
Harsa
Entah kenapa saat ini jantungnya berdegup kencang saat kembali bertatapan dengan gadis yang telah menabraknya tadi siang.
Gadis muda yang pastinya memiliki umur yang bisa dibilang cukup jauh darinya. Penampilan sederhana tanpa make up, namun terlihat cantik. Senyum tipis yang jarang ia dapatkan dari wanita-wanita yang ada di dekatnya.
Sederhana namun memikat, itulah kalimat yang pantas untuk menggambarkan gadis yang ia ingat bernama Sekar.
"Heh Sa..! Ngapain sih lo?! Cepetan order ,malah diem aja!" teriakan Adit mampu membuyarkan lamunannya.
Ia dan Sekar langsung berdehem pelan secara bersamaan. Bibir gadis itu masih terlihat tersenyum tipis, namun kali ini bukan hanya kepadanya melainkan kepada teman-temannya juga.
"Saya mau kopi susu coklat hot 1 ya mbak.."
"Ehhmm..saya hot coklat 1.."
"Kalau saya kopi aren 1, yang panas juga.."
Ia menatap teman-temannya dengan mengangkat satu alisnya.
"Tua amat sih, minumnya panas semua?!" cibirnya sambil menahan tawa, namun mampu membuat Sekar mengulum senyum.
"Sudah tua nih om, nanti pilek kalau kebanyakan es.." timpal Adit sambil terkekeh.
"Saya juga, hot caffe latte 1.." ucapnya sambil terkekeh dan menatap wajah Sekar.
"Gayanya pakai ngatain orang! Dia sendiri juga udah tua..!" kali ini giliran Raka yang mencibirnya.
"Nggak masalah, tua-tua siapa tahu dapat daun muda." jawabnya sambil melirik ke arah Sekar yang juga menatap dirinya.
Sudah sekitar setengah jam dirinya duduk di sana bersama sahabat-sahabatnya, tertawa, bertukar cerita dari sesuatu yang tidak penting hingga masalah bisnis.
Namun acara nongkrongnya kali ini sedikit terusik, bukan terusik oleh sesuatu hal yang membuatnya jengkel, melainkan ia merasa terusik karena Sekar yang mondar-mandir di sekitarnya melayani pelanggan.
Matanya mau tidak mau menatap gadis cantik yang berhasil membuat ritme jantungnya berdetak lebih cepat, layaknya saat ia masih menjadi remaja yang sedang jatuh cinta.
Sampai-sampai kadang matanya melirik hingga ke arah meja bar, saat Sekar sedang menyiapkan minum untuk para pembeli.
Padahal gadis itu jauh dari kata sexy atau make up yang selalu menjadi andalan kaum hawa yang selama ini ada di dekatnya.
Sekar tampak sangat sederhana tanpa make up, tanpa lekukan tubuh yang menonjol kemana-mana. Bahkan gadis itu cenderung sangat apa adanya, natural. Tapi entah apa yang membuatnya tertarik saat ini.
__ADS_1
"Cantik...cuma perlu dipoles sedikit aja.." gumam Adit pelan yang duduk tepat di sebelahnya.
Ia langsung menoleh dan menatap wajah sahabatnya itu.
"Come on, bro ! Daritadi lo lihat dia kan? Gue kenal lo udah berapa tahun, jangan munafik!" salak Adit yang membuatnya menahan tawa.
"Apa perlu gue yang jalan kali ini, buat minta nomornya? Dia nggak bakal lo dapatin kalau lo cuma lihatin gitu aja!" ucap Adit sambil beranjak dari tempat duduk, langsung membuatnya mencekal tangan sahabatnya itu.
"Lo mau ngapain?!" salaknya sambil menatap tajam mata Adit.
"Bergerak lah..jangan gila lo ! Cinta nggak bisa didapatin kalau cuma dilihat!" sahut Adit cepat.
"Gue nggak sepengecut itu! Pelan-pelan aja mainnya, feeling gue, ini beda. Jadi jangan sembarangan kali ini.." jelasnya yang membuat Adit langsung kembali duduk.
Raka menatapnya sambil menyipitkan mata,
"Yakin lo?! Cantik sih, tapi kelihatannya jauh dari wanita-wanita yang kemarin.."
"Kecuali Arsya..." imbuh Raka cepat.
Ia mengulum senyum,
"Maksudnya dia sama seperti Arsya?"
................
Sekar
Entah kenapa hari ini kerjanya merasa tidak tenang. Ada sepasang mata yang selalu mengamati setiap geraknya. Pemilik sepasang mata itu bukan lah bos nya, melainkan pembeli yang ia ketahui bernama Harsa Dewananda.
Hari ini lelaki itu berhasil memporak porandakan hatinya yang telah ia tutup rapat untuk kehadiran lelaki.
"Kamu kerja di sini setiap hari?" sapa lelaki yang sedang mencuci tangan di wastafel, saat dirinya keluar dari kamar mandi.
Mata mereka saling beradu tatap di pantulan kaca,
"Iya mas.." jawabnya pelan dan sedikit terkesan kaku.
"Aku Harsa, salam kenal Sekar.." tiba-tiba lelaki itu sudah berdiri di hadapannya dan mengulurkan tangan ke arahnya.
Ia hanya mampu menelan salivanya dan membalas dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Iya mas, salam kenal juga." jawabnya singkat. Bukan karena bermaksud jual mahal, melainkan ia terlalu gugup dengan kehadiran Harsa kali ini.
"Boleh kan aku kenal kamu dan kita berteman? Tenang..aku nggak bakal macam-macam kok.."
Ucapan Harsa membuatnya terkekeh,
"Kok ketawa?"
Suasana mulai mencair karena tawanya,
"Nggak apa-apa mas, iya boleh kok." jawabnya sambil mengulum senyum.
Lelaki tampan dan gagah itu kembali ke meja, sedangkan dirinya pun kembali melanjutkan pekerjaannya hingga larut malam.
Setelah semua pembeli sudah pulang, akhirnya ia bisa pulang walaupun jam pulang kerjanya hari ini sudah menunjukkan jam 12 malam.
Sudah dua kali ia order ojek online tapi tidak satu pun driver yang mau menerima, sedangkan motornya ia tinggal di kos Bunga karena mogok.
Ia mendengus pelan, pasalanya tinggal satu temannya yang tersisa dan temannya pun dijemput sang kekasih.
"Udah aku jalan kaki aja nggak apa-apa, kalian pulang aja. Aku kan cuma dekat, 10 menit juga sampai." ucapnya.
"Yakin? Kalau ada apa-apa langsung kabari ya! Sampai kos, langsung kabari aku ya.." pinta Inggrid kepadanya.
"Santai..."
Kemudian kakinya melangkah menapaki jalan menuju kosnya.
tiinnn..tiinnn...
Ia lebih memilih tidak menoleh dan berjalan lebih cepat, bahkan sedikit berlari. Jujur ia takut berjalan sendirian di tengah malam seperti ini.
tiiinnn..tiinnn..
Mobil itu semakin mendekat ke arahnya dan terdengar suara kaca jendela terbuka, namun sama sekali ia tidak menoleh ke arah mobil itu, ia justru semakin mempercepat langkahnya.
"Nggak baik lho cewek jalan sendirian malam-malam gini.." suara lelaki menyapa dari dalam mobil pun tak ia hiraukan.
"Yakin nihh nggak mau ikut?" tawar lelaki itu lagi semakin membuatnya bergidik ngeri.
"Sekaarrr..."
__ADS_1
Panggilan lelaki itu menyebut namanya seketika membuatnya menghentukan langkah dan menatap perlahan ke arah mobil yang tepat berada di sampingnya.
......................