
Sesampainya di Resto, Ayana langsung masuk dan memilih duduk di meja paling pojok. Saat Ayana mulai memesan, Farraz pun tiba di resto itu. Kedatangan Farraz langsung disambut oleh Via. Mereka duduk tidak jauh dari Ayana. Tapi, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ada Ayana di pojok sana duduk sendirian sambil berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Ada cerita apa kali ini?" Tanya Via agak jutek.
"Tentang Elsa." Ucap Farraz.
Via menghela napas kesal. Dia tidak suka pembicaraan ini.
"Ada apa lagi dengan wanita itu? Apa dia mau bunuh diri juga seperti si Putri." Celotehnya.
"Bukan tentang itu." Bantahnya.
"Lalu?" Tanya Via mulai penasaran.
Sebentar Farraz memanggil Waiter, dia memesan segelas es teh untuk mendinginkan kepalanya yang terasa amat sangat panas.
"Elsa rupanya sudah menemukan lelaki yang tepat untuknya. Dan, sebentar lagi mereka akan segera bertunangan." Tuturnya.
"What?!" Teriak Via terkejut.
Beberapa orang menatap ke arah mereka saat Via meninggikan suaranya. Sementara, Ayana masih terus membelakangi mereka, meski dia pun sama terkejutnya dengan apa yang diberitahukan Farraz barusan.
__ADS_1
"Wanita itu selingkuh? Kok bisa? Bukankah kalian sudah bertunangan?" Tanya Via yang semakin penasaran.
"Tepatnya kurang lebih tiga bulan lalu, aku memergoki dia sedang bermesraan dengan lelaki lain." Ungkapnya.
"Lalu?"
"Ya, dia menjelaskan semuanya padaku. Dia bilang dia menyerah dengan hubungan kami yang tidak juga menemukan titik baiknya. Dia bilang, aku harus jujur dengan perasaanku pada Ayana." Tuturnya.
"Dan perasaan kamu sama Ayana, bagaimana?" Tanya Via penasaran.
"Entahlah. Aku takut kehilangan Ayana. Aku juga merasa kesal saat dia selalu bersama Handi. Tapi…"
"Tapi apa? Itu namanya jelas perasaan suka. Itu perasaan cinta wahai Farraz Ehsan." Ucap Via geram.
Sejenak Via terdiam. Di mencoba mengingat seperti apa Ayana saat sedang bersama Farraz.
"Mungkin Ayana tidak menyukai kamu. Yah, tapi itu wajar sih. Kamu sendiri sibuk dengan Elsa dan tidak memberi dia kesempatan untuk mencintai kamu." Ujar Via.
"Itu dia masalahnya. Aku tidak mau mengganggu kehidupan Ayana. Siapa tahu saat ini dia sudah mulai menerima lelaki lain dalam hidupnya, lalu aku tiba tiba mengatakan perasaanku padanya. Bukankah itu tindakan yang egois?"
Farraz mengusak wajahnya. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri. Dia juga menyesal, karena akhirnya terkena batu yang dilemparkannya sendiri.
__ADS_1
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apakah kamu akan melepaskan Ayana begitu saja?"
Farraz tidak langsung menjawab, dia malah membenamkan wajahnya diatas meja. Sedangkan Ayana, terkejut, terharu dan bingung mendengar pengakuan Farraz barusan.
"Sebenarnya, Elsa berencana untuk membantuku mengetahui apakah Ayana mencintaiku atau tidak. Aku sengaja terus terusan membahas tentang Elsa pada Ayana dengan tujuan untuk membuatnya cemburu. Tapi, bukan hal itu yang aku lihat." Rutuknya.
"Lalu apa yang kamu lihat?"
"Melihat Ayana semakin dekat dengan Handi dan semakin jauh dariku. Tatapannya padaku bahkan tampak seperti sedang menatap orang asing."
"Hhuuhh," Via menghembuskan napas kuat.
"Aku harus bagaimana sekarang? Aku takut kehilangan Ayana."
Farraz tampak putus asa dan menyesali perbuatan buruknya terhadap Ayana.
"Jika sainganmu adalah Handi, maka kamu harus bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal pada Ayana. Handi saingan yang berat, bro." Tutur Via.
Mereka berhenti bicara dan hanya saling menghela napas sesekali. Sementara, Ayana sudah meneteskan air mata haru.
'Ya Allah, ternyata suamiku mencintaiku.' Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
'Aku juga mencintaimu, Raz. Maafkan aku tidak menunjukkan rasa cemburuku dihadapanmu. Sungguh aku sangat cemburu mendengar kamu menceritakan Elsa setiap saat.' Gumamnya dalam hati.
Ayana hampir terisak, tapi ditahannya demi menjaga persembunyiannya agar tidak ketahuan oleh Farraz dan Via bahwa dia duduk tepat dibelakang mereka.