Dia berusaha menyadarkan putrinya yang sedang melamun itu.


Irma tiba di Resto, karena Via memintanya datang. Katanya Via ingin memperlihatkan sesuatu padanya. Tapi, Via malah bengong dan bahkan mungkin belum menyadari kehadirannya di resto dan tepat didepannya.


"Mama? Kapan sampai?"


Via bingung dan terkejut karena sentuhan Irma di pipinya. Dia juga bingung karena mamanya itu tiba tiba sudah ada dihadapannya.


"Sudah lama. Kamunya aja yang buta, atau sengaja pura pura buta." Celotehnya agak kesal.


"Mama, maaf deh. Aku tadi lagi mengingat masa lalu yang menyedihkan dan menyakitkan." Ucapnya sambil merebahkan kepalanya dibahu mamanya.


"Tentang si Hamzah bajingan itu? Idih, mama sih ogah mengingat dia meski seujung rambut pun. Dia itu hanya pria yang memanfaatkan kamu, sayang. Dia juga malah bikin cerita jelek tentang Mas-mu." Rutuk Irma tidak suka.


"Mas Hamzah tidak sejahat itu kok, ma. Dan apa yang dia bilang tentang mas Fikri itu benar kok. Dia nggak asal menuduh dan mengarang cerita, tapi benar adanya, Ma." Ucap Via menjelaskan dengan hati hati.


"Loh, kok kamu malah membela bajingan itu ketimbang Fikri!" Teriak Irma tidak suka.


"Mama lihat ini. Rekaman ini dari Farraz. Dan coba mama baca ini." Memberikan handphonenya pada Irma.


Disana ada tulisan panjang Farraz menceritakan kejadian yang terjadi pada Ayana. Dia mengirim tulisan panjang itu melalui DM Instagram.


"Ya Allah, ini benaran?" Tanya Irma tidak percaya saat membaca tulisan Farraz.


"Apa Farraz pernah bohong sama, Mama?" Via balik bertanya.


Tidak ada jawaban dari Irma. Kini dia melotot resah dan tidak menyangka saat melihat rekaman cctv saat Fikri mencoba menjebak Ayana, juga rekaman saat Fikri terikat di atas kasur. Di video itu Farraz menjelaskan, bahwa Fikri melakukan hal seperti itu pada Ayana.


"Astaghfirullah, Fikri!" Jerit sedih Irma.


"Kenapa mas mu jadi seperti itu, nak?" Tangisnya pecah.


Via yang tadinya bersemangat ingin menceritakan penyebab perceraiannya, malah menjadi khawatir mendengar tangisan mamanya.

__ADS_1


"Lebih baik kalian bunuh saja, mama, nak." Ujarnya dalam tangisan.


Segera saja Via menyingkirkan handphone yang tadi dipegang Irma. Lalu, Via langsung memeluk erat dan mencoba menenangkan Irma yang tampak sock mengetahui kenyataan tentang putra sulungnya yang ternyata memiliki kelainan mental dan kejiwaan.


__ADS_2