
Handi sudah tiba lebih dulu di Bandara. Dia celingukan memperhatikan Ayana yang tidak kunjung datang.
"Hampir jam delapan. Kok Ayana belum sampai juga, ya?" Melirik jam tangannya.
"Hei bro!" Seru seseorang menepuk bahu Handi.
Seketika Handi menoleh.
"Fikri... ya ampun." Ucapnya tidak percaya melihat siapa yang ada dihadapannya.
Mereka saling bersalaman dan juga berpelukan. Keduanya sama sama senang bisa bertemu kembali setelah hampir lima tahun tidak pernah hertemu.
"Sombong ya sejak suskses jadi novelis." Sindir Handi bercanda.
"Mana ada gue sombong. Elu yang sombong. Sibuk mulu sama kerjaan." Celoteh Fikri.
Mereka adalah sahabat sejak masih menjadi siswa hingga saat ini. Sebelumnya selalu nongkrong dan jalan bersama kemanapun saat akhir pekan. Tapi, sejak Fikri menikah lima tahun lalu, hubungan mereka jadi renggang. Handi sengaja menjauh karena tidak ingin menjadi bahan pertikaian suami istri itu. Namun, kenyataannya Fikri tetap bercerai bahkan bukan karena Handi, tapi karena ulah Fikri sendiri yang mudah tertarik pada wanita yang lebih bening dari istrinya.
"Loe udah nikah belum?" Tanya Fikri.
"Belum. Gue malah jadi takut nikah gara gara elu." Bercanda.
"Ada ada saja." Ucapnya tersenyum.
"Mau kemana lagi nih?" Sambungnya.
"Singapur. Adek elu yang baik hati itu ngirim gue ke Singapur untuk ngerjain proyek di sana."
Fikri menganggukkan kepalanya sebagai respon dari penjelasan Handi.
"Elu sendiri mau kemana?"
"Satu tujuan kita, bro." Jawab Fikri senang.
"Really?"
"Iya lah. Emang cuma elu doang yang bisa ke sana. Gue juga bisa, bro."
Respon Fikri terdengar tersinggung oleh Handi, tapi sebenarnya tidak sama sekali. Memang gaya bicaranya seperti itu sejak dulu. Dan Handi sudah sangat mengenal sahabatnya itu dengan baik.
"Elu celingukan mulu? Cari siapa?"
Fikri melihat Handi celingukan seperti sedang menunggu seseorang datang menghampirinya.
"Pacar elu, bro?"
"Bukan. Gue lagi nunggu seseorang yang dikirim adik elu untuk ikut gue ke Singapur." Tuturnya.
"Siapa?" Tanya Fikri lumayan penasaran.
__ADS_1
"Ayana Yunita." Jawabnya santai tanpa menoleh pada Fikri yang saat mendengar nama itu membuat raut wajahnya berubah menjadi bingung.
"Ayana Yunita sekretarisnya itu, kan?" Tanya Fikri.
"Iya lah, kan cuma satu Ayana Yunita yang gue kenal. Bukannya dulu gue juga udah pernah cerita sama elu, waktu terakhir kita ketemu di acara nikahan elu."
Handi memberi penjelasan agar sahabatnya itu bisa mengingat kembali moment itu.
'Faras benar benar gila. Istri sendiri di suruh ikut pria lain.' Pikirnya sambil menggelengkan kepala.
'Kamu akan kehilangan Ayana, Raz. Kamu mengirimnya pada laki laki yang tepat.' Pikirnya lagi.
Kali ini Fikri menatap serius wajah Handi yang masih sibuk celingukan berharap bisa segera melihat Ayana.
'Banyak wanita kagum karena kebaikan dan juga karena dia pintar plus gagah. Aku yakin, Ayana pun akan luluh jika terus terusan diberi kesempatan untuk bersama dalam waktu yang lama. Kamu begok Raz. Kamu menyia nyiakan wanita terbaikmu.' Pikirnya lagi.
...🍀🍀🍀...
Ayana duduk didalam mobil. Dia benar benar sudah bosan menunggu Farraz yang tidak juga kunjung muncul.
"Lama banget sih mandinya. Mandi apa semedi sih tu bocah." Rutuknya memaki suaminya itu.
"Nyonya, kopernya sudah saya letakkan di bagasi." Ucap Mamat yang sudah menyelesaikan tugasnya.
"Terimakasih kang Mamat."
"Mbak Dijah udah dong nangisnya. Lagian Nyonya cuma pergi sebentar kok." Ucap Mamat mencoba membujuk Hadijah.
"Apanya yang sebentar. 14 hari itu lama, Mat. Sebentar itu dua atau tiga hari." Rutuknya sambil terus menangis.
"Iya deh lama…"
Mamat mengiyakan saja dari pada kena omelan Hadijah. Lalu dia pun akhirnya meninggalkan Hadijah yang masih terus menangis. Dia kembali ke depan untuk melihat, apakah Farraz dan Ayana sudah siap berangkat atau belum.
Melihat kedatangan Mamat, Ayana tersenyum karena mengira itu Farraz. Lalu, senyum itu segera memudar, saat mengetahui ternyata yang datang adalah Mamat bukan Farraz.
"Kang Mamat saja lah ngantar aku ke Bandara…" Ucapnya pada Mamat.
"Saya mau ngantar nyonya ke Bandara. Tapi, takut nanti saya dimarahi tuan Farraz." Ujarnya memberi alasan.
"Bilang aku yang maksa, kang. Ini sudah hampir jam delapan, dia masih belum juga kelihatan." Celotehnya kesal.
"Jadi perempuan itu harus sabar. Jangan hanya terus terusan meminta para pria untuk bersabar menunggu kaum perempuan berdandan yang lamanya lebih dari lima jam. Sesekali kalian juga harus sabar menunggu." Ujar Farraz yang tiba tiba nongol dan langsung melangkah menuju mobil.
Ayana memalingkan wajahnya yang tampak merah menahan perasaan kesalnya pada Farraz.
"Pasang sitbelt." Ucap Farraz yang sudah duduk di kursi supir.
Dia siap untuk melajukan jalan mobil menuju Bandara.
__ADS_1
Sepenjang perjalanan, Ayana terus diam dan memalingkan wajahnya dari Farraz. Dia terus menatap keluar dan membiarkan kaca mobil terbuka. Dia menikmati sejuknya angin pagi menerpa wajahnya.
'Haruskah aku mundur duluan dari pernikahan ini? Farraz dan Elsa harus segera menikah. Jika tidak, aku khawatir mereka akan melakukan hal yang tidak terduga.' Pikirnya.
Sesekali Farraz menoleh pada Ayana, meski Ayana terus memalingkan wajah darinya.
'Aku harus mengatakan pada Mama dan Papa, sebenarnya aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku juga akan mengatakan, sebenarnya aku ingin mengakhiri pernikahan ini. Ya, aku harus melakukan hal itu sepulang dari Singapur.' Pikiran Ayana terus berputar.
"Ayana! Hei, Ayana!"
Farraz memanggil dengan suara yang cukup lantang sebenarnya. Tapi, Ayana tetap tidak menoleh.
'Hutang Bapak juga akan lunas akhir bulan ini. Aku juga akan menulis surat pengunduran diri. Dan aku bisa pulang ke kampung kelahiran ibu. Aku akan menetap disana. Mungkin aku bisa menjadi guru mengaji, atau aku bisa melamar pekerjaan di kantor kelurahan. Disana, aku juga bisa berkebun sayur atau buah dan menjualnya ke Pasar. Ya, aku lebih suka hidup sederhana seperti itu, ketimbang menjalani hidup mewah tapi hatiku terluka.' Pikirnya.
Ayana sudah memikirkan dengan matang rencana kedepannya, setelah dia mengakhiri pernikahan rahasia ini dan juga setelah mengundurkan diri dari perusahaan.
"Helo, Ayana Yunita!" Teriak Farraz sambil menepuk bahu Ayana.
Merasa bahunya di sentuh, Ayana pun langsung menoleh. Tapi, dia terlihat linglung dan bingung.
"Apa sudah sampai?" Tanya Ayana celingukan.
"Kamu kenapa? Aku panggil panggil kok nggak nyahut." Rutuknya agak kesal.
"Mmh, hanya melamun. Memikirkan masa depanku dan rencanaku kedepan." Jawabnya santai.
Ayana menutup kembali kaca mobil. Diapun juga mencoba fokus menatap ke depan.
"Rencana apa yang mau kamu lakukan kedepannya?" Tanya Farraz.
"Ada pokoknya. Dan saya rasa pak Farraz tidak perlu tahu." Jawabnya malas.
"Apa mungkin ada aku direncana masa depanmu?" Menatap Ayana.
Ayana membalas tatapan itu untuk beberapa saat, kemudian dia kembali menatap kedepan.
"Pastinya. Sudah aku tebak, kamu pasti berkhayal bisa hidup bahagia bersamaku dan bahkan memiliki anak, kan?" Menerka seenaknya saja.
"Hahahaa… Aduh Ayana, jangan sampai deh berkhayal seperti itu. Karena aku tidak akan sudi masuk dalam rencana masa depan kamu." Ejeknya.
Farraz tertawa sepuasnya mengejek rencana masa depan Ayana seperti yang dia tuduhkan semaunya.
"Tidak sedikitpun saya berharap pak Farraz masuk kedalam rencana masa depan saya. Karena, bagi saya anda hanyalah bagian yang paling tidak penting dalam kehidupan saya." Ucap Ayana menegaskan.
Mendengar itu, membuat Farraz berhenti tertawa. Raut wajah mengejeknya yang sangat kentara beberapa detik yang lalu, langsung berubah menjadi merah padam.
'Akan aku pastikan menghilang selamanya dari kehidupan anda Farraz Ehsan.' Pikirnya.
Ayana benar benar tersinggung dengan ejekan Farraz terhadapnya beberapa saat yang lalu. Sehingga dia semakin bertekad untuk segera menghilang dari kehidupan seorang Farraz Ehsan.
__ADS_1