Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Mengenal Lebih Dekat


__ADS_3

Sekar


"Lhah, mas emang jadi juri?" tanyanya setengah terperanjat mendengar ucapan Harsa tadi.


Harsa menganggukkan kepala karena mulutnya masih sibuk mengunyah.


"Dua tahun aku jadi juri dan kelihatannya tahun besok aku dipanggil lagi, karena kemarin sempat ditelepon sama panitia yang biasa ngurusi itu." jelas Harsa.


"Terus kenapa mas malah mundur kalau aku ikut maju?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.


"Ya ntar dikira main curang dong kita. Apalagi kalau kamu sampai menang. Ya kali, nanti ada berita ceweknya Harsa menang karena Harsa kan jadi juri. Mau diberitain gitu kamu?"


Namun pertanyaan Harsa kali ini malah membuatnya terdiam dan ritme jantung yang semakin tak terkendali.


Tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak gugup.


"Kan kita nggak pacaran." timpalnya santai sangat kontras dengan degup jantungnya saat ini.


Harsa tersenyum tipis,


"Ya nanti aku jadiin kamu pacar." ucap Harsa tak kalah santainya.


Ia hanya mampu berdehem pelan, menelan salivanya, dan melirik Harsa sekilas sambil mengulum senyum.


Setelah melewati drama menjadikan pacar, akhirnya lelaki itu mengantarnya pulang.


"Makasih mas. Mau mampir dulu?" tanyanya seraya melepas seat belt.


"Nggak usah ya, udah malam. Nanti aku dilirik lagi sama mas-mas tadi." seloroh Harsa sambil terkekeh.


Dirinya pun ikut tertawa,


"Apaan?! Cewek mereka aja sering nginap di kost. Ganti-ganti malahan."


"Oh iya?! Punya cewek tapi masih ngelirik cewek lain. Bagus!" ucap Harsa dekat nada protes.


"Hati-hati ya, kalau mereka macam-macam langsung hubungi aku. Jaga diri ! Aku besok pergi soalnya. Ngerti?"


"Iya mas, siap! Makasih ya. Pulangnya hati-hati. Kabari kalau udah sampai ya." pintanya, entah kenapa ia seberani ini membuka hatinya untuk Harsa.


Saat ia mau turun, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Harsa, seketika langsung membuatnya menoleh ke arah Harsa.


Cuuupp..


Sebuah kecupan singkat mendarat di keningnya, sungguh hanya mampu membuatnya terdiam.


"Jaga diri ya, jangan lupa minum obat." ucap Harsa lembut sembari mengelus pipinya.


Entah harus apa yang ia lakukan, ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


Sesampainya di kamar kost , ia hanya mampu memegangi dadanya sembari mengatur napasnya. Sungguh ia tidak menyangka sama sekali bahwa hari ini ia akan kedatangan seorang Harsa dan berakhir dengan sebuah kecupan.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, masih merasa tidak percaya bahwa seorang Harsa memperlakukan dirinya seperti ini.


Namun lagi-lagi ia berusaha membentengi perasaannya, ia masih sangat takut untuk sakit hati kembali.


................


Harsa


Malam ini kebahagiaannya terasa membuncah, bahkan malam ini ia membawa mobilnya dengan penuh senyuman.


Bukanlah hal baru baginya mencium seorang wanita dan bukan pertama kalinya ia jatuh cinta. Sudah tak bisa dihitung dengan jari berapa wanita ada dalam kehidupannya.

__ADS_1


Aku udah sampai apartemen, hari ini aku pulang apartemen. Jangan lupa minum obatnya ya. Get well soon sayang.


................


Harsa


Sudah dua hari ini komunikasinya dengan Sekar sangat intens, bahkan hampir bisa dikatakan sangat romantis.


Dan hari ini adalah hari pertamanya dia di Bali untuk urusan pekerjaan. Namun hatinya sangat khawatir saat ini, karena Sekar dari kemarin bilang kalau badannya masih demam.


"Lo kenapa sih Sa? Kok nggak tenang gitu kelihatannya?" tanya Ares, rekan bisnisnya.


"Cewek gue lagi sakit." jawabnya singkat masih dengan mata menatap handphone.


"Cewek? Cewek mana lagi nih?" Ares sangat mengenal dirinya yang sudah terkenal berganti-ganti pacar.


Ia terkekeh pelan,


"Ya cewek gue." jawabnya singkat.


"Kamu udah punya cewek baru Sa?" tanya Lintang sambil menatapnya sendu.


"Iya.." jawabnya sambil mengulas senyum tipis.


Dirinya tahu bahwa Lintang masih sangat menaruh harapan padanya, namun tidak berlaku lagi untuknya.


................


Sekar


Badannya menggigil, matanya semakin sayu, kepalanya sangat pusing saat ini. Selera makannya juga menurun drastis, ia hanya memakan beberapa suap makanan yang dibawa oleh Bunga tadi siang.


tookk..tokkk...


Rasanya ia sangat malas sekali untuk bangun, lagian siapa juga malam-malam begini datang. Sudah jam 12 malam, batinnya.


"Mas Harsa?" tangannya meraih tubuh orang di hadapannya saat ini, mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukanlah halusinasi saat demam tinggi.


Namun karena terlalu lemas, badannya malah terhuyung ke belakang. Tangan Harsa langsung mendekap dirinya.


"Udah ayo masuk dulu!" titah Harsa sembari menopang dirinya untuk berjalan.


"Ayo tiduran dulu, badan kamu panas banget gini. Udah minum obat?"


Ia hanya menjawab dengan anggukkan kepala sambil menatap lekat wajah lelaki itu.


"Kok mas di sini?"


"Aku nggak bisa kerja dengan tenang kalau kamu lagi sakit gini."


Bibirnya tersenyum masih dengan mata sayunya. Entah keberanian apa yang membuat tangannya menggenggam erat tangan Harsa, membuat lelaki itu menatap dirinya.


"Kenapa? Dingin ya? Kamu menggigil gini, kita kw rumah sakit sekarang ya."


"Besok pagi aja mas, ini juga udah malam. Mas mau tidur sini?" tanyanya dengan suara lirih.


"Iya, nggak mungkin aku pulang dengan keadaan kamu seperti ini." tegas Harsa kepadanya.


"Tapi mas mau tidur dimana? Aku nggak ada kasur lagi."


"Gampang nanti, di karpet sini juga bisa, yang penting itu kamu bukan aku. Kamu mau minum apa? Atau makan apa? Ini ada biskuit, mau?" tawar Harsa.


Dirinya pun mengangguk,

__ADS_1


"Aku barusan bikin teh panas kok mas di sana." ia menunjuk gelas yang berada di atas meja.


Harsa melangkah mengambil gelas itu, lalu menyuapi dirinya dengan biskuit.


"Mas, tidur di sini aja ya sama aku." pintanya lirih dan malu-malu, ia kasihan kalau Harsa harus tidur beralaskan karpet. Lagian ia sedang sakit, tidak mungkin Harsa akan macam-macam.


"As you wish, sayang." Harsa tersenyum sambil menatapnya.


"Aku ganti baju dulu ya. Tadi habis dari bandara langsung ke sini soalnya."


Harsa


Ranjang Sekar sangat sempit untuk berdua, apalagi dirinya yang bertubuh cukup besar.


"Sempit ya mas?" tanya Sekar sambil menatap lekat wajahnya, karena jarak di antara mereka sangat dekat bahkan hampir tak bercelah.


"Nggak apa-apa, kamu enak nggak tidur gini? Kalau nggak enak, aku di bawah aja."


Bagaimana tidak? Ranjang berukuran 120 itu kini ditempati oleh mereka berdua.


"Enak kok mas, aku kan kecil ramping." ucap Sekar sambil terkekeh. Walaupun badan Sekar masih terasa demam dan menggigil, namun sudah sedikit berkurang.


Ia berpindah posisi miring menatap gadis yang belum ia beri status apapun dari kemarin. Tangannya membelai pipi Sekar, lalu menyelipkan rambut lurus Sekar ke belakang telinga.


"Aku pengen kita lebih saling mengenal lagi lebih dekat, kita pacaran ya?" tanyanya to the point, tanpa basa-basi.


Sekar mengulum senyum,


"Nembak nih ceritanya?"


"Penginku sih juga nggak pakai acara nembak gini, apalagi seumuran aku. Tapi ya namanya wanita, kalau nggak dikasih status nanti bingung, marah-marah." selorohnya yang mampu membuat Sekar terkekeh.


"Iya gitu? Masa' sih?" bukannya menjawab, Sekar malah menggoda dirinya.


"Nggak dijawab nih?" tanyanya penuh penekanan.


"Kalau nggak dijawab gimana?" goda Sekar lagi.


"Ya terserah sih, aku nggak penting jawaban sih. Kalau aku mah tetap maju aja."


Baginya apa sih sebuah status? Yang penting sama-sama saling suka, saling sayang, dan saling menjaga hati satu sama lain.


"Emang kenapa mas mau jadi pacar aku? Banyak perempuan lain yang lebih daripada aku yang bisa mas dapatin dengan mudah." tanya Sekar sambil membelai wajahnya.


"Karena kamu punya nilai tersendiri yang pantas untuk diperjuangkan." jawabnya yakin.


Sekar tersenyum,


"Makasih mas.."


Ia mengernyitkan keningnya,


"Terus?"


Lagi-lagi gadis itu tersenyum malu-malu membuatnya semakin gemas.


"Iya mas..."


Senyum lebar terbit di wajahnya,


"Yaudah bobok, kamu lagi sakit."


Sekar mendekat merapat ke tubuhnya,

__ADS_1


"Peluk ya, biar panasnya hilang." gumamnya dengan tangan merengkuh pinggang gadis itu. Sekar hanya menganggukkan kepalanya.


......................


__ADS_2