
Bali,
Sekar
Ritual pagi sebelum beranjak ke dapur adalah menelepon anak sulungnya yang selalu bangun jam setengah lima pagi untuk joging.
Kali ini cukup lama putranya mengangkat telepon darinya, bahkan hingga ia harus mengulangi panggilannya hingga tiga kali.
"Tumben, nggak diangkat.." gumamnya dengan perasaan yang tidak enak, takut kalau putranya ada apa-apa
Namun tak lama Andra akhirnya mengangkat teleponnya.
"Iya ma, pagi ..."
Dahinya mengernyit karena suara Andra bukan sedang berada di luar ruangan, tetapi tampak sedang berada di dalam mobil. Apalagi setelah terdengar suara mobil yang dimatikan.
"Pagi mas..lagi joging ya?" selidiknya.
"Ehhhmm..iiyy..."
"Eehhmmm..siapa?"
Belum selesai putranya menjawab pertanyaannya, terdengar suara seoarang perempuan yang sedang terbangun dari tidurnya. Sungguh ia yakin, tidak salah dengar untuk kali ini.
"Mas..? Kamu lagi dimana sih ?" tanyanya tetap dengan nada yang tenang, walaupun dengan perasaan yang penuh dengan tanda tanya.
Ia dan Harsa sangat mengenal putranya, Andra memang bukanlah laki-laki yang memiliki jalan lurus. Bahkan ia dan suaminya sempat memergoki ada seorang perempuan menginap di rumah putranya, namun ia tahu siapa gadis itu. Sedangkan saat ini, Andra sama sekali tidak pernah bercerita tentang seorang perempuan setelah putus dari pacarnya kemarin.
"Ehmm..maaf ma, nanti aku telepon lagi ya ma..Bye ma.."
__ADS_1
Panggilan itu terputus begitu saja, justru semakin membuatnya bertanya-tanya. Ia justru takut kalau sampai Andra jajan di luar dengan sembarang wanita. Ia langsung bergidik ngeri mebayangkan hal itu.
Lengan suaminya tiba-tiba melingkar di perutnya dengan posisinya yang masih duduk di tepi ranjang membelakangi suaminya.
"Pagi sayang..kenapa sih?"
Ia masih termenung, sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga tak menghiraukan suaminya.
"Andra kenapa sayang?" akhirnya ia tersadar dari lamunannya.
Dengan sedikit terperanjat karena tersadar dari lamunannya, ia menengok ke belakang dan menatap wajah suaminya yang masih memejamkan mata.
"Anakmu itu lho, pagi-pagi udah sama cewek. Siapa lagi cewek itu? Mana suaranya kelihatan habis dari bangun tidur."
Harsa masih tetap memejamkan mata dan memeluk pinggangnya,
"Udah biarin aja, udah hampir 27 tahun, udah bisa nentuin sendiri hidupnya."
"Udah..nggak usah ke dapur, mau ngapain sih ke dapur? Anak-anak juga udah pada pergi, aku juga libur." gumam suaminya sembari menariknya kembali berbaring di ranjang.
"Iiihh...maaass ..akkk.." ucapannya terpotong dengan sebuah bisikan yang masih memabukkan dari lelaki berusia lebih dari separuh abad.
"Aku kangen..."
Kata "kangen" yang dimaksud Harsa selalu memiliki arti lain. Walaupun mereka sudah tak muda lagi, tapi Harsa dan dirinya selalu masih mampu menjaga romantisme mereka berdua.
................
Jakarta,
__ADS_1
Andra
Mau tidak mau ia membawa pulang gadis bernama Raya ini ke rumahnya, karena ia tidak mungkin meninggalkan gadis itu kembali di pinggir jalan seorang diri, walaupun tanda matahari terbit pun sudah mulai kelihatan.
Ia memarkirkan mobil sedan hitam itu di halaman rumahnya. Matanya masih menatap Raya yang pulas tertidur, sudah jelas pasti ia harus menggendong perempuan ini sampai ke dalam rumah.
Beruntung rumahnya masih memiliki pagar, jadi tidak terlihat oleh tetangga sekitar. Menggendong perempuan dalam keadaan tidur apalagi mabuk, sudah dipastikan ia dikira "membungkus" seorang gadis. Padahal hal itu sama sekali tidak pernah ia lakukan.
Saat ia menggendong Raya, gadis itu membuk matanya dan tersenyum ke arahnya.
"Hai sayang, ganteng banget sih kamu.." Raya mulai melantur sembari mengelus rahangnya.
Baru berjalan memasuki rumahnya, tak lama Raya mengeluarkan isi perut dan mengenai bajunya yang sudah basah terkena cipratan air. Ia kembali mendengus, setelah dengan apa yang semua terjadi dan Raya kembali tertidur pulas.
"Dasar merepotkan..!"
Bukan hanya bajunya, melainkan dress Raya yang berwarna putih pun juga basah dan kotor. Rumah ini tidak memiliki pembantu yang tinggal, ia hanya memanggil jasa pembantu yang bekerja di rumah papanya apabila dibutuhkan. Jadi, siapa lagi yang akan melepas dan menggantikan baju Raya selain dirinya.
Pikiran-pikiran kotor pun berusaha ia singkirkan saat melepas dan mengganti pakaian Raya. Bagaimanapun ia lelaki normal, tubuh molek nan putih terpampang secara cuma-cuma di hadapannya.
Dengan telaten ia mengganti baju Raya dengan kaosnya yang kebesaran di badan Raya dan gadis itu sekarang tidak memakai bawahan. Ia menutupi tubuh itu dengan selimut.
Tak lama handphone nya berbunyi, ternyata ia harus ke kantornya pagi ini. Namun ia memilih, menyiapkan sarapan dulu untuk gadis yang tidak ia kenal ini.
Otak jahilnya pun muncul untuk mengerjai Raya.
*Thankyou for tonight Raya! Aku ngantor dulu, kamu nggak boleh keluar rumah ini sebelum aku balik. Mobil dan handphone kamu, aku bawa buat jaminan biar kamu nggak melarikan diri. Rumah juga aku kunci dari luar. Ini sarapan buat kamu, dimakan dulu biar kamu ada tenaga lagi. Di kulkas juga banyak makanan, ambil aja kalau aku belum pulang. Have a nice day baby..!
-Andra*-
__ADS_1
Bibirnya tersenyum membayangkan respon Raya saat bangun di rumah yang tidak dikenali dalam keadaan setengah telan-jang dan ditambah membaca tulisan ini.
......................