Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Ingin Sendiri


__ADS_3

Sekar


Harsa menurunkan tas miliknya yang berisikan beberapa pakaiannya. Sebelum ke kos, ia memilih pulang ke rumah orangtua Harsa sebentar untuk berpamitan ke mama Priska. Tentunya ia membuat sesuatu alasan yang dibuat-buat untuk bisa tidur di kos nya.


"Ini mobil aku tinggal sini aja, jadi bisa kamu pakai." Harsa menaruh kunci mobil di atas meja belajarnya.


"Mas..nggak usah, aku bisa naik ojek online di sini." tolaknya, bahkan kalau bisa ia ingin menolak semua fasilitas yang Harsa berikan padanya


"Kamu itu kenapa sih? Salah aku apa? Kenapa kamu malah marah sama aku?!" tanpa disadari emosi Harsa mulai naik.


Ia hanya bisa berdiri mematung sambil menatap kekasihnya yang terlihat mengatur emosi agar tidak meledak.


"Yaudah terserah kamu mau pakai apa nggak mobil ini, kamu masih mau pakai uang yang aku berikan atau nggak. Kamu mau lanjutin bisnis kopi kamu atau nggak. Terserah..! Aku nggak mau maksa kamu apapun." Harsa langsung beranjak menuju pintu dengan penuh amarah, sontak membuatnya langsung berlari dan memeluk erat kekasihnya itu dari belakang.


Memang semua ini terasa tak adil bagi Harsa, bagaimanapun kekasihnya itu adalah lelaki yang benar-benar bertanggungjawab padanya dan tidak pernah menyakitinya.


"Maaf mas, bukan maksud aku menolak semuanya. Tapi, aku lagi pengin sendiri." jelasnya dengan tangan mendekap erat tubuh tegap Harsa.


Harsa


Sekar selalu mampu membuatnya luluh, ia membalikkan badan menatap wajah kekasihnya yang sudah basah oleh air mata.


Jarinya mengusap wajah mulus kekasihnya itu.

__ADS_1


"Maaf, boleh kalau kamu pengin sendiri. Tapi jangan pernah abaikan kalau aku hubungi kamu. Dan jangan pernah macam-macam! Kalau kamu ngeyel, aku langsung bawa kamu balik ke apartemen. Ngerti?"


Sekar pun mengangguk dam menatapnya dengan tatapan sendu. Ia mengecup bibir ranum kekasihnya itu. Awalnya hanya sebuah kecupan, namun Sekar malah menarik tengkuknya dan membuat ciuman itu semakin panas.


Sesaat ia menghentikan ciuman itu, lalu kembali membeli wajah putihbSekar.


"Yakin mau sendirian malam ini?" ucapnya dengan jari yang membelai bibir ranum Sekar yang masih tampak menggoda.


Kekasihnya itu masih diam menatapnya dan napas yang masih memburu. Akhirnya ia memilih melanjutkan kegiatan panas itu, lengannya langsung menggendong Sekar dan membawanya ke atas ranjang yang selalu menjadi tempat mereka memadu kasih.


Cukup lama mereka berdua mengakhiri hal itu, namun ia masih menjaga batasan untuk tidak menyentuh Sekar terlalu intim.


"Kamu tidur dulu, nanti kalau udah tidur, baru aku pulang." ucapnya sembari mengelus rambut lurus Sekar.


Tangan Sekar membelai rahangnya sambil tersenyum, lalu mengecupnya sekilas.


Ia menatap lekat wajah perempuan yang ternyata sudah berhasil memiliki hatinya dan sekaligus membuatnya merasakan kembali rasanya kehilangan.


Jujur saat Sekar mengatakan ingin sendiri tanpa dirinya, ia merasa takut kehilangan perempuannya ini. Perempuan yang ternyata berhasil mengubah dunianya. Bersama Sekar ia bisa merasakan kesederhanaan dalam segala hal.


Kesederhanaan dalam kehidupan, dimana ia kembali bisa menikmati makanan pinggir jalan bersama sang kekasih. Kesederhanaan cinta yang ternyata hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata dan tindakan, tanpa harus dengan barang-barang mewah.


"Aku cuma ingin kita bersama selamanya, aku ingin kamu." jawabnya yakin dan tulus dari hatinya.

__ADS_1


Sekar tampak tersenyum tipis dan menghela napas.


"Yakin mas?" Pertanyaan Sekar kali ini membuatnya bingung.


"Walaupun aku anak seorang ayah yang tidak bertanggungjawab dan menghamili wanita tunagan orang lain?" tanya Sekar seraya menatap lekat wajahnya.


Jarinya kembali membelai bibir Sekar,


"Kamu nggak boleh ngomong gitu, bagaimanapun dia ayah kamu. Dan yang perlu kamu ingat, aku mencintai kamu tanpa melihat apapun. Mau darimana asal kamu, dari keluarga seperti apa, aku nggak peduli."


"Tapi aku selalu melihat pribadi seseorang, orang yang berasal dari keluarga broken , belum tentu dirinya juga bermasalah kan." jelasnya yang mampu menyunggingkan senyuman di wajah cantik itu.


Sekar


Ia beringsut dari pelukan Harsa, lalu berjalan menuju meja belajarnya, mengambil sesuatu di dalam laci.


"Aku nggak mau menyimpan diam-diam dari kamu terlalu lama." ucapnya sambil memberikan kotak biru kecil.


Harsa beranjak dari posisinya dan duduk di tepi ranjang.


"Ini dari siapa?" Harsa mengerutkan kening menatapnya lekat setelah melihat sebuah cincin di di dalamnya.


Bibirnya masih memilih diam dan tersenyum menatap kekasih tampannya yang tampak mulai mengatur emosi dengan berbagai cara.

__ADS_1


"Yang, jawab ya, ini dari siapa?" Harsa kembali mengajukan pertanyaan dengan penuh penekanan, namun justru membuatnya semakin mengulum sebuah senyuman.


......................


__ADS_2