Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 52 Kamu milikku!


__ADS_3

Ayana bangun lebih dulu. Dengan langkah pelan, dia meninggalkan Farraz yang masih terlelap. Wajah Farraz tampak berseri seri meski sedang terlelap dan akhirnya Ayana mengecup kening indah milik suaminya tepat sebelum dia meninggalkan kamar itu.


Langkah kaki Ayana kembali bersemangat begitu berhasil keluar dari kamar Farraz tanpa membangunkannya. Dia pun langsung mandi dan mulai bersiap untuk menjalankan aktivitas hari ini.


Sementara itu, Farraz sudah membuka matanya, dia pun menyadari tubuh istrinya sudah tidak ada disampingnya, sehingga dia pun langsung bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkn diri.


Tok… tok.


Suara ketukan pintu membuat Farraz yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri pintu kamarnya untuk melihat siapa pelaku yang mengetuk pintu itu. Begitu pintu dibuka, senyum manispun terlihat dibibir Farraz.


"Rupanya istriku." Ucapnya senang.


"Mas sudah, mandi?" Tanya Ayana tanpa berani menatap wajah Farraz.

__ADS_1


Bukan menjawab pertanyaan itu, Farraz malah menarik tubuh Ayana untuk masuk ke kamarnya. Dan entah bagaimana caranya, kini Ayana sudah berada dibawah kungkungannya.


"Mas, mau ngapain? Ini sudah pagi dan kita harus segera ke kantor sekarang!"


"I dont care. Aku hanya menginginkan kamu, sayang." Membelai wajah Ayana dengan tangannya yang terasa dingin, karena dia baru dari kamar mandi.


"Tapi, kita bisa telat ke kantor, Mas. Nanti aja ya, pulang dari kantor aja lanjutin." Ayana mengingatkan dan menyarankan pada suaminya yang bahkan sudah tidak lagi mendengarkan ucapannya. Dia sudah mulai bermain dengan bagian bagian indah tubuh Ayana.


"Mas, stop… mh ahk…" Ayana sudah tidak berdaya meraskan sentuhan demi sentuhan yang dilakukan oleh Farraz.


"Aku sangat sangat mencintaimu, Ayana Yunita. Jangan sekali kali kamu berencana untuk berubah pikiran dan memilih lelaki lain. Kamu milikku dan aku milikmu." Ucap Farraz gemetar menahan gejolak rasa indah yang juga mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Mas… akh mmmhh, sakiiitttt!" Teriak Ayana tertahan saat merasakan Farraz menyatukan dirinya dengan sentakan yang kuat dan seakan menegaskan bahwa dialah satu satunya pemilik jiwa dan raga Ayana.

__ADS_1


Mendengar Ayana mengatakan keluhannya, Farraz berhenti sesaat. Dia diam sebentar untuk membuat dirinya relax agar bisa membuat Ayana merasakan nikmat bukan malah merasakan sakit. Sungguh Farraz tidak berniat untuk menyakiti Ayana, tapi dia sendiri tidak tahu mengapa tubuhnya seakan mengintruksinya untuk menegaskan bahwa Ayana adalah miliknya.


"Aku ingin bersamamu hingga menua dan hingga raga ditelan bumi, Mas. Aku menginginkan itu." Ucap Ayana tertahan dan sedikit terisak.


"Iya sayang. Mas juga menginginkan hal yang sama." Membelai kedua pipi Ayana, lalu memberikan kecupan di bibirnya. Kecupan itu perlahan berubah menjadi ciuman yang membuat Ayana melenguh nikmat dan sangat bersemangat. Kesempatan itu Farraz gunakan untuk kembali melanjutkan pergerakannya dibawah sana. Dan benar saja, saat dia mulai kembali bergerak, Ayana malah memberikan respon yang membuat Farraz tersenyum bahagia.


"Aakhh… mmheungg…" Ayana tampak berusaha menahan lenguhannya. Farraz tidak suka itu, dia pun mempercepat temponya dan memberikan kecupan dan sentuhan disetiap inci tubuh Ayana, sehingga membuat Ayana benar benar tidak kuat untuk menahan lenguhannya lagi. Dia bahkan hampir sampai pada tujuannya


"Sebentar, sayang. Bersamaan denganku." Pinta Farras.


Ayana sudah tidak bisa menahan tapi dia ingin menuruti keinginan suaminya, hingga akhirnya tanpa sadar dia menggigit kuat bahu suaminya untuk menahan diri agar bisa tiba ditujuan bersamaan dengan suaminya.


"Aahhkk sakit sayang!" Teriak Farraz tertahan. Dia merasakan sakit dibahunya yang digigit Ayana, sementara dibawah sana dia merasakan nikmat tiada tara.

__ADS_1


"Aku sampai sayang… aaahkk!" Farraz ambruk diatas tubuh Ayana. Mereka benar benar penuh dengan keringat dan napas yang ngos ngosan. Ayana sebenarnya merasa sangat pengap, terlebih Farraz menindihnya, tapi dia terlalu lelah untuk sekedar mendorong tubuh Farraz saja rasanya tidak kuat. Dan merekapun akhirnya terlelap di pagi yang sangat panas itu.


__ADS_2