
Usai sholat isa dan berdoa, hati Ayana terasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia pun mulai menyiapkan diri untuk memberitahukan pada Farraz tentang hasil periksa ke klinik hari ini.
Samar samar terdengar suara mobil Farraz memasuki pekarangan rumah. Seperti biasa Ayana langsung berlari menuruni anak tangga menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Nyonya hati hati!" Teriak Hadijah dari dapur.
"Tenang saja, Dijah. Aku tidak akan jatuh semudah itu."
Langkah kaki Ayana mulai melambat saat tiba didepan pintu. Dia membuka pintu perlahan setelah menghela napas beberapa kali.
"Selamat malam sayangku." Farraz lebih dulu menyapa istrinya kali ini.
"Ah, aku terlambat."
"Tidak apa sayang, hanya sedetik saja kok."
"Peluk!" Ayana merengek dengan manjanya.
Dengan senang hati Farraz memeluk tubuh istrinya itu. Tidak hanya memeluk saja, ciuman hangat pun mendarat dikening istrinya. Lalu Farraz menggendong tubuh itu untuk dibawa kekamar.
"Mas, aku bisa jalan sendiri. Mas kan pasti capek." Protesnya.
"Sama sekali tidak. Capeknya hilang seketika saat melihat wajah menggemaskan istriku."
"Benarkah?"
"Tentu."
__ADS_1
Ayana mengeratkan pegangannya dipundak suaminya. Lalu dia membenamkan wajahnya didada bidang itu. Lalu, tiba tiba tubuhnya sudah diletakkan diatas tempat tidur secara perlahan.
"Mas mandi dulu ya. Sayang boleh tidur duluan kalau sudah mengantuk."
"Makan malamnya?"
"Sepertinya akan mas lewatkan, karena mas ingin makan yang lain. Yang lebih nikmat dan lezat." Farraz menggoda istrinya.
Saat Farraz sedang di kamar mandi. Ayana pun kembali mengecek hasil tes ke klinik hari ini. Dia bingung harus memulai pembicaraan dari mana untuk mengabarkan berita tidak mengenakan itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Membenamkan wajahnya dipermukaan bantal.
"Kenapa sayang?" Suara Farraz membuat Ayana kaget dan kertas hasil tes kesehatannya itu pun jatuh kelantai. Karena takut ketahuan, Ayana mendorong kertas itu dengan kakinya hingga kertas itu masuk kebawah ranjang.
"Mas sudah selesai mandi?"
"Sudah dong." Menatap dirinya dicermin.
"Tidak apa. Hanya sedikit merasa bosan. Selalu dirumah seharian sangat membosankan."
Farraz selesai menata rambutnya, tapi dia masih memakai bathrobe. Langkahnya semakin dekat pada Ayana.
"Apa sayang mau kembali bekerja?"
"Sangat ingin. Tapi, aku harus melakukan hal yang lebih penting dari sekedar bekerja, mas." Batinnya.
"Sayang? Ada masalah apa?" Membelai rambut Ayana, lalu menarik tubuh itu masuk dalam pelukannya.
__ADS_1
"Apa mas bosan karena aku belum juga hamil?"
Farraz mengangguk paham. Dia mengerti sekarang, kenapa istrinya tampak tidak bersemangat.
"Kenapa harus bosan. Mas selalu menikmati setiap moment yang kita habiskan bersama."
"Mas, bagaimana kalau seandainya aku..." Mulut Ayana terasa membeku saat harus mengatakan hal itu pada suaminya.
"Seandainya apa?"
"Seandainya aku mau olahraga setiap pagi boleh?" Mendongak agar bisa melihat wajah suaminya.
"Olahraga? Apa sayang sakit..." Memeriksa keadaan tubuh Ayana.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya ingin menjaga kesegaran tubuh saja, mas."
"Bukankah menjaga pola hidup sehat itu penting?"
"Iya memang penting, tapi kenapa sayang tiba tiba tertarik untuk olahraga pagi hari?"
"Ya, untuk menjaga pola hidup sehat saja, kok mas. Boleh ya!" Rengeknya.
Sebentar Farraz menghela napas. Ditariknya wajah Ayana agar menghadap padanya. Mata mereka saling bertemu, tapi Ayana seperti mencoba menghindar. Farraz akhrinya paham, bahwa ada seseuatu yang disembunyikan Ayana darinya.
"Baiklah, sayangku boleh berolahraga. Tapi, ingat apapun yang terjadi dan sedang sayang alami, mas selalu disini tepat disamping sayang." Ucapnya lembut.
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku, sayang. Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk mengatakannya padaku." Batin Farraz.
__ADS_1
"Terimakasih mas. You are the best husband in the world." Pujinya yang kini memeluk erat tubuh Farraz.
"Sudah pasti dong sayang. Dan selamanya suami terbaik didunia ini hanya untuk Ayana seorang." Membalas pelukan hangat Ayana.