Sebenarnya, Aku Istri Dia

Sebenarnya, Aku Istri Dia
Bab 47 Resto Favorit.


__ADS_3

Dua bulan Kemudian.


Ayana dan Handi semakin dekat. Mereka juga lebih sering makan siang bersama dan terkadang Ayana menghabiskan akhir pekannya untuk menemani Handi mengunjungi panti asuhan. Tapi, beberapa hari terakhir Ayana sedikit berubah, dia terlihat berusaha menjaga jarak dengan Handi dan menjadi lebih pendiam dari biasanya.


"Yana, kita makan siang dimana?" Tanya Handi.


"Kali ini aku ikut kamu." Jawab Ayana.


"Baiklah. Kita makan di resto favorit aku." Ucap Handi senang.


Meski ada rasa senang dihati Handi, tak bisa dipungkiri bahwa ada perasaan cemas dan khawatir. Dia merasakan perubahan Ayana yang menjadi sangat pendiam dan berbeda dari sebelumnya.


"Apa mungkin Yana ada masalah?" Tanya Handi ragu ragu.


"Hah?" Ayana terlihat ragu.


"Aku rasa Yana lebih banyak diam akhir akhir ini. Atau mungkin hanya perasaanku saja." Gumam Handi.


"Mmh, nggak kok. Hanya sedang lelah saja dengan pekerjaan." Jelas Ayana malas.


Hanya anggukan pelan sebagai tanggapan dari jawaban Ayana. Lalu Handi kembali fokus mengemudikan mobil menuju resto favoritnya. Dan sebenarnya Handi berencana untuk melamar Ayana hari ini.


Sesampainya di resto, Handi dan Ayana mendapat tempat duduk yang tepat menghadap ke taman belakang resto yang tampak sangat indah dan sejuk meski dicuaca yang sangat panas seperti siang ini.


"Yana, mau aku rekomendasikan makanan yang enak, nggak?" Tanya Handi saat melihat Ayana kebingungan memilih menu.


"Boleh!"


"Ok."


Handi pun langsung memesan makanan dan minuman yang menurutnya akan disukai oleh Ayana. Dan tidak lupa, Handi meminta Waiters untuk memasukkan cincin didalam makanan Ayana.

__ADS_1


Cara Handi melamar Ayana memang sudah sangat lumrah digunakan oleh sebagian orang. Tapi, Handi tidak peduli. Dia yakin itu akan berhasil.


Saat Ayana dan Handi sedang berbincang sambil menunggu makanan mereka datang, Farraz dan Elsa ternyata juga datang ke resto yang sama.


"Sayang, aku ke toilet bentar, ya." Ucap Elsa pada Farraz begitu mereka tiba di resto.


Tempat duduk mereka berhadapan. Handi dan Ayana bahkan mendengar pembicaraan Elsa dan Farras barusan.


Dan setelah Farras memesan makanan, dia pun tidak sengaja menatap kearah Handi dan Ayana yang sebenarnya sejak tadi berusaha pura pura tidak menyadari kedatangannya.


"Ayana, Handi?" Panggilnya.


Ayana dan Handi menghela napas, baru kemudian mereka tersenyum.


"Pak Farraz. Sendirian saja, pak?" Tanya Handi basa basi.


"Ee nggak kok. Sama…"


"Sayang." Panggil seseorang yang mendekati Farraz.


"Putri? Ngapaain kamu disini?" Tanya Farraz heran.


"Aku menemukan kamu. Dan kamu tahu, aku bertaruh hari ini pada diriku sendiri, jika aku tidak bisa nenemukanmu hari ini, maka aku akan benar benar menyerah. Tapi, ternyata kita bertemu dan itu artinya aku akan berjuang untuk merebut kamu dari wanita murahan itu." Tutur Putri sambil menatap sinis pada Elsa yang baru kembali dari Toilet.


Sedangkan Ayana dan Handi sudah mulai menyantap makanan mereka. Mereka memilih untuk tidak peduli pada situasi Farraz saat itu.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Elsa tidak kalah sinisnya pada Putri.


"Kamu yang ngapain disini? Asal kamu tahu saja, aku tunangan Farraz." Tegas Putri dengan percaya dirinya.


"Cuih, ngaku jadi tunangan Farraz? Hah dalam mimpi. Mana buktinya kamu tunangan Farraz?" Tanya Elsa yang langsung duduk di pangkuan Farraz.

__ADS_1


"Kamu yang mimpi. Aku tunangan Farraz, orangtua kami saling setuju dan kami sama sama dari kalangan terhormat. Sangat berbeda dengan wanita murahan seperti kamu." Menarik Elsa agar menjauh dari Farraz.


"Bukankah kedua orangtuamu sudah menarik semua sahamnya dari Faress crupt. Dan itu artinya hubungan kalian sudah berakhir."


Elsa melepaskan diri dari Putri dan mengingatkan kembali pada Putri bahwa orangtuanya sudah tidak bekerja sama dengan Faess Crupt.


Putri mengamuk dia menjatuhkan gelas yang ada dimeja lalu dia menjambak rambut Elsa dengan kuat dan mendorong Elsa hingga jatuh kelantai. Sedangkan Farraz hanya terdiam dan malah menatap kearah Ayana yang bahkan tidak terusik sama sekali.


"Dasar ratu drama." Gumam Ayana.


Handi termangah mendengar Ayana bergumam. Dia kira Ayana tidak akan peduli dengan pertikaian Farraz dan dua wanita itu.


"Menurutmu makanannya enak, tidak?" Tanya Handi mengalihkan perhatian Ayana yang mulai tertarik pada pertikaian antara Elsa dan Putri.


"Enak, aku suka." Jawab Ayana.


Kemudian dia menyuap lagi makanannya dan akhirnya, Ayana benar benar memasukkan Cincin itu kedalam mulutnya. Untuk sesaat Ayana terdiam.


"Yana? Kenapa? Apa ada sesuatu yang keras dimulutmu?" Tanya Handi tidak sabar.


Ayana tersenyum tipis, lalu dia mengangguk. 'Aku harus apa sekarang. Aku tidak tahu cara menolah pria sebaik Handi. Haruskah aku masuk dalam pertikaian mereka.' Melirik kearah Putri dan Elsa yang sudah saling menjambak.


"Yana? Kamu merasakan ada sesuatu dimakananmu?" Tanya Handi penasaran.


'Apakah Ayana merasakan cincinnya?' Gumamnya dalam hati.


Saat itu, Farraz menatap cemburu pada Ayana dan Handi, sedangkan Elsa dan Putri masih terus bertikai, bahkan sudah ada Waiter yang mencoba melerai pertikaian itu.


Orang orang mulai berbisik dan bahkan ada yang sengaja memvideokan pertikaian itu dan Farraz yang putus asa karena Ayana sama sekali tidak terusik pun akhirnya melangkah hendak melerai pertikaian itu.


Pada saat yang sama, Ayana berdiri, lalu menepuk meja dengan sangat keras, hingga membuat beberapa orang terkejut, begitu juga dengan Handi dan Farraz.

__ADS_1


"Stooooppppp!" Teriak Ayana tiba tiba.


Elsa dan Putri akhirnya berhenti bertikai. Mereka menatap pada Ayana yang berteriak sangat amat keras dan memekakkan telinga mereka.


__ADS_2