
Dua bulan berlalu. Setelah acara tujuh bulanan Ayana menjadi lebih bersamangat menunggu detik detik kelahiran buah hatinya yang selalu sehat dan berkembang dengan baik dalam rahimnya.
"Nyonya, ini coklat cake nya."
"Terimakasih, Dijah."
Dijah tersenyum, lalu kembali ke dapur.
"Sayang, kita makan cake ya. Bunda suka banget nih cake nya lembut, coklat tapi nggak terlalu manis."
"Ayah juga suka loh cake ini." Lanjutnya. Ayana sering sekali mengajak bayinya ngobrol.
"Rasanya hari ini sunyi banget ya sayang. Bunda bahkan merasa sangat sedih."
"Semoga semuanya baik baik saja." Menyantap coklat cake kesukaannya sambil terus mengobrol dengan bayinya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Suci sedang menangis tersedu. Dia baru saja melihat suaminya keluar dari klinik ibu dan anak bersama seorang wanita yang dikenalnya.
"Kenapa harus Mina, mas?" Ujarnya sambil terisak.
__ADS_1
"Mas kan tahu, Mina adalah sahabatku."
"Tega kalian, mas." Suci menangis tersedu di pojok klinik tempat Mina memeriksa kandungannya bersama sang suami.
Cukup lama Suci menangis, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan menanyakan apa yang dilihatnya langsung pada Aria. Kakinya melangkah perlahan, sedangkan tangannya memegangi perut yang terasa sangat sakit. Suci mengalami kontraksi, hingga dia oleng dan jatuh ke tengah jalan.
Bruukkkk...
Mobil yang sejak tadi melaju kencang kaget karena tiba tiba tubuh Suci ambruk ke tengah jalan. Untuk menghindari Suci, sopir mobil itu banting stir dan menabrak pembatas jalan.
Orang orang yang melihat langsung menghampiri mobil dan juga Suci.
Tubuh Suci di bawa ke klinik. Dokter berusaha menolong, namun sayang, Suci lebih memilih untuk mati dari pada tetap hidup diperlakukan tidak adil oleh suami dan keluarganya.
"Ada yang tahu siapa ibu ini?" Tanya dokter itu.
"Tidak dok, tapi ini sepertinya handphone miliknya." Seseorang memberikan handphone itu pada dokter.
Begitu layar handphone itu menyala, terpampang wajah lelaki yang beberapa saat lalu meninggalkan kliniknya bersama istri simpanannya.
__ADS_1
"Ya ampun. Apakah dia melihat suaminya keluar dari sini bersama wanita lain?"
"Sungguh malang nasibnya." Dokter itu merasa kasihan pada Suci dan calon bayinya yang kini sama sama sudah tidak ada.
Segera dokter menelpon nomor yang diberi nama 'suamiku', dia pun langsung memberitahukan keadaan istri dan calon anaknya.
Tidak berapa lama Aria tiba kembali di klinik. Dia melihat wajah pucat Suci, dan darah segar yang masih terus mengalir di bagian bawah tubuhnya.
"Maaf, pak Aria. Saya sudah berusaha menyelamatkan istri dan anak anda, tapi Tuhan berkehendak lain."
Aria tidak tahu harus bersikap bagaimana. Hatinya hancur dan merasa bersalah setelah melihat Suci menjadi mayat. Dia memang ingin segera menceraikan Suci, tapi bukan perceraian seperti ini yang dia inginkan.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku..." Memeluk erat tubuh kaku penuh darah itu.
"Semua salahku. Aku lelaki tidak berguna. Maafkan aku..." Berteriak histeris.
Dokter hanya menatap iba pada wanita malang itu dan menatap penuh kebencian pada lelaki yang meminta maaf itu. Menurutnya terlalu drama menangis histeris meminta maaf di depan mayat wanita yang dikhianatinya.
"Maafkan aku sayangku. Maafkan aku... Aku suami yang tidak pantas disebut suami." Meraung raung lalu pingsan.
__ADS_1
Dokter hanya diam. Dia tahu, pria itu hanya pura pura pingsan untuk membela dirinya agar tidak kelihatan terlalu bahagia melihat istrinya sudah tidak bernyawa lagi.