
Tiga tahun kemudian.
Sirine mobil polisi bersahutan memekakkan telinga di jalan raya. Mobil mobil petugas kepolisian itu menuju kediaman Daniel yang menjadi tersangka utama penggelapan uang Gg Crupt selama dia menjabat sebagai pimpinan.
"Mas, mobil polisi menuju ke rumah kita?" Dea tampak bingung dan ketakutan.
"Bawa Weni keluar lewat pintu belakang. Kalian harus pergi yang jauh." Memasukkan beberapa pakaian Weni dan Dea kedalam koper.
"Kenapa mas, apa mas berbuat kesalahan?"
"Mas hilaf, sayang. Mas tidak bermaksud menggelapkan uang perusahaan."
"Apa? Mas melakukan penggelapan uang perusahaan, untuk apa mas?"
"Mas berinvestasi pada perusahaan asing yang menjanjikan akan membantu Gg crupt bebas dari faress crupt." Jelasnya sambil memakaikan jaket tebal pada Weni.
"Tuan Haris sudah sangat baik sama kamu selama ini, mas. Beliau bahkan mempercayakan Gg crupt pada mas yang hanya mantan suami dari menantu kesayangannya."
"Kenapa mas tega melakukan hal ini, mas?" Dea menangis. Dia kesal mengetahui ternyata suaminya menjadi serakah dan rakus.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku." Memeluk istri dan anaknya.
"Pergilah dari sini. Kalian harus tetap hidup." Mencium istri dan anaknya bergantian.
"Mas khilaf sayang. Mas, kalap..."
Danil menyesali perbuatannya. Dia tidak akan lari kali ini. Dia akan menerima kehancuran yang disebabkan sendiri.
__ADS_1
"Papa..." Weni memeluk Danil. Meski usianya baru lima tahu, Weni sudah memahami apa yang sedang dialami papanya saat ini.
"Oh sayang, maafkan papa, nak."
"Papa tidak boleh nangis. Weni akan pergi sama Mama lebih dulu, tapi papa harus janji satu hal."
"Janji apa sayang?"
Weni mengulurkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan Papanya.
"Berjanjilah papa akan menyusul Weni sama Mama."
"Pasti sayang. Papa janji akan menyusul kalian secepat mungkin." Melakukan janji kelingkin dengan putrinya.
"Weni yakin papa bukan orang jahat." Ujarnya dengan polos.
"Pak Danil, buka pintunya atau kami akan mendobrak." Teriak petugas kepolisian di luar sana.
"Pergilah sayang." Danil menutup pintu belakang dan berlari menuju pintu depan.
Begitu pintu terbuka, petugas kepolisian langsung masuk dan menggeledah rumah Danil. Sementara itu, Dea dan Weni menyaksikan kejadian itu sambil besembunyi di balik pintu darurat. Weni bahkan melihat jelas, saat polisi memborgol tangan papanya.
Sementara itu, saat ini keluarga Ehsan tengah berbahagia menyambut kelahiran putri pertama Via dan Handi.
"Mau diberi nama apa, dedek cantiknya Ucle, Anty?" Tanya Ayana mewakili Zhafran yang sejak tadi jadi anteng duduk melihat si mungil dalam gendongan bundanya.
"Kakek saja deh yang ngasih nama." Handi menyerahkan pemberian nama buah hatinya pada papa mertuanya.
__ADS_1
"Papa lagi nih yang ngasih nama?"
"Iya dong, biar adil gitu pa." Celetuk Via yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur ruang rawat VVIP itu.
"Karena bayinya perempuan, boleh nggak nenek saja yang ngasih nama?" Ujar Irma ragu ragu.
"Boleh dong Ma." Sahut Handi dan Via bersamaan.
Irma pun mendekati cucu cantinya itu, lalu membacakan surah yang sama seperti saat suaminya memberi nama pada cucu pertama mereka.
"Si cantik ini nenek beri nama Sarah Maharani Ehsan." Ucapnya.
"Nama yang indah, dedek sarah sayang..." Ayana mendekatkan wajah mungil itu pada Zhafran.
"Kak Zhafran, tium adek Sarahnya dong."
"Ayo sayang, tium dong adek bayinya." Pinta Farraz.
Perlahan Zhafran mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Sarah. Lalu, tangan sarah menggenggam erat telunjuk Zhfaran.
"Adu, duuuduhh... dek Sarah kesenangan di tium kakak Zhafran ya!" Goda Ayana yang membuat semua orag tertawa bahagia.
Sungguh kebahagiaan yang dirasakan Ayana saat ini tidak akan tergantikan oleh apapun. Dia bersyukur, bisa menjadi istri dari Farraz yang sangat menyayanginya lebih dari apapun.
Tamat.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1