Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 27 Malam panas.


__ADS_3

"Aku bisa berikan kamu ciuman lebih dari yang tadi kamu lakukan, sayang. Tapi, aku tidak akan pernah bisa memberi lebih dari sekedar ciuman. Apa kamu mau mencobanya?" Bisik Farraz yang mendekatkan mulutnya ditelinga Elsa.


Mendengar ucapan itu membuat Elsa langsung mengangguk setuju. Dia tidak mau melewatkan kesempatan yang selama ini diinginkannya.


Elsa langsung melangkah menuju Farraz. Dia menghambur dalam dekapan pria yang sangat dicintainya itu. Merekapun bergumul saling berpagutan malam itu.


'Kamu hanya sebagai pelampiasan rasa penasaranku untuk menyentuh bibir Ayana.' Ucap Farraz dalam hati.


Dia membawa tubuh Elsa menepi hingga tersudutkan ditembok dinding kamar. Perlahan Fararz menarik kedua tangan Elsa menyilang diatas kepalanya, lalu dia menghimpit tubuh Elsa didinding, dengan bibir mereka yang terus saling bertautan.


"Aakkhh…" Lenguhan Elsa merasakan indahnya ciuman yang diberikan Farraz padanya.


'Haruskah aku menikahimu, Elsa?' Pikirnya.


'Apa yang harus aku lakukan. Aku memang mencintaimu Elsa. Tapi, aku tidak bisa kehilangan Ayana.'


"Aawwkkh…" Jerit Elsa saat bibirnya terasa sakit karena gigitan Farraz.


Menyadari jeritan Elsa, Farraz pun langsung mengakhiri ciuman itu. Ditatapnya wajah tidak suka Elsa karena ciuman itu berakhir.


"Cukup, sayang. Aku belum bisa memberikan lebih." Ucap Farraz.


Lalu dia meraih kembali tubuh Elsa untuk dipeluknya. Dia mengelus lembut punggung Elsa untuk menenangkannya.


'Kenapa dengan pikiranku yang selalu teringat Ayana. Apa mungkin aku terkena sihir wanita tua itu!' Teriaknya dalam hati, merutuki ketidak mampuannya mengendalikan dirinya dari memikirkan Ayana.


"Raz, aku rasa… aku tidak bisa menyelesaikan masakanku. Aku sangat mengantuk. Aku ingin segera tidur." Ucap Elsa terengah dalam pelukan Farraz.


Perlahan Farraz melepas pelukannya, lalu ditatapnya wajah sendu Elsa yang masih terengah engah setelah pergumulan mereka beberapa detik lalu. Dia juga melihat goresan kecil di bibir bawah Elsa akibat gigitannya tadi. Perlahan jari telunjuk Farraz menyapu sedikit darah di bibir itu, lalu dia melanjutkan dengan memberi kecupan hangat di kening Elsa.


"Tidurlah sayang. Aku juga harus segera pulang." Ucap Farraz.


"Tidak bisakah menginap lagi malam ini?" Mendongak untuk menatap wajah Farraz.


Tatapan itu membuat Farraz merasa iba. Tapi, dia tidak bisa menginap malam ini. Dia harus pulang, karena besok Ayana akan berangkat ke Singapur dan dia akan mengantar Ayana ke Bandara. Itu janjinya pada Ayana yang diucapkannya pagi tadi.


"Aku janji tidak akan melakukan apapun. Aku hanya butuh kamu menemaniku tidur dan memelukku sepanjang malam. Hanya itu, Raz." Menatap dengan mata berkaca kaca dan penuh harap.

__ADS_1


"Malam ini aku harus pulang, sayang. Tapi, besok aku akan menjemputmu. Kita jalan jalan sepuasnya. Ok!" Seru Farraz menghibur kekasihnya yang terlihat sangat sedih itu.


"Janji?" Ulangnya untuk memastikan.


"Iya, aku janji." Tegas Farraz.


Elsa mengangguk yakin. Lalu dia memeluk Farraz sebentar dan melepaskannya.


"Pulanglah. Hati hati saat menyetir. I love you." Ucap Elsa sambil tersenyum.


Sekali lagi Farraz mencium kening Elsa, barulah kemudian dia benar benar meninggalkan Elsa sendirian di apartemennya.


...🍀🍀🍀...


Saat tiba di rumah, Farraz langsung ikut menyantap makan malam bersama Ayana dan Hadijah.


"Gimana enak nggak?" Tanya Ayana.


"Enak banget. Rasanya seperti steik ayam yang selalu aku makan di star Resto." Ungkapnya sambil mengingat ingat.


'Emang benar. Aku belinya langsung kesana, kok.' Ucapnya dalam hati.


"Besok Nyonya berangkat pukul berapa?" Tanya Hadijah.


"Mmhh, pukul delapan. Kenapa mbak?"


Hadijah tidak menjawab. Dia malah menghela napas dan berhenti menyantap steik ayam kesukaannya.


"Apa kamu sudah mempersiapkan semua perlengkapan untuk berangkat besok?" Tanya Farraz.


"Sudah dong. Semuanya sudah siap, hanya tinggal berangkat." Jawabnya antusias.


'Senang banget lah, perginya kan sama ayang Handi.' Celoteh Farraz dalam hati.


Dia merasa tidak senang melihat antusias Ayana untuk berangkat ke Singapur. Padahal dia sendiri yang merekomendasikan Ayana untuk ke Singapur bersama Handi. Entahlah, Farraz memang rada rada aneh.


"Ingat, disana hanya cuma dua minggu. Jangan sampai lebih." Ujarnya mengingatkan dengan nada suara terdengar menyindir.

__ADS_1


"Tenang saja tuan Farraz Ehsan. Aku pastikan tidak akan berlebih dari dua minggu." Jawabnya menegaskan.


Hadijah diam saja mendengar obrolan majikannya yang terdengar seperti orang berantem.


"Aku akan membawa Elsa ke rumah ini." Ucap Farraz tib tiba.


Mulut Ayana mendadak berhenti mengunyah saat mendengar pernyataan Farraz tentang keinginannya membawa Elsa ke rumah ini.


"Kenapa mengatakan itu padaku." Ayana kembali menguyah makanannya dan berusaha terlihat baik baik saja.


"Ya, karena ini rumah yang Mama dan Papa belikan untuk kita. Kita sama sama punya hak atas rumah ini. Makanya aku bertanya sekaligus minta izin sama kamu. Gitu loh." Tuturnya menjelaskan.


"Kalau aku tidak memberi izin, memang kamu mau terima?" Tanya Ayana agak sewot.


Hatinya terasa sakit dan panas mendengar suaminya meminta izin untuk membawa wanita lain ke rumah yang mereka tempati bersama dalam beberapa hari terakhir.


"Jika memang kamu tidak mengizinkan, aku tidak akan membawanya ke rumah ini."


"Bawa saja. Aku tidak punya hak melarangmu membawa siapapun ke rumah ini. Lagi pula, kita juga sudah berjanji untuk tidak saling ikut campur urusan masing masing. Toh, kalau rahasia pernikahan kita terbongkar, kamu juga yang rugi, kan?"


Celoteh panjang Ayana diakhirinya dengan mereguk sisa air digelasnya. "Aku sudah selesai makan."


Ayana pun langsung meninggalkan meja makan, diikuti oleh Hadijah yang langsung membawa piring kotor miliknya dan Ayana ke dapur untuk segera di cuci. Sedangkan Farraz masih melanjutkan makan malamnya.


'Andai kamu tidak memberi izin, aku tidak akan membawa Elsa ke rumah ini, Ayana. Tapi, mendengar kamu memberiku izin… hatiku kok terasa aneh begini sih. Sakit…!' Ungkapnya dalam hati.


Dia melampiaskan rasa kesal dan sakit dihatinya itu pada steik ayam yang ada dihadapannya. Semakin sakit hatinya, semakin kuat dan cepat dia mengunyah daging ayam itu.


'Wanita tua tidak punya perasaan.' Memaki Ayana dalam hatinya.


Sementara itu, dikamarnya. Ayana juga merasa sangat sakit mendengar Farraz akan memawa Elsa ke rumah ini.


"Apa sih yang diinginkan Farraz dariku? Jika memang dia sangat ingin menikah dengan Elsa, kenapa tidak segera menikah saja. Tinggal jatuhkan talak padaku, maka pernikahan rahasia yang tidak diinginkannya ini akan segera berakhir." Rutuknya sambil melipat beberapa pakaian untuk dimasukkan kedalam koper.


"Tenang Ayana. Kamu harus paham, saat Farraz memintamu menjadi sahabatnya, itu artinya dia ingin pura pura baik padamu supaya kamu luluh, lalu dia akan membujukmu untuk merayu mamanya agar merestui dia menikah dengan kekasihnya itu. Ya, ingat Ayana. Itulah tujuan sebenarnya Farraz masih mempertahankan pernikahan ini."


Ayana tersenyum, lalu dia kembali fokus memasukkan pakaian kedalam koper. Dia berbohong saat mengatakan pada Farraz tentang persiapannya yang sudah siap, padahal kenyataannya dia belum mempersiapkan apa pun.

__ADS_1


"Hhiiikkk… Air mata kenapa harus netes sih. Mhheenggkkk…" Menghapus air mata yang menetes dipipinya.


__ADS_2