
Kini Putri terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit. Timo dan Preti menunggu Putri mereka dengan penuh rasa khawatir.
"Dokter, apa yang akan terjadi pada Putri kami?" Tanya Preti.
"Ibu tenang saja. Putri ibu dan bapak baik baik saja. Karena cepat dibawa ke rumah sakit, jadi pendarahannya bisa kami hentikan segera. Saat ini bapak dan ibu hanya perlu menunggu putri bapak dan ibu siuman." Jelasnya.
Meski begitu, Preti tetap mengkhawatirkan putrinya. "Semua ini karena Farraz. Harusnya Papa tarik semua saham kita yang ada di Faress crupt."
Timo menarik tubuh istrinya masuk dalam dekapannya. "Akan segera papa lakukan, Ma. Setelah itu kita kembali ke Italia. Kita akan menetap disana selamanya." Ucapnya mencoba menenangkan istrinya.
Sementara itu, saat ini Ehsan dan Irma baru tiba di rumah sakit. Tadinya mereka sudah ke rumah Timo. Tapi, pembantunya bilang mereka sudah ke rumah sakit, karena Putri menyayat pergelangan tangannya untuk mencoba bunuh diri.
Setibanya dirumah sakit, mereka langsung menanyakan kamar tempat Putri di rawat. Setelah mengetahui dimana kamarnya, mereka segera bergegas menuju kamar itu.
"Bgaimana keadaan Putri, jeng?" Tanya Irma yang kini masuk ke ruangan tempat Putri dirawat.
"Anakku masih belum sadarkan diri." Jawab Preti.
Irma pun menyentuh lembut wajah pucat Putri yang terbaring tidak sadarkan diri itu.
"Maafkan tante, sayang!" Serunya menatap sedih wajah Putri.
"Tidak perlu meminta maaf. Dan lebih baik kalian pergi dari sini!" Teriak Preti yang tiba tiba langsung menggila.
Dia mendorong tubuh Irma dan Ehsan keluar dari ruangan itu. Awalnya Irma mencoba menenangkan sahabatnya itu, tapi tidak berhasil, karena Timo juga ikut mengusir mereka keluar dari sana.
"Jangan pernah datang lagi. Mulai saat ini juga hubungan persahabatan kita berakhir. Aku akan segera menarik semua sahamku yang ada di Faress Crupt." Ucap Timo menegaskan pada Ehsan dan Irma yang sudah berhasil diusirnya dari ruangan tempat putri mereka dirawat.
Ehsan dan Irma tertegun mendnegar penyataan Timo yang mengakhiri persahabatan dan juga menarik semua sahamnya dari Faress Crupt.
"Ma, sebaiknya kita pulang." Ajak Ehsan merangkul bahu Irma.
Mereka pun langsung bergegas meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sehingga sepanjang perjalanan pulang, mereka hanya saling diam dan tidak berucap apapun meski hanya sepatah kata sekalipun.
...🍀🍀🍀...
"Besok kita berangkat ke Singapur." Ucap Handi mengingatkan.
"Iya. Kenapa?" Tanya Ayana sambil mengunyah makanan dimulutnya.
"Rasanya sudah tidak sabar untuk segera tiba si Singapur." Ungkapnya bahagia.
"Segitu senangnya. Memang ini baru pertama kamu ke Singapur?" Tanya Ayana.
"Iya. Pertama kali ke Singapur bersama wanita yang sangat cantik seperti kamu, Yana."
Dia mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang dirasakannya. Tapi, Ayana malah menganggap itu hanya candaan belaka.
"Mulai lagi gombalnya." Ledeknya.
Handi tersenyum saja. Dia tahu, Ayana hanya menganggapnya bercanda.
"Yana, boleh aku bicara serius?"
__ADS_1
"Boleh."
Ayana menghentikan kegiatan makannya. Kini dia menatap fokus pada Handi.
"Apa kamu belum kepikiran untuk menikah lagi?" Tanya Handi sambil menatap penuh harap pada Ayana.
"Kenapa tiba tiba bertanya tentang hal itu?"
Ayana mengalihkan pandagannya. 'Handi, please jangan menatapku seperti itu. Aku tahu kamu mencintaiku. Tapi, aku sudah menikah lagi, Han.' Ucapnya dalam hati.
"Apa pertanyaanku membuatmu tersinggung, Yana?" Merasa tidak enak hati.
"Tidak, Han. Tapi, aku rasa lebih baik tidak usah menanyakan hal itu lagi." Tegasnya.
"Baiklah. Aku minta maaf, Yana."
"Tidak perlu minta maaf, Han. Kamu tidak salah. Hanya saja, aku yang belum tahu harus menjawab dengan apa tentang pertanyaan barusan." Ungkapnya.
"Ok. Aku tidak akan bertanya tentang hal itu lagi."
Handi tersenyum menatap Ayana dengan tatapan lembutnya. Dia benar benar akan membuat Ayana nyaman berada didekatnya. Meski, dia harus mengurungkan keinginannya untuk bisa bersama Ayana.
"Besok kita bertemu langsung di bandara atau aku jemput ke rumah?" Tanya Handi.
"Kita langsung bertemu di bandara saja, Han."
"Siap, Nyonya Ayana Yunita." Ucapnya sambil tersenyum bahagia menatap wajah Ayana.
Dan Ayana juga tersenyum padanya.
...🍀🍀🍀...
Sepulang bekerja, Farraz langsung menuju Apartemen Elsa. Tapi, dia harus menunggu Elsa dimobilnya, karena Elsa sedang berada diluar. Farraz bahkan sampai ketiduran didalam mobilnya karena memang dia merasakan sangat lelah hari ini.
Tok, tok…
Seseorang mengetuk kaca mobilnya. Perlahan Farraz membuka matanya dan menoleh kearah kaca yang diketuk.
"Elsa!" Serunya.
Dia segera kekuar dari mobil dan langsung memeluk erat tubuh Elsa. "I miss you."
Ucapan Farraz membuat Elsa mematung. Dia masih termangu, karena ini kali pertama Farraz mengatakan rindu padanya.
"Apa kamu tidak akan mengajakku masuk? Aku benar benar lelah dan butuh istirahat." Rengek Farraz manja.
Meski masih tidak percaya dengan kelakuan Farraz malam ini, Elsa tetap mencoba tersenyum.
"Ayo kita masuk." Ajaknya.
Merekapun melangkah masuk menuju apartemen Elsa yang berada di lantai empat. Setibanya di apartemen, Farraz benar benar langsung merebahkan dirinya diatas sofa empuk didepan Tv.
"Apa kamu sudah makan malam?" Tanya Elsa.
__ADS_1
"Belum." Menoleh pada Elsa dengan mata berbinar binar.
"Aku akan memasak makan malam. Kamu istirahat saja dulu." Ucap Elsa menyarankan.
"Bangunkan aku jika sudah siap." Ujarnya.
Elsa menoleh kearah Farraz yang ternyata sudah memejamkan matanya. Lalu, Elsa pun mengganti pakaiannya dan setelah itu dia menuju dapur untuk memasak makan malam.
Sambil masak, Elsa selalu menyempatkan matanya untuk menatap wajah lelap Farraz. Hingga akhirnya, Elsa pun menghentikan sejenak pekerjaannya untuk melihat Farraz lebih dekat.
"Kamu sangat menggoda, Farraz." Bisik Elsa pada dirinya sendiri.
Perlahan jari jemarinya menyentuh dahi Farraz, lalu pindah ke alis, mata, hidung dan bibir Farraz.
"Maafkan aku, Raz. Aku sangat ingin menciummu malam ini." Ucap Elsa dengan suara sangat pelan.
Dia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Farraz. Hingga saat jarak wajahnya denga wajah Farraz sudah sangat dekat, dia mengatur agar bibirnya menyentuh bibir Farraz. Dan saat bibir mereka sudah bersentuhan, Elsa pun langsung memejamkan matanya.
Farraz terkejut saat merasa benda kenyal berada tepat dibibirnya, hingga dia membuka mata dan mendapati Elsa yang ternyata sedang menciumnya. Dia sempat ingin mendorong tubuh Elsa agar menjauh darinya. Namun, keinginan itu diurungkannya. Dia tidak mau membuat Elsa merasa tersinggung lagi.
Mata Farraz pun kembali terpejam. Dia tidak lagi terlelap, tapi hanya memejamkan matanya untuk membiarkan Elsa melakukan apa yang diinginkannya. Dan benar saja, Elsa mencium bibir Farraz yang tadinya hanya sekedar menyentuh, kini malah memperdalam ciumannya, hingga tanpa sadar Farraz melenguh.
"Eenggh…" Lenguhan Farraz.
Elsa sempat kaget dan hendak menyudahi kegiatannya bermain dibibir Farraz. Tapi, saat dia melihat mata Farraz yang masih terpejam, membuatnya melanjutkan ciuman itu. Elsa bahkan semakin rakus mencium bibir Farraz.
Ddrrriiittttt…
Getar handphone Farraz membuat Elsa menghentikan ciumannya. Dia pun berlari kembali ke dapur dan berpura pura tidak terjadi apa apa. Begitu juga dengan Farraz. Dia juga berpura pura terbangun karena getaran handphonenya.
"Ada apa, Handi?" Tanya Farraz.
"Besok aku sama Ayana akan berangkat ke Singapur." Ucap Handi di ujung sana.
"Iya aku tahu. Apa ada kendala?"
"Tidak ada kendala apapun, Raz. Hanya saja Aku merasa ingin mengabari saja." Jawab Handi santai.
"Baiklah. Thanks." Ucap Farraz.
Setelah mengatakan terimakasih yang membuat Handi bingung di ujung sana, Farraz langsung mengakhiri perbincangan itu. Dia pun kembali duduk di sofa tempat dia berbaring tadinya.
"Apa masakannya belum siap, El?" Tanya Farraz tanpa menatap kearah Elsa.
"Bentar lagi, Raz. Kamu sudah sangat lapar, ya?" Godanya mencoba mengendalikan perasaan aneh dihatinya setelah merasakan bibir Farraz beberapa saat yang lalu.
"Iya. Lapar banget." Ucap Farraz.
Dia pun melangkah mendekati Elsa di dapur. Hal itu membuat Elsa merona dan agak grogi.
"Kamu kepanasan? Kok wajah kamu merah begitu, sayang?" Ucap Farraz sambil menyibak rambut di wajah Elsa.
Hal itu membuat wajah Elsa semakin merona merah. Namun, Farraz semakin menggodanya dengan menggerakkan jarinya menyusuri leher Elsa.
__ADS_1
"Aku bisa berikan kamu ciuman lebih dari yang tadi kamu lakukan, sayang. Tapi, aku tidak akan pernah bisa memberi lebih dari sekedar ciuman. Apa kamu mau mencobanya?" Bisik Farraz yang mendekatkan mulutnya ditelinga Elsa.
Mendengar ucapan itu membuat Elsa langsung mengangguk setuju. Dia tidak mau melewatkan kesempatan yang selama ini diinginkannya.