Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Mencoba Membuka Hati


__ADS_3

Sekar


Jujur sebenarnya ia tidak menyangka bahkan terlalu gugup dengan kedatangan Harsa. Lelaki yang diidolakan para wanita saat ini duduk manis di hadapannya, bahkan di kamarnya, berdua saja dengan dirinya.


"Tampan..sangat tampan..hidung mancung, mata indah, bekas cukuran bulu di wajahnya. Badan yang tinggi tegap." batinnya.


Pertanyaan Harsa membuatnya menggelengkan kepalanya,


"Nggak ada yang marah kok mas." jawabnya pelan sambil mengulum senyum.


"Tapi kenapa mas mau ketemu aku?" tanyanya lagi, jujur ia ingin tahu, namun sedetik kemudian ia ingat sesuatu hal.


"Ya ampun, mas mau ambil jaket mas ya? Masih aku laundry mas, belum sempat aku ambil malah aku sakit." jelasnya dengan mengiba.


Harsa mengerutkan keningnya menatapnya lekat, membuat dirinya semakin takut apakah ia melakukan kesalahan dengan jaket itu. Ia sangat tahu jaket itu harganya mahal, karena dari salah satu brand terkenal di dunia.


"Tenang mas, aku laundry khusus di tempat bagus kok mas. Aku tahu itu jaket mahal, kalau aku cuci sendiri juga takut rusak. Atau mau aku ambilin sekarang aja? Dekat kok mas.."


Namun lagi-lagi ucapannya membuat Harsa semakin mengerutkan dahinya.


"Aku nggak butuh jaket itu, aku cuma butuh kamu sehat. Lupain soal jaket lagi, aku kesini emang mau ketemu sama kamu, bukan ngambil jaket." jelas Harsa dengan tegas dan kembali melahap bakso, seketika membuatnya langsung terdiam.


Harsa


Setelah selesai menikmati makanannya, ia kembali bersandar pada tembok dan mengedarkan pandangannya ke seleuruh penjuru kamar yang memiliki ukuran 6x4m itu.


Kamar yang bernuansa serba putih dan biru itu tampak sederhana, namun bersih dan rapi. Ia memang melihat tak ada AC, hanya ada kipas angin dan air cooler yang tidak terlalu besar.


"Itu kamu? Kamu duta wisata?" tanyanya saat melihat salah satu foto perempuan memakai kebaya lengkap dengan selempang, piala, dan mahkota kemenangan.


Sekar tersenyum dan mengangguk,


"Iya mas, itu aku."

__ADS_1


"Masih menjabat sampai sekarang? Jawa Tengah ya?" selidiknya, sungguh ia tidak menyangka bahwa Sekar adalah gadis yang mempunyai nilai yang patut untuk dibanggakan.


"Iya mas, Jawa Tengah. Masih mas, aku baru bertugas tiga bulan ini." ucap Sekar sembari merapikan sendok dan garpunya di mangkok.


"Terus kuliahmu di sini? Bisa gitu dibagi-bagi?"


"Mau nggak mau mas, aku harus bisa. Aku kuliah di sini karena beasiswa, kalau nggak bisa bagi ya terancam dicabut beasiswa." gadis itu bercerita sambil terkekeh.


"Kalau itu ibu kamu?" selidiknya lagi.


"Iya mas, itu mendiang ibuku. Aku yatim piatu."


"Ohh maaf, aku nggak tahu. Ayah kamu juga udah meninggal? Maaf ya kalau aku tanya-tanya." sungguh ia merasa tidak enak hati dengan situasi sekarang.


"Bapak aku pergi ninggalin kami, ibu pisah sama bapak sejak aku SD kelas 3." cerita Sekar dengan tatapan menerawang, seakan mengingat sesuatu yang pilu.


Ia berdehem pelan dan mencoba mengalihkan pembicaraan,


"Eheemm..kamu kuliah ambil jurusan apa sih? Anak FEB kamu?"


"Bukan mas, aku anak HI (Hubungan Internasional)."


Bibirnya tersenyum,


"Padahal seminar kemarin lebih ke bisnis lho, ya walaupun emang gabungan sama rumpun FISIP sih."


"Ya kalau aku sih karena dapat undangan gratis aja dan nambah ilmu juga, siapa tahu bisa banting setir ke dunia bisnis." timpal Sekar sambil tersenyum.


"Cantik,cantik alami.." batinnya, sungguh ia tidak bosan-bosan menatap gadis satu ini.


"Ini pintunya boleh aku tutup sedikit? Daritadi aku dilihatin mas-mas yang gitaran di ruang tamu." pintanya, karena memang posisinya saat ini sangat terlihat dari luar.


Memang sejak kedatangannya di kos ini dan menanyakan di mana kamar Sekar dengan sekumpulan lelaki di ruang tamu itu, raut wajah mereka tampak tidak suka kepadanya.

__ADS_1


Sekar sedikit menggeser tubuh ke arahnya dan sedikit melihat ke arah luar. Namun sesaat kemudian Sekar kembali ke tempatnya semula.


"Iya boleh mas.."


Tangannya mendorong pintu itu hingga menyisakan sedikit celah. Malah bisa dibilang, pintunya saat ini sedikit terbuka bukan sedikit tertutup.


"Kamu nyaman di sini?" tanyanya sambil menatap lekat Sekar.


"Sejauh ini sih nyaman mas, enak kok kost nya. Murah lagi." jawab Sekar dengan sedikit cengiran.


"Hati-hati tapi ya, gimanapun di sini kost campur. Apalagi kalau kamu pakai baju seperti tadi." Entah kenapa ia tidak ingin berbagi pemandangan tubuh indah Sekar dengan lelaki lain.


"Iya mas, tadi aku lupa kalau aku cuma pakai tanktop. Di sini nggak ada AC, jadi walaupun sakit pakai yang nggak berlengan. Oh iya, mas kepanasan ya?"


"Nggak, biasa aja. Hujan di luar, jadi nggak panas."


Sekar mengambil duduk tepat di sampingnya dan juga bersandar pada tembok. Entah apa yang membuatnya berani, tangannya menyentuh kening Sekar membuat gadis itu sedikit terperanjat.


"Kamu agak panas gini lho, udah minum obat?" tanyanya sambil menatap lekat wajah Sekar yang membuat mereka beradu pandang dan terdiam.


Sekar mengangguk,


"Udah kok mas.."


"Ke dokter aja yukk, aku temani. Biar kamu bisa cepat kuliah sama kerja lagi." ajaknya.


Namun gadis itu malah terdiam sambil menatapnya.


"Ya? Ganti baju sana, kita ke dokter sekarang." ulangnya lagi, sungguh ritme detak jantungnya semakin tak terkendali saat berdekatan dengan Sekar seperti ini.


Gadis itu mengangguk dan membuatnya tersenyum, lalu tangannya mengusap puncak kepala Sekar.


"Yaudah cepetan sana, keburu malam!"

__ADS_1


......................


__ADS_2