Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Boleh Aku Mengenalmu?


__ADS_3

Sekar


Langkahnya terhenti dan dengan perlahan ia menoleh ke arah mobil yang ada tepat di sebelahnya.


"Mas Harsa?"


Matanya membulat dan bibirnya menganga, sungguh ia tidak yakin kalau lelaki itu adalah sesosok lelaki yang membuat ritme jantungnya tak beraturan hari ini.


Harsa justru memberikan senyuman terbaik untuknya seakan ingin menghipnotis dirinya.


"Ini udah tengah malam, gerimis lagi. Ayo naik, aku antar pulang."


Ia menelan salivanya, melirik ke kanan ke kiri dan beepikir sejenak untuk menerima atau menolak tawaran Harsa.


Ehem..


Harsa berdehem pelan,


"Ya kalau nggak mau nggak apa-apa sih.."


Ucapan Harsa kali ini cukup membuat hatinya kecewa, ia pikir lelaki itu benar-benar peduli, nyatanya hanya basa-basi.


"Kalau kamu nggak mau, ya aku bakal tetap ngikutin kamu dari belakang sampai kamu sampai di rumah dengan selamat. Ini udah malam, nggak baik cewek jalan sendirian, mana sepi lagi."


Suara Harsa terdengar semakin dekat dengannya, ternyata lelaki itu sudah berdiri di sampingnya sambil menatapnya.


Kemudian tangan Harsa membuka pintu mobil bagian penumpang.


"Ayo masuk! Nggak ada tapi, aku nggak suka penolakan..!" tegas Harsa sambil menatapnya tajam.


Entah apa yang membuatnya menurut, ia langsung masuk ke dalam mobil. Senyuman kemenangan pun tampak terukir di wajah tampan lelaki itu.


Harsa


Baru pertama kali ini, ada sosok perempuan yang berani menimbang-nimbang ajakannya, hingga ia rela sampai mengulang ajakan itu.


Siapa lagi kalau bukan perempuan bernama Sekar. Namun, perempuan seperti ini yang membuat dirinya semakin tertantang.


Ia menatap perempuan cantik yang duduk di sebelahnya saat ini. Begitu pun Sekar, perempuan itu juga menatap dirinya sambil mengernyitkan dahi.


"Kok cuma diam? Nggak jalan mas?"


Pertanyaan aneh menurutnya, sehingga ia lebih memilih menjawab dengan senyuman tipis.


"Mas?!" tanya Sekar lagi.


"Iya, apa?" jawabnya pelan sambil tersenyum dan masih belum menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Aku capek, ngantuk mau tidur." protes Sekar denfan wajah yang sudah ditekuk.


"Yaudah sih tidur.." jawabnya santai.


"Mas?! Jangan macam-macam ya?!"


Ia mengerutkan dahinya,


"Macam-macam gimana? Aku kan nggak ngapa-ngapain kamu. Aku cuma mau ngantarin kamu pulang."


"Yaudah kalau gitu, kenapa cuma diam aja di sini?" sahut Sekar ketus.


Benar-benar perempuan ini membuatnya semakin gemas dan tertantang untuk meluluhkan hati Sekar.


"Nona Sekar, mohon maaf nih ya. Aku nggak jalanin mobilnya, karena aku nggak tahu arah kamu pulang kemana?"


Wajah Sekar yang putih langsung berubah merah, pasti karena malu, kemudian perempuan itu menunduk sambil bergumam pelan.


"Maaf, kenapa mas nggak tanya?"


Akhirnya ia terkekeh,


"Baru mau tanya, aku udah digalakin. Yaudah ini kemana? Kalau nggak kasih tahu, aku bawa ke rumah lho."


Sekar pun akhirnya tersenyum malu,


"Ini lurus aja, sampai perempatan kedua belok kiri.. itu dulu aja." jelas Sekar masih tanpa menatapnya.


Setelah menjalankan mobil beberapa meter, ia sesekali menatap Sekar yang masih diam.


"Baju kamu basah gitu, pakai ini dulu.." ucapnya seraya memberikan jaketnya yang ada di tepat di kursi kemudinya.


Sekar menatap jaketnya, kemudian beralih ke matanya.


Ia tahu pasti akan ada penolakan lagi.


"Baju kamu putih, lain kali bawa jaket kalau pulang kerja, nggak enak dilihatnya." jelasnya tanpa menatap ke arah Sekar, karena baju putih yang basah terlihat sangat kontras dengan baju dalaman Sekar berwarna hitam.


Akhirnya perempuan itu lagi-lagi menurut, mengambil dan memakai jaketnya yang membuatnya tersenyum kembali.


Setelah sampai di bangunan berwarna putih bertingkat bertuliskan "Kos Amarta", ia memberhentikan mobilnya dan beralih menatap Sekar.


"Ini kos? Kamu nggak asli sini?"


"Iya mas, ini kos aku. Aku orang Semarang."


Ia menganggukkan kepalanya, namun sesaat mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Kok ada cowok masuk malam-malam gini?"


"Ini kos campur kok mas, dulu pilih kos ini karena kehabisan kos cewek. Lagian aku cari yang nggak ada jam malamnya juga, soalnya aku kerja." jelas Sekar membuatnya menganggukkan kepalanya.


"Tapi aman?" entah kenapa dirinya merasa kawatir dengan keadaan kos campur seperti ini.


"Selama ini aman sih mas, ngomong-ngomong makasih ya mas." jawab Sekar sembari melepas jaketnya.


"Kok dilepas? Jangan dilepas, pakai aja dulu. Bawa aja dulu nggak apa-apa, baju kamu basah gitu, mau jadi pemandangan cowok-cowok di dalam?" ia menatap tajam Sekar lalu beralih menatap ke baju perempuan itu yang basah, yang sebenarnya membuatnya berdegup kencang.


"Nanti gimana cara ngembaliinnya mas? Nggak usah, nggak apa-apa aku bisa lari langsung masuk ke kamar. Kamar aku lantai bawah kok."


"Nggak, pakai aja! Aku masih punya banyak jaket di rumah. Nanti kalau aku mau ambil, tinggal ambil ke kamu." jawabnya tegas.


Ia menyodorkan handphone nya ke perempuan itu,


"Masukin nomor kamu ke sini ya, siapa tahu aku mau ambil jaket itu lagi."


Sekar tampak mengulum senyum,


"Kok senyum?" tanyanya sambil menatap lekat wajag cantik itu.


"Nggak apa-apa kok," jawab Sekar dengan tangan sibuk mengetik angka demi angka di handphone nya.


"Ini mas. Mas emang tinggal dimana?"


"Aku di Jakarta Selatan."


Sekar membulatkan matanya,


"Jauh ya? Yaudah mas makasih, udah malam mas pasti capek, mana jauh lagi rumahnya. Aku turun dulu ya mas, makasih banget buat tumpangannya."


Bibirnya tersenyum melihat kekawatiran Sekar tentang dirinya,


"Iya, sama-sama. Mandi terus tidur, biar nggak masuk angin." pintanya.


Sekar


Setelah masuk ke kamarnya, ia melepas jaket yang sangat kebesaran di badannya. Wangi parfum mahal khas laki-laki sangat menempel di jaket itu. Sungguh ia masih merasa tidak percaya saat ini ia memakai jaket milik Harsa, lelaki yang amat dibanggakan para gadis-gadis.


Namun, lagi-lagi ia memilih membatasi kebahagiaannya kali ini. Ia tidak ingin terlalu larut dengan perasaan yang terlalu dalam.. Bukankah setiap laki-laki akan selalu manis saat belum mendapatkan sesuatu? Lagian belum tentu juga Harsa suka kepadanya, mungkin hanya saja lelaki itu memang baik kepada semua orang.


Ia lebih memilih masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya.


tiiinggg...


Aku udah sampai rumah. Kapan-kapan aku ambil jaketnya. Nite Sekar.

__ADS_1


Matanya sudah menggelayut, membuat niatnya untuk membalas pesan itu pun sirna sudah, ia lebih memilih untuk memejamkan mata dan masuk ke alam tidurnya.


......................


__ADS_2