Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Cemburu


__ADS_3

Harsa


Dari pertama dirinya menginjakkan kaki di gedung ini, semua mata tertuju pada dirinya dan juga Sekar. Apalagi ia tak segan-segan menggandeng tangan bahkan merangkul pundak Sekar saat berjalan.


Sudah dua jam ia menunggu di koridor gedung itu, sembari membuka laptop dan mengerjakan pekerjaannya.


Tapi jangan salah, selama dua jam pula ia meladeni beberapa perempuan yang datang mendekat ke arahnya hanya untuk berkenalan dan foto bersama.


Matanya menangkap Sekar yang berada cukup jauh darinya, tampak sedang berbincang dan tertawa dengan seorang lelaki dengan sangat akrab. Apalagi ia sempat melihat lelaki itu mengusap puncak kepala Sekar.


Ia memilih membereskan laptopnya, kemudian berjalan menghampiri kekasihnya yang tampak sedang bahagia berbincang dengan lelaki lain. Sungguh ia tidak suka dengan hal seperti ini.


Eheeemmm..


Ia berdehem pelan, bagaimanapun ia tetap harus menjaga image nya sebagai pengusaha muda yang telah dikenal di kampus ini.


"Ehh mas...sudah kerjanya?" tanya Sekar dengan ramah, namun hanya ia sambut dengan senyuman tipis.


"Oh iya, ini kenalin namanya Radit. Radit ini mas Harsa." ucap Sekar saat memperkenalkan mereka berdua.


Tangannya langsung menjabat tangan Radit,


"Harsa, calon suaminya Sekar." ucapnya dengan penuh penekanan dan keyakinan.


Wajah Radit langsung berubah drastis, dari yang semula penuh pancaran bahagia, menjadi sedikit sendu.


Namun lelaki itu masih tersenyum tipis padanya,


"Radit, temannya Sekar.."


Dirinya mengerti, Sekar menatapnya dengan penuh pertanyaan yang nantinya pasti akan menjadi perdebatan mereka berdua. Namun sama sekali tak dihiraukannya.


"Sudah kuliahnya? Yuk pulang, aku masih banyak kerjaan." ajaknya setengah memaksa dan Sekar pun menuruti kemauannya.


Sekar


Ia menatap lekat wajah kekasihnya yang saat ini duduk di sampingnya dan sibuk menyalakan mobil.


"Mas? Kenapa mas bilang gitu ke Radit?"


"Bilang apa?" timpal Harsa tanpa menatap ke arahnya.

__ADS_1


Ia menghela napasnya,


"Mas, kenapa bilang kalau mas calon suami aku?" tanyanya pelan, sedikit menurunkan emosinya.


Harsa menatapnya tajam,


"Emang nggak boleh?"


"Ini bukan masalah boleh nggak.boleh mas, tapi apa harus diumbar ke semua orang?" jujur ia tidak mengerti dengan tingkah Harsa.


"Harus!" tegas Harsa, seketika membuatnya terdiam.


Harsa melajukan mobil menuju kost nya, karena ada beberapa barang yang harus ia ambil. Suasana di dalam mobil pun mendadak menjadi sunyi. Ia enggan membuka suara lagi, karena hatinya masih cukup jengah dengan Harsa.


Harsa mengekori dirinya hingga masuk ke kamar kost nya.


Ceklek..


Matanya menatap pintu kamar yang telah ditutup dan dikunci oleh Harsa.


"Kenapa dikunci?" tanyanya ke kekasihnya yang masih terlihat marah.


Walaupun singkat, namun ciuman itu terasa penuh emosi.


"Aku nggak suka ada lelaki lain pegang-pegang kamu. Pegang ini.." Harsa mengelus puncak kepalanya.


"Ini.." mengelus pipi hingga lehernya.


"Ini.." tangan kokoh itu kembali mengelus lengannya.


Kemudian mengeratkan pelukan di pinggangnya,


"Dan semuanya ini..! Ngerti? Kamu itu milik aku!" suara berat dan penuh penekanan Harsa membuatnya langsung mengangguk.


Harsa kembali menyatukan wajah mereka, kali ini cukup lama dan semakin menuntut. Harsa menggiringnya secara perlahan menuju meja belajarnya, lalu mengangkat dirinya hingga duduk di atas meja itu, tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Ia perempuan beranjak dewasa, sedangkan Harsa adalah lelaki dewasa, ia tahu mau dibawa kemana kegiatan panas ini. Walaupun pikiran liarnya juga berputar di kepalanya yang membuatnya menginginkan lebih. Namun, ia mencoba untul sadar dan harus menghentikan aksi kekasihnya ini.


Tangannya menangkup pipi Harsa, lalu jarinya mengelus pelan pipi yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Ia perlahan mencoba melepaskan tautan itu.


"Mas..." lirihnya dengan napas yang masih terengah, begitu juga Harsa yang matanya masih terlihat sayu.

__ADS_1


"Udah ya." lirihnya lagi sambil tersenyum.


"Iya aku janji, semua ini milik kamu, tapi nggak sekarang ya." matanya menatap lekat mata coklat Harsa.


"I love you mas.." tangannya menangkup kedua pipi Harsa, kemudian mengecup kening lelaki itu. Harsa langsung memeluknya erat, bahkan sangat erat, sambil menenggelamkan wajah di lekuk lehernya.


"Sorry..." gumam Harsa dengan bibir menempel di lehernya.


Ia kembali pada tujuannya, menata beberapa barangnya lalu dimasukkan ke dalam koper, karena minggu depan ia harus ke Semarang untuk dinasnya sebagai duta wisata.


Sedangkan Harsa merabahkan tubuh di atas ranjangnya dengan posisi tengkurap.


tookk..tokk..tokk


Ia berjalan menuju pintu dan membukanya, sahabatnya bernama Bunga langsung menyelonong masuk ke kamarnya seperti biasanya.


"Aaagghhh!" seketika Bunga berteriak, lalu membulatkan mata dan menutu mulut saat melihat lelaki tidur di atas ranjangnya.


"Jadi beneran gosip yang ada di kampus? Kamu jalan sama Harsa, pengusaha itu?" tanya Bunga dengan suara sangat pelan.


Kepalanya mengangguk,


"Dia pacar aku."


"Apa?? Kalian udah pacaran? Sejak kapan?" selidik Bunga, namun ia lebih memilih menjawab dengan mengangkat bahunya, lalu kembali sibuk dengan barang-barangnya.


Bunga terus menempel padanya,


"Kalian habis ngapain? Kok Harsa capek gitu kelihatannya?"


Matanya langsung melirik malas ke arah bunga, tanpa mengeluarkan jawaban apapun. Namun Bunga kembali melontarkan pertanyaan yang semakin menjadi-jadi.


"Enak nggak? Badannya bagus gitu, pelukable banget. Memuaskan lah pastinya." ucap Bunga dengan cengar-cengir.


"Mata lo, gue colok nih! Bayangin laki orang, nggak sopan!" rasanya ingin sekali ia menyumpal mulut sahabatnya itu dan mendorongnya keluar kamar, apalagi Bunga malah terus mengulum senyum ke arahnya.


"Dasar gila..!" ucapnya lagi.


Matanya menatap ke arah Harsa, lelaki itu tampak terusik sedikitpun dengan suara mereka.


......................

__ADS_1


__ADS_2