
Arumi tampak sibuk menjawab panggilan dari orang orang yang menanyakan keberadaan bosnya yang tidak bisa dihubungi sama sekali hari ini. Dia bingung harus bagaimana dan harus memberikan alasan apa agar Klien Klien itu mempercayai ucapannya.
"Maaf, pak. Iya nanti saya sampaikan pada pak Farraz."
"Iya, iya pak. Saya akan coba menghubungi pak Farraz dan mbak Ayana segera." Arumi menjawab semua panggilan masuk dari klien yang menjanjikan pertemuan dengan Farraz hari ini.
"Ini pak Handi juga kenapa nggak bisa dihubungi. Kok bisa sih mereka libur di hari sibuk seperti ini!" Arumi panik dan kesal. Bagaimana tidak, ketiga orang penting di perusahaan ini mendadak kompak cuti bersama dan tidak satupun yang bisa dihubungi.
"Nurul, tolong copy kan berkas ini. Nanti kamu antar ke keuangan." Arumi memerintahkan Nurul untuk mengambil alih tugasnya, sementara dirinya terus berusaha menghubungi Farraz, Ayana dan Handi.
__ADS_1
"Arumi!" Seru seseorang yang tiba tiba datang membuat Arumi terkejut.
"Pak Haris!" Seru Arumi dengan tatapan terkejut dan tidak percaya, Presiden Direktur berada di Perusahaan.
"Apa ada yang bisa saya bantu, untuk meringankan tugas kamu hari ini?" Tanya Haris dengan gaya bicaranya yang selalu membuat hati para Karyawan merasa nyaman.
"Sebenarnya hari ini ada tiga pertemuan dengan Klien untuk membicarakan pembangunan proyek dan kerja sama. Tapi, pak Farraz, mbak Ayana dan pak Handi tidak datang dan tidak bisa dihubungi." Tuturnya.
Haris tersenyum, lalu dia memberikan sapu tangan pada Arumi untuk menghapus air mata yang hampir menetes dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah bekerja keras untuk tetap membuat Klien bersabar. Kini, biarkan saya yang akan mengambil semua tugas itu." Ucapnya kemudian mengambil lembaran kertas ditangan Nurul yang baru saja selesai di copy nya.
"Kalian kembali ke tugas masing masing. Kecuali ini, kamu Nurul harus tetap mengantarkan pada manajer keuangan secepatnya."
"Baik Pak." Nurul begitu semangat, saat mengetahui ternyata Presiden Direktur tahu namanya, padahal dia tidak pernah bertemu secara langsung sebelumnya dengan pemilik Perusahaan itu selama dia masih menjabat di perusahaan.
"Dan untuk Arumi, kamu boleh pulang awal hari ini. Itu sebagai hadiah, karena kamu sudah berhasil membuat Klien tetap menunggu." Ucapnya sambil tersenyum pada Arumi.
"Terimakasih pak Haris." Ucapnya semangat. Arumi pun kembali ke ruangannya dengan hati yang lega.
__ADS_1
Sementara, Haris mulai menghubungi satu per satu Klien yang memiliki janji dengan Farraz hari ini. Dia membicarakan hal hal yang perlu dibicarakan saja melalui sambungan telepon. Dia juga menyakinkan pada Klien untuk tetap percaya pada Farraz da menunggu hingga besok pagi. Jika Farraz masih tidak bisa di hubungi, maka dia sendiri yang akan turun tangan untuk menemui Klien Klien itu.
"Benar benar keterlaluan ini bocah. Dulunya bilang nggak mau nikah sama Ayana. Nah sekalinya jatuh Cinta, malah lupa kerjaan dan menghabiska waktu hingga kebablasan." Gumam Haris sambil menggelengkan kepala mengingat kegilaan Farraz yang masih mengajak Ayana bercinta di pagi hari ini. Haris mendengar cerita itu dari Irma yang mendapat pemberitahuan dari Hadijah yang tidak sengaja mendengar teriakan Ayana di dalam kamar Farraz pagi ini, saat dia hendak membangunkan majikannya itu untuk segera menyantap sarapan pagi.